Catatan Agung Bawantara
Di atas bidang hijau toska yang lapang, sebuah bunga putih besar mekar seperti pusat dunia. Kelopaknya terbuka lebar, namun yang tampak di dalamnya bukan putik, melainkan tubuh manusia yang meringkuk seperti janin. Ia diam, tertutup, seolah berada dalam jeda sebelum lahir kembali.
Di sekeliling bunga itu hadir harimau dengan garis oranye tegas, gajah dengan belalai melengkung, rusa yang lembut, sapi yang tenang, dan seekor burung yang berada di bagian atas komposisi. Di sela-sela bentuk organik yang saling beririsan, wajah-wajah manusia muncul tanpa dominasi. Semua figur berdempetan, tidak ada latar jauh, tidak ada ruang kosong yang netral. Garis-garis kontur tipis mengikat mereka dalam satu jaringan visual yang rapat.
Lukisan ini adalah karya I Wayan Suastama berjudul Metamorfosis (150 x 130 cm – acrilic on canvas). Apa yang kita lihat bukanlah adegan dengan awal dan akhir yang jelas, melainkan sebuah keadaan. Sebuah ruang batin di mana manusia, hewan, dan alam hadir dalam kesatuan yang tak terpisahkan. Bunga putih itu bukan sekadar ornamen, melainkan simbol rahim atau pusat pertumbuhan. Sosok manusia di dalamnya bukan tertidur, tetapi sedang berada dalam proses.
Metamorfosis sebagai Kesadaran
Judul Metamorfosis dalam karya ini tidak merujuk pada perubahan bentuk yang kasat mata. Tidak ada transformasi tubuh yang dramatis. Yang berubah adalah cara manusia ditempatkan dalam kosmos.
Manusia di dalam bunga tidak berdiri sebagai pusat kuasa. Ia berada di antara harimau, gajah, rusa, sapi, dan burung. Ia menjadi bagian dari jaringan yang sama. Harimau dapat dibaca sebagai naluri dan energi purba. Gajah sebagai ingatan dan kebijaksanaan. Rusa sebagai kepekaan. Sapi sebagai kesuburan dan ketekunan. Burung sebagai jembatan menuju dimensi spiritual. Wajah-wajah manusia adalah refleksi kesadaran yang mencoba memahami keseluruhan itu.
Metamorfosis di tangan Suastama adalah integrasi. Sebuah perjalanan batin untuk menyatukan naluri, memori, kelembutan, dan kesadaran dalam satu kesadaran utuh.
Jika dibandingkan dengan karya-karya lainnya dalam praktik visual sang perupa, Metamorfosis terasa lebih meditatif dan terpusat. Pada karya-karya lain, komposisi sering lebih dinamis dan berlapis, dengan figur-figur yang bergerak dalam kepadatan naratif yang lebih kompleks. Dalam lukisan ini, meskipun elemen tetap padat, pusat perhatian jelas berada pada bunga dan sosok manusia di dalamnya. Energi visualnya lebih terkumpul, lebih hening.
Perubahan yang ditawarkan bukanlah peristiwa dramatis, melainkan kesadaran yang tumbuh perlahan. Metamorfosis di sini adalah proses kembali memahami bahwa manusia adalah bagian dari jaringan kehidupan yang utuh dan saling terhubung. []
TENTANG WAYAN SUASTAMA
Wayan Suastama lahir di Lalanglinggah, Tabanan, Bali, pada tahun 1972. Ia merupakan alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Bali dan telah aktif berpameran sejak 1995, baik di tingkat lokal maupun internasional. Dalam perjalanan kariernya, ia pernah menjadi finalis Philip Morris Art Award (2000) dan berpartisipasi dalam Bali Megarupa (2019).
Karya-karyanya banyak terinspirasi oleh filosofi tradisional Bali, seperti konsep Hulu–Teben, serta dinamika budaya dan kehidupan masyarakat Bali. Dengan gaya figuratif simbolik yang khas dan eksplorasi tema yang konsisten, Suastama dikenal sebagai salah satu pelukis kontemporer Bali yang memiliki identitas visual kuat dan patut diperhitungkan.
