Oleh: Ari SW – Ketua Harian Bkraf Denpasar, Ketua DPW Gekrafs Bali
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, ekonomi kreatif Indonesia justru memperlihatkan daya tahan yang menjanjikan. Ketika banyak sektor menghadapi tekanan akibat konflik geopolitik, inflasi, dan perubahan teknologi yang begitu cepat, ekonomi kreatif menunjukkan bahwa gagasan, kreativitas, dan inovasi dapat menjadi sumber pertumbuhan baru bagi bangsa.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada tahun 2025 sektor ekonomi kreatif telah menyerap 27,4 juta tenaga kerja atau sekitar 18,7 persen dari total tenaga kerja nasional. Angka ini melampaui target yang ditetapkan pemerintah dan memperlihatkan bahwa ekonomi kreatif telah menjadi ruang yang penting bagi penciptaan lapangan kerja, terutama bagi generasi muda. Lebih dari separuh pekerja ekonomi kreatif berusia di bawah 40 tahun.
Kontribusi ekonomi kreatif terhadap perekonomian nasional juga terus meningkat. Nilai Produk Domestik Bruto (PDB) ekonomi kreatif pada tahun 2024 mencapai Rp1.611,2 triliun atau sekitar 7,28 persen dari PDB nasional. Pertumbuhan sektor ini bahkan melampaui pertumbuhan ekonomi nasional. Di bidang ekspor, ekonomi kreatif berhasil mencatat nilai ekspor sebesar 26,68 miliar dolar AS pada Januari-Oktober 2025 atau hampir 12 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia.
Capaian tersebut tentu patut disyukuri. Namun, di balik angka-angka yang menggembirakan itu, kita juga perlu jujur melihat bahwa ekonomi kreatif Indonesia masih menghadapi tantangan besar. Sebagian besar pelaku ekonomi kreatif masih bergerak pada skala mikro dan kecil. Banyak yang memiliki kreativitas luar biasa, tetapi belum memiliki akses pembiayaan, pasar, teknologi, maupun perlindungan kekayaan intelektual yang memadai.
Karena itu, saya melihat bahwa Gekrafs Indonesia memiliki peran yang semakin strategis. Gekrafs tidak cukup hanya menjadi ruang pertemuan antar komunitas kreatif. Gekrafs perlu berkembang menjadi ekosistem yang mampu menghubungkan pelaku kreatif dengan dunia usaha, lembaga keuangan, pemerintah, perguruan tinggi, hingga investor. Kreativitas harus bertemu dengan pasar, dan ide-ide harus mampu menjadi usaha yang berkelanjutan.
Kita juga perlu mulai menggeser orientasi dari sekadar menciptakan produk menuju penciptaan kekayaan intelektual. Masa depan ekonomi kreatif bukan hanya soal menjual barang, tetapi juga membangun merek, desain, lisensi, hak cipta, karakter, film, musik, permainan digital, dan berbagai bentuk aset intelektual yang dapat menghasilkan nilai ekonomi dalam jangka panjang.
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence juga harus dipandang sebagai peluang, bukan ancaman. AI akan membuat produksi konten menjadi semakin mudah. Tetapi yang tidak dapat digantikan oleh mesin adalah perspektif manusia, pengalaman budaya, jejaring komunitas, dan kepercayaan yang dibangun oleh para kreator. Karena itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia harus menjadi agenda utama.
Saya juga berharap Gekrafs Indonesia semakin memperkuat kolaborasi antar daerah. Setiap daerah memiliki kekuatan yang berbeda. Bali memiliki budaya dan pariwisata, Yogyakarta memiliki ekosistem pendidikan dan seni, Bandung memiliki desain dan fesyen, Jawa Timur memiliki industri kreatif berbasis manufaktur, sementara berbagai daerah lain memiliki potensi yang tidak kalah besar. Kolaborasi antardaerah akan melahirkan ekosistem nasional yang jauh lebih kuat daripada jika masing-masing berjalan sendiri-sendiri.
Di era sekarang, ukuran kemajuan suatu bangsa tidak lagi semata ditentukan oleh kekayaan sumber daya alamnya. Negara-negara yang berhasil adalah negara-negara yang mampu mengubah kreativitas manusia menjadi kekuatan ekonomi. Indonesia memiliki modal budaya, keberagaman, dan talenta yang luar biasa. Modal ini jauh lebih besar daripada yang sering kita sadari.
Karena itu, saya percaya ekonomi kreatif bukan sekadar sektor pelengkap. Ia adalah investasi masa depan. Dan saya berharap Gekrafs Indonesia terus menjadi rumah bersama yang mampu menghubungkan kreativitas dengan peluang, komunitas dengan industri, serta gagasan dengan kesejahteraan.[]
