Sun. Jan 18th, 2026

Diverent Mind, Strategi Pikiran Menyimpang ala Made Romi

Di tengah kecenderungan dunia seni rupa yang sering menuntut konsistensi gaya visual sebagai identitas pasar, pameran tunggal Diverent Mind justru bergerak ke arah sebaliknya. Melalui pameran ini, I Made Romi Sukadana menegaskan satu sikap penting: bahwa seni tidak selalu harus berjalan lurus, rapi, dan mudah dikenali. Pikiran yang menyimpang—dalam arti kreatif—justru bisa menjadi fondasi yang paling jujur dalam berkarya.

Pameran yang digelar di Griya Santrian, Sanur, Jumat (9/1/2026) ini menghadirkan rangkaian karya lintas pendekatan visual: realisme hiper, simbolisme pop, figuratif naratif, hingga lanskap abstraktif. Sekilas, gaya-gaya ini tampak berubah-ubah. Namun ketika dibaca lebih dalam, perubahan tersebut bukanlah tanda kebingungan, melainkan metode berpikir yang disengaja.

Dalam praktik berkarya Romi Sukadana, gaya visual tidak diperlakukan sebagai identitas tetap, melainkan sebagai alat baca. Setiap tema menuntut bahasa visualnya sendiri. Ketika berbicara tentang absurditas logika modern, ia menghadirkan objek-objek realistis yang dipelintir dari hukum alam, seperti paus yang melayang di langit atau mobil yang berdiri terbalik di tengah jalan lurus. Realisme di sini tidak bertugas menenangkan, tetapi justru mengganggu cara pandang penonton.

Sebaliknya, saat menyentuh isu kuasa, identitas, dan simbol sosial, Romi memilih pendekatan yang lebih sunyi dan konseptual. Mahkota diletakkan di atas bantal tanpa kepala. Kuasa dan kebijaksanaan dipisahkan dari tubuh manusia. Simbol-simbol itu menjadi benda kosong yang menunggu makna, bukan lagi atribut yang otomatis diagungkan.

“Dengan perubahan gaya ini saya ingin menunjukkan bahwa saya bukan perupa yang bekerja berdasarkan satu ‘tampilan khas’, tetapi pekerja seni yang bergerak dari satu pertanyaan ke pertanyaan lain,” ujarnya.

Pernyataan yang menegaskan bahwa Romi adalah perupa yang berbasis cara berpikir, bukan berbasis gaya.

Membongkar Simbol, Mengganggu Kenyamanan
Benang merah yang konsisten dalam Diverent Mind adalah kecenderungan untuk membongkar simbol-simbol mapan. Pahlawan, raja, surga, eksotisme, bahkan Bali itu sendiri—semuanya tidak dihadirkan sebagai citra yang utuh dan nyaman. Dalam karya-karya seperti Exotic Bali dan The Lost Exoticism of Bali, Romi memperlihatkan bagaimana eksotisme perlahan kehilangan tubuh dan konteksnya. Yang tersisa hanyalah atribut, ornamen, dan citra kosong.

Pendekatan ini terasa relevan dengan situasi ekosistem kreatif hari ini, ketika simbol budaya sering direproduksi tanpa pemahaman mendalam. Romi tidak menolak simbol, tetapi mengajak kita berhenti sejenak untuk bertanya: apa yang sebenarnya masih hidup di balik simbol-simbol itu?

Menariknya, pameran ini juga memberi ruang bagi karya-karya lanskap dan abstraksi alam. Di sini, Romi menanggalkan figur dan narasi eksplisit. Warna, tekstur, dan ritme menjadi bahasa utama. Alam tidak diposisikan sebagai objek romantik, melainkan sebagai ruang jeda—tempat pikiran yang divergen menemukan keseimbangan sementara.

Peralihan dari figur ke lanskap ini memperkuat kesan bahwa Diverent Mind bukan pameran tematik tunggal, melainkan peta perjalanan mental seorang perupa. Dari kegelisahan sosial, ironi modern, hingga kebutuhan akan keheningan, semuanya hadir sebagai bagian dari satu kesadaran yang utuh.

Memilih jalur seperti ini tentu tidak tanpa risiko. Pasar seni kerap menginginkan konsistensi visual yang mudah dikenali. Namun Romi Sukadana justru mengambil posisi sebaliknya. Ia tidak ingin dikenali lewat satu gaya, melainkan lewat satu sikap: keberanian untuk berpikir menyimpang, mempertanyakan simbol mapan, dan menolak kenyamanan estetik yang terlalu cepat selesai.

Dalam konteks pengembangan ekosistem seni dan ekonomi kreatif, pameran Diverent Mind menjadi pengingat penting bahwa inovasi tidak selalu lahir dari penyeragaman. Justru dari keberanian untuk berbeda, untuk menyimpang secara sadar, lahir karya-karya yang membuka dialog baru antara seniman, ruang, dan publik.

Pameran ini tidak menawarkan jawaban tunggal. Ia menawarkan ruang berpikir. Dan di situlah kekuatannya.** [bekraf/agung bawantara]

By Bekraf

Related Post