Sun. Apr 19th, 2026

Kesalahan Pikir tentang EO (1) : Ketika Kritik Sistem Disederhanakan Menjadi Stigma Profesi

 

Oleh: Agung Bagus Mantra, CEO Pragina Showbiz Bali

 

Ada yang janggal ketika sebuah persoalan struktural dibingkai menjadi kesalahan satu profesi. Pernyataan Said Didu yang menyebut Event Organizer (EO) sebagai “ladang korupsi paling nyaman” bukan sekadar kontroversial, ia menunjukkan sebuah cara berpikir yang problematik: menyederhanakan sistem menjadi pelaku tunggal, dan kompleksitas menjadi stigma. Cara berpikir seperti ini sering terasa meyakinkan karena sederhana. Ia memberi kita musuh yang jelas, sasaran yang konkret, dan solusi yang tampak cepat: hentikan EO, maka persoalan selesai. Tetapi justru di situlah letak kesalahannya. Dalam praktik tata kelola publik, terutama dalam kegiatan berbasis anggaran negara, yang bekerja bukan satu profesi, melainkan sebuah sistem: perencanaan, penganggaran, pengadaan, pelaksanaan, hingga pengawasan. Ketika terjadi penyimpangan, yang perlu dibedah adalah sistem itu, bukan hanya permukaan yang terlihat.

EO, dalam konteks ini, hanyalah salah satu simpul dalam jaringan yang lebih besar. Ia bisa menjadi pelaksana teknis, bisa juga menjadi mitra kreatif. Ia bisa bekerja profesional, bisa juga terjebak dalam sistem yang tidak sehat. Menyebut EO sebagai sumber masalah sama seperti menyebut kamera sebagai penyebab buruknya film, atau panggung sebagai penyebab gagalnya pertunjukan. Yang menentukan kualitas bukan alatnya, melainkan bagaimana seluruh sistem bekerja.

Di sinilah kesalahan pikir itu menjadi berbahaya. Ketika profesi distigmatisasi, perhatian publik bergeser dari perbaikan sistem menuju pencarian kambing hitam. Kita berhenti bertanya tentang transparansi anggaran, standar harga, mekanisme tender, atau kualitas pengawasan. Kita justru sibuk memperdebatkan siapa yang salah secara moral, bukan bagaimana sistem diperbaiki secara struktural.

Padahal, jika ditarik lebih jauh, persoalan ini bukan hanya tentang EO. Ia adalah cerminan bagaimana kita memahami ekonomi kreatif itu sendiri. Dalam logika lama, kegiatan seperti event dipandang sebagai beban anggaran. Sesuatu yang bisa dipangkas demi efisiensi. Tetapi dalam logika baru, yang sering disebut sebagai orange economy, event adalah ruang produksi nilai: tempat ide bertemu publik, tempat budaya menjadi pengalaman, dan tempat ekonomi bergerak melalui kreativitas.

Di kota seperti Denpasar, kita melihat bagaimana event bukan sekadar acara. Ia menjadi medium yang menghidupkan ekosistem: seniman tampil, UMKM berjualan, komunitas berjejaring, dan kota membangun identitasnya. Di titik ini, EO bukan sekadar pelaksana, tetapi bagian dari infrastruktur kreatif, yang jika dikelola dengan baik, justru menciptakan nilai ekonomi yang berlipat.

Apakah berarti bebas dari masalah? Tentu tidak. Justru karena melibatkan anggaran publik, kegiatan event memang memiliki kerentanan: harga yang tidak standar, output yang sulit diukur, dan tekanan waktu yang tinggi. Tetapi sekali lagi, ini adalah persoalan desain sistem, bukan identitas profesi. Jika sistemnya longgar, siapa pun yang masuk ke dalamnya berpotensi menyimpang—baik EO, birokrat, maupun pihak lain yang terlibat.

Maka solusi yang masuk akal bukanlah menghapus EO, melainkan memperjelas aturan mainnya. Transparansi anggaran, standar harga, mekanisme pengawasan, dan akuntabilitas output adalah kunci. Dengan sistem yang terang, ruang gelap akan menyempit. Dengan sistem yang sehat, profesi akan menemukan bentuk terbaiknya.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: apakah kita sedang memperbaiki masalah, atau sekadar mencari cara paling cepat untuk terlihat tegas? Karena sering kali, yang terlihat tegas justru yang paling jauh dari solusi.

Pernyataan yang menyederhanakan memang mudah viral. Ia cepat menyebar, mudah dipahami, dan memancing emosi. Tetapi pembangunan ekosistem—terutama ekonomi kreatif—tidak pernah bekerja dengan cara sesederhana itu. Ia membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan keberanian untuk melihat persoalan secara utuh.

Jika ada satu hal yang perlu diluruskan dari polemik ini, mungkin bukan tentang siapa yang benar atau salah, tetapi tentang bagaimana kita berpikir. Bahwa kritik terhadap sistem harus tetap menjadi kritik terhadap sistem. Bahwa efisiensi tidak boleh mengorbankan kualitas. Dan bahwa dalam dunia yang semakin berbasis kreativitas, profesi seperti EO bukan beban, melainkan bagian dari solusi—selama kita berani membangun sistem yang membuatnya bekerja dengan benar.[]

 

 

Agung Bagus Mantra, yang dikenal juga sebagai Gus Mantra, adalah seorang produser musik, musisi, dan pegiat seni budaya terkemuka asal Bali. Ia merupakan pendiri Pregina Art & Showbiz, sebuah perusahaan manajemen seni, rekaman, dan event organizer yang berbasis di Sanur, Denpasar, Bali.

Inisiator Bali Blues Festival ini juga dikenal aktif menggerakkan industri kreatif serta pelestarian pelestarian budaya, seni sakral, dan mendukung pergerakan seniman untuk pemajuan kebudayaan di Bali.

Gus Mantra juga aktif menciptakan lagu dan memproduksi musik yang mengangkat spirit budaya Bali, salah satunya lagu berjudul “Taksu” sebagai ekspresi dari gairah jiwanya dalam
menjaga “taksu” (energi/kharisma) budaya Bali .

By Bekraf

Related Post