Ulasan Agung Bawantara
Kanvas itu pertama-tama menyambut mata dengan ruang biru yang luas. Biru hadir dalam gradasi—kehijauan, tua, hingga kehitaman—membentuk kesan lapang dan berjarak. Namun ruang itu bukan bidang bersih. Ia tampak sebagai dinding tua yang berjamur, lembap, berusia, penuh bercak dan noda. Jamur-jamur itu tidak hadir sebagai kerusakan semata, melainkan sebagai aksen ornamentatif: warna-warna mencolok—hijau terang, kuning, oranye—menggurat seperti ornamen Bali yang tumbuh organik di permukaan dinding. Lapang, tetapi tidak kosong; luas, namun sarat jejak.
Di dalam ruang biru itu, elemen-elemen visual bertumpuk: gading gajah purba melengkung besar dengan pepatran organik bergigi runcing; figur wayang kulit Krishna berdiri terpisah dari gading, dari tangannya keluar bentuk menyerupai tali pusar atau usus yang melilit patung batu punakawan Tualen yang menyembah ke arah krisna. Tali pisar atau usus itu memanjang juga dengan pepatran organik sebagaimana yang terlihat pada gading, dan berujung jauh di luar bidang yang tampak pada kanvas.
Di sisi lain, Legong Kraton membawa kipas, berdiri anggun namun menginjak wajan berisi batu-batu dan kabel. Di sekelilingnya berserak wajan-wajan lain yang “menggoreng” batu, artefak candi dan relief, arsip dan buku tua, kliping koran yang ditindih batu kecil, bangunan beton mangkrak dengan besi-besi runcing, serta kabel-kabel besar berpilin yang melintang horizontal di bagian atas kanvas—seperti lapisan pembatas yang memisahkan dunia bawah dan lapisan atas yang lebih pekat dan misterius.
Itulah kesan pertama menyaksikan lukisan “Wajan Kesetiaan” (Oil on Canvas, 140×140 cm – 2003) karya perupa I Wayan Redika.
Secara teknis, Redika bekerja dengan ketelitian realis-surealis. Komposisi memanfaatkan lengkung organik sebagai poros, memisahkan sekaligus menghubungkan ruang-ruang makna. Pencahayaan teatrikal menegaskan kontras: proses dan beban di satu sisi, performa dan tampilan di sisi lain. Tekstur batu, logam, kertas, kulit samak hingga jamur ditangani sebagai bahasa, bukan dekorasi. Semua terasa dirancang, padat, dan berlapis, tanpa perlu dijelaskan secara verbal.
Namun kekuatan karya ini tidak berhenti pada keterampilan. “Wajan Kesetiaan” bekerja sebagai pernyataan batin. Wajan yang merupakan alat kerja yang panas, berulang, dan tak heroik menjadi wadah bagi sesuatu yang mustahil dimasak: batu dan kabel. Ia berbicara tentang kerja yang terus dijalani meski hasilnya tak segera tampak, tentang kesetiaan sebagai laku sunyi, bukan slogan. Tali pusar/usus yang keluar dari Krishna dan menyaput Tualen mengikat asal-usul dengan dunia material; pepatran pada gading dan bentuk organik tali itu menyatu dalam satu bahasa tubuh purba. Legong yang anggun berdiri di atas beban, bukan di panggung kosong—sebuah citra tentang pertunjukan yang berdiri di atas kerja keras yang jarang terlihat.
Konteks kekinian memberi lapisan tambahan. Saat lukisan ini diunggah di akun media sosial miliknya sendiri, I Wayan Redika tengah gelisah menyaksikan ramainya pro–kontra soal hari pelaksanaan Nyepi. Di satu sisi, I Wayan Koster menyatakan bahwa selama bertahun-tahun Nyepi dilaksanakan pada hari yang keliru; di sisi lain, para ahli Hindu Bali dan ahli lontar menegaskan bahwa pelaksanaan tersebut sudah tepat. Bagi Redika, kegelisahan bukan semata pada perbedaan tafsir, melainkan pada energi kolektif yang tersedot ke perdebatan simbolik, sementara banyak persoalan Bali yang lebih mendesak—lingkungan, ruang hidup, kerja, dan keberlanjutan—menunggu perhatian bersama.
Di titik inilah lukisan ini terasa relevan. Ia tidak berteriak, tidak menghakimi. Ia menahan suara, menumpuk benda, dan membiarkan penonton merasakan beratnya. Ruang biru yang lapang tetapi lembap itu seperti mengingatkan: kita punya ruang untuk bernapas, tetapi dindingnya menyimpan jamur—tanda waktu, pengabaian, dan pekerjaan rumah yang tertunda. “Wajan Kesetiaan” menjadi catatan visual tentang prioritas, tentang memilih bekerja pada fondasi, bukan sekadar memenangi perdebatan. Sebuah IP Story tentang Bali hari ini: kaya simbol, sarat sejarah, dan membutuhkan kesetiaan yang tenang untuk menyelesaikan hal-hal yang benar-benar mendesak. []
TENTANG SANG PERUPA
I Wayan Redika lahir di Desa Ababi, Karangasem, Bali, pada 16 Juni 1961. Ia dikenal sebagai perupa sekaligus penyair yang konsisten mengembangkan praktik artistik lintas medium antara seni rupa dan sastra.
Dalam bidang seni rupa, Redika telah menggelar sejumlah pameran tunggal, di antaranya Ancient Relief di Ganesha Gallery, Four Seasons Resort, Bali (2000), serta Exceptional Person di Bentara Budaya Bali (2013). Sejak akhir 1990-an, ia juga aktif berpartisipasi dalam berbagai pameran bersama, baik di dalam maupun luar negeri, termasuk di Hilton International Hotel Surabaya (1998), Bentara Budaya Jakarta (2001), pameran Bali–Jeju di Jeju-Do Culture Building, Korea Selatan (2005), Beijing Art Fair, Tiongkok (2006), Art in Unity di Le Mer Gallery, Seoul (2010), serta Bali on the Move di Tony Raka Gallery, Ubud (2013), dan sejumlah pameran lainnya.
Di bidang sastra, Redika telah menerbitkan sebuah buku kumpulan puisi berjudul Ayat-Ayat Sesat Kaum Kiri (Penerbit Prasasti, 2021), yang menegaskan posisinya sebagai seniman dengan perhatian kuat pada refleksi sosial, kultural, dan eksistensial.
