Membaca Seri Ketawang–Lekhya karya Wayan Sujana (Suklu)
Catatan Agung Bawantara
Di salah satu dinding ruang pamer Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, sebelas lukisan karya I Wayan Sujana—yang lebih dikenal dengan nama Suklu—dipasang dalam susunan yang tenang dan sederhana. Sepuluh lukisan dengan ukuran serupa ditempatkan dalam dua baris, sementara satu lukisan lainnya berada di sisi kanan dengan bingkai yang berbeda. Dari kejauhan, susunan ini tampak seperti kumpulan karya yang berdiri sendiri. Namun ketika dilihat lebih lama, muncul kesan bahwa seluruh lukisan tersebut sebenarnya saling berkaitan. Seri ini diberi judul “Ketawang–Lekhya.”
Itu adalah satu bagian dari Pameran Seni Internasional Bali Padma Bhuwana VI – Bali Bhuwana Rupa (Global–Bali Art & Design Exhibition), yang mengusung tema “Adhi Jnana Astam: Mastery – Mind – Marvel.” Pameran yang menghadirkan sekitar 180 seniman dan desainer dari berbagai negara, antara lain Indonesia, Malaysia, Jepang, Korea Selatan, Polandia, Australia, dan Amerika Serikat itu diselenggarakan oleh Institut Seni Indonesia (ISI) Bali bekerja sama dengan ARMA sebagai bagian dari rangkaian program Bali Padma Bhuwana VI. Pameran dikuratori Jeon Dongsu, Arif Bagus Prasetyo, dan Warih Wisatsana, dan secara resmi dibuka oleh Mohd Asri Bin Abdul Ghafar, maesenes seni dari Malaysia pada Senin, 23 Februari 2026, malam.
Tentang “Ketawang–Lekhya, judul tersebut mengandung dua kata yang berasal dari tradisi yang berbeda. Ketawang dikenal dalam musik gamelan Jawa sebagai bentuk komposisi yang bergerak dalam pola ritmis yang berulang. Ia tidak menonjolkan perubahan dramatis, melainkan bergerak dalam siklus bunyi yang tenang dan teratur. Sementara itu kata lekhya, yang berasal dari bahasa Sanskerta, merujuk pada sesuatu yang diguratkan atau dituliskan. Jika kedua kata itu dipertemukan, maka seri ini dapat dibaca sebagai semacam catatan visual yang lahir dari ritme batin.
Namun gagasan seri ini tidak hanya berasal dari referensi musikal tersebut. Suklu menjelaskan bahwa lukisan-lukisan ini lahir sebagai respons terhadap puisi “Ketawang” karya Hartanto Yudhoprasetyo. Puisi tersebut berbunyi:
Kau, yang berhening di ruang bening
Memetik dawai rajutan rahasia jiwa,
Mengapa kau nyanyikan lagu purbani
tentang kelahiran dan kematian
ketika gerimis hadirkan tanda lewat pelangi.
Penuh cahaya dan warna
tanpa api
membakar tepi hati
Disana, tersimpan cahaya kebenaran,
Cerita matahari dan rembulan.

Puisi ini tidak menyampaikan cerita yang konkret. Ia lebih menyerupai renungan yang bergerak pelan. Sejak baris pertama sudah terasa suasana hening yang kuat. Puisi tersebut berbicara tentang seseorang yang berada dalam ruang bening, memetik dawai rahasia jiwa, dan menyanyikan lagu purba tentang kelahiran dan kematian.
Ketika membaca puisi tersebut, Suklu tidak mencoba menerjemahkannya secara ilustratif. Ia tidak menggambar adegan yang terdapat dalam puisi. Sebaliknya, ia membiarkan puisi itu bekerja sebagai pemicu suasana batin. Dari suasana itulah proses melukis berkembang.
Dalam banyak bagian seri ini, kita dapat melihat bahwa yang muncul di kanvas bukanlah cerita puisi, melainkan jejak pengalaman yang lebih bebas. Garis, warna, dan figur muncul seperti hasil dari proses yang berlangsung berlapis-lapis.
Permukaan kanvas memperlihatkan banyak goresan yang tidak selalu rapi atau final. Ada garis yang seolah ditarik cepat, ada pula yang tampak seperti digosok atau dihapus sebagian. Di beberapa bagian terlihat lapisan warna yang tipis, seakan-akan menutup bentuk sebelumnya tanpa sepenuhnya menghilangkannya. Hal ini memberi kesan bahwa setiap lukisan bukan hanya hasil akhir, tetapi juga menyimpan jejak proses yang panjang.
Jejak Goresan dan Kehadiran Figur
Ketika melihat setiap lukisan dalam seri ini secara lebih dekat, hal pertama yang terasa adalah dominasi garis-garis yang bergerak bebas. Garis tersebut tidak selalu membentuk objek dengan jelas. Sebagian hanya berfungsi sebagai arah gerak yang memberi energi pada ruang.
Di beberapa kanvas, garis-garis ini tampak seperti pusaran. Pada yang lain, ia muncul sebagai bidang yang menumpuk dan saling menindih. Teknik ini membuat ruang lukisan terasa tidak sepenuhnya stabil. Permukaan kanvas seolah selalu bergerak.
Warna yang digunakan cenderung terbatas. Sebagian besar lukisan didominasi oleh palet yang relatif tenang: cokelat tanah, abu-abu, krem, dan hitam. Sesekali muncul warna yang lebih terang, tetapi tidak pernah terlalu mencolok. Pilihan warna seperti ini memberi suasana yang cenderung sunyi dan reflektif.
Di antara lapisan garis dan warna tersebut muncul figur manusia. Figur-figur ini tidak digambarkan secara detail. Mereka lebih menyerupai siluet atau bayangan. Dalam beberapa lukisan, bentuk tubuh hampir menyatu dengan latar belakangnya.
Ada figur yang tampak membaca buku di tengah ruang yang dipenuhi bunga lotus. Ada figur yang memanggul batu besar. Ada pula yang berdiri di depan piano dengan sebuah jam di dekatnya. Dalam lukisan lain, figur tampak bergerak di tengah garis-garis yang berkelindan.

Hal yang menarik adalah bahwa figur-figur tersebut tidak ditempatkan dalam ruang yang realistis. Tidak ada lanskap yang jelas. Tidak ada interior yang lengkap. Yang ada adalah ruang yang terasa samar—kadang seperti kabut, kadang seperti bidang kosong yang dilapisi warna tipis.
Ruang seperti ini membuat figur manusia tampak berada di wilayah yang tidak sepenuhnya fisik. Mereka tidak terlihat berada di tempat tertentu. Mereka lebih menyerupai tubuh yang sedang berada dalam keadaan batin tertentu.
Dalam beberapa lukisan, figur tampak aktif: membaca, memainkan musik, atau bergerak. Dalam lukisan lain, tubuh tampak lebih berat, seperti pada figur yang memanggul batu besar. Perbedaan ini memberi kesan bahwa seri ini tidak mencoba menyampaikan satu situasi yang sama, tetapi menghadirkan berbagai keadaan pengalaman manusia.
Simbol-simbol yang muncul juga tidak dijelaskan secara langsung. Batu, bunga lotus, jam, atau piano muncul begitu saja sebagai bagian dari komposisi. Kita bisa saja mengaitkannya dengan makna tertentu. Misalnya beban kehidupan, pencarian pengetahuan, atau waktu. Namun lukisan-lukisan ini tidak memaksakan tafsir tersebut. Yang lebih terasa adalah bahwa simbol-simbol itu hadir sebagai bagian dari suasana, bukan sebagai pesan yang harus dibaca secara tunggal.
Ritme Visual dalam Penyusunan Seri
Sepuluh lukisan utama dalam seri ini dipasang dalam dua baris yang masing-masing berisi lima karya. Penataan ini mungkin saja merupakan keputusan praktis dalam ruang pamer, karena ukuran lukisan yang seragam memang sering menghasilkan susunan grid seperti itu.
Namun susunan tersebut tetap menciptakan pengalaman melihat yang menarik. Ketika seseorang berdiri di depan dinding tersebut, mata cenderung bergerak dari kiri ke kanan mengikuti baris pertama, lalu turun ke baris berikutnya. Dengan cara ini, pengunjung secara alami melihat lukisan-lukisan itu sebagai rangkaian yang berurutan.
Dalam beberapa lukisan di sisi kiri, garis dan ruang tampak lebih padat. Energi visual terasa lebih kuat. Garis-garis saling bertumpuk dan membentuk pusaran yang cukup intens. Figur manusia muncul di tengah kepadatan tersebut, kadang tampak seperti sedang bergerak.
Menuju bagian tengah susunan, figur menjadi lebih jelas. Objek seperti buku, bunga lotus, atau piano mulai muncul. Adegan-adegan ini memberi kesan bahwa manusia sedang berinteraksi dengan dunia di sekitarnya: membaca, memainkan musik, atau memikul sesuatu.
Pada beberapa lukisan lainnya, ruang menjadi lebih terbuka. Garis masih hadir, tetapi tidak lagi sepadat sebelumnya. Warna juga terasa lebih ringan.
Perubahan-perubahan kecil ini tidak membentuk cerita yang eksplisit. Namun jika dilihat secara keseluruhan, kita dapat merasakan adanya pergeseran suasana dari satu lukisan ke lukisan lain. Pergeseran tersebut mungkin tidak dirancang sebagai narasi yang ketat, tetapi ia tetap menciptakan pengalaman melihat yang bergerak perlahan.
Dalam konteks ini, judul Ketawang terasa relevan. Dalam musik gamelan, ketawang bergerak melalui pengulangan ritmis yang perlahan. Setiap bagian tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari siklus bunyi yang lebih luas. Demikian pula seri lukisan ini. Setiap kanvas memiliki karakter yang berbeda, tetapi ketika ditempatkan bersama, mereka menciptakan hubungan visual yang saling mengisi.
Lukisan sebagai Partitur Kesadaran
Di sisi kanan susunan sepuluh lukisan tersebut terdapat satu karya lain yang ditempatkan terpisah. Lukisan ini memiliki bingkai yang berbeda dan tidak berada dalam grid yang sama. Kehadirannya membuat karya tersebut terasa seperti penutup dari rangkaian sebelumnya.
Jika diperhatikan lebih dekat, bentuk utama dalam lukisan ini tidak lagi menyerupai figur manusia. Komposisinya lebih sederhana dan mengarah pada bentuk yang menyerupai sebuah gelas atau bejana transparan. Di dalam bentuk tersebut tampak ruang yang dipenuhi kabut atau cahaya lembut.
Setelah melihat sepuluh lukisan sebelumnya yang dipenuhi garis dan figur, kemunculan bentuk ini terasa berbeda. Ia lebih sederhana dan lebih tenang.
Gelas adalah objek yang secara alami berkaitan dengan transparansi. Ia tidak menutupi apa yang ada di dalamnya, tetapi memperlihatkannya. Dalam lukisan ini, gelas tersebut tampak seperti wadah yang menampung ruang yang samar.
Kita tidak melihat cairan atau benda padat di dalamnya. Yang ada justru ruang yang tipis dan ringan.
Kehadiran bentuk ini dapat dibaca sebagai perubahan dari figur menuju wadah. Jika dalam lukisan-lukisan sebelumnya tubuh manusia tampil sebagai aktor yang bergerak dan mengalami berbagai situasi, maka pada karya terakhir ini yang tersisa justru ruang yang menampung pengalaman tersebut.

Interpretasi seperti ini tentu tetap bersifat terbuka. Lukisan ini tidak memberikan petunjuk yang terlalu jelas. Namun posisinya yang terpisah dan bentuknya yang lebih sederhana membuatnya terasa seperti resonansi terakhir dari keseluruhan seri.
Dalam musik gamelan, khususnya dalam struktur ketawang, komposisi biasanya berakhir dengan bunyi gong yang menandai berakhirnya satu siklus. Bunyi itu tidak selalu keras. Kadang justru lembut. Namun ia memberi tanda bahwa rangkaian bunyi sebelumnya telah mencapai titik hening.
Dalam seri lukisan Suklu, karya kesebelas ini memberi kesan yang serupa. Ia tidak menghadirkan adegan baru atau simbol yang lebih kompleks. Ia justru menghadirkan bentuk yang lebih sederhana.
Setelah perjalanan visual melalui figur, garis, dan simbol dalam sepuluh lukisan sebelumnya, seri ini berakhir dengan sebuah bentuk yang menyerupai wadah. Sebuah ruang yang tampak tenang. Dalam ruang itu, puisi yang semula berupa kata-kata seakan berubah menjadi pengalaman yang lebih sunyi—sesuatu yang tidak lagi dibaca, tetapi dirasakan.[]
TENTANG WAYAN SUJANA SUKLU
Lahir di Klungkung, 6 Februari 1967, dan bermukim di Banjarangkan, Klungkung, Bali. Ia merupakan dosen Seni Rupa di FSRD ISI Denpasar.
Sebagai perupa kontemporer, Sujana Suklu aktif berpameran tunggal dan kelompok di berbagai ruang seni nasional dan internasional. Pameran tunggal pentingnya antara lain Body and Time; Nawa Sena Conscience (TonyRaka Gallery, 2025), Monument of Trajectory (Komaneka Gallery, 2021), PANJI, Between Body and Shadow (IMF International Art Event, 2018), serta Wings and Time (Komaneka Fine Art Gallery, 2016).
Ia terlibat dalam berbagai proyek dan pameran seni berskala besar seperti Art Jakarta, Art Moment Bali, ARMA Ubud, Bentara Budaya, National Gallery Jakarta, Museum Pasifika, hingga pameran internasional virtual. Selain berkarya, ia juga aktif sebagai kurator sejak 2019, menangani sejumlah pameran seni rupa kontemporer.
Prestasinya mencakup penghargaan The Best 10 Philip Morris Asian Art Award (2003), pemenang Indofood Art Awards (2003), serta LIBAF Senggigi Lombok (2013). Di bidang tata artistik, ia kerap dipercaya sebagai scenographer untuk pameran dan peristiwa seni penting di Bali.
