Tue. Jan 20th, 2026

Pendar Anyaman dari Ruang Batin Suklu

 

Ulasan Agung Bawantara

Sebuah susunan bidang-bidang horizontal terlihat jelas dan tegas di kanvas itu. Ia tersusun seperti lapisan-lapisan ruang yang saling bertumpuk. Bentuknya bersudut, cenderung persegi, memberi kesan bahwa yang dihadirkan bukan bentangan tanpa batas, melainkan sebuah potongan ruang yang dibingkai dengan sadar. Dari jarak pandang tertentu, bidang-bidang ini tampak stabil dan tenang. Mata menangkap perbedaan terang dan gelap: ada hitam yang dominan, ada emas kusam, kuning muda, dan nada warna redup yang seolah menahan cahaya agar tidak sepenuhnya menyebar. Itulah tangkapan pertama begitu melihat lukisan berjudul Inner Spectrum (2025) karya i Wayan Sujana Suklu.

Namun ketenangan itu mulai berubah ketika jarak dipersempit. Permukaan kanvas ternyata tidak datar. Ia dipenuhi jalinan goresan kecil yang berulang, saling mengait, dan membentuk tekstur padat. Goresan-goresan ini melengkung, berlapis, dan konsisten, menyerupai anyaman yang dikerjakan dengan ritme panjang. Di dalam bidang yang dari jauh tampak hitam, muncul warna-warna lain: hijau kebiruan, oranye, putih, krem, dan nuansa di antaranya. Warna-warna ini tidak hadir sebagai aksen yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari jaringan yang saling menumpang dan menyilang. Begitu pun pada bidang-bidang lainnya.

Secara teknis, lukisan yang dibuat dengan acrylic, glukol, dan sodas di atas kanvas berdimensi 200 x 200 cm ini menunjukkan cara kerja akrilik yang sangat terkendali. Cat tidak digunakan untuk efek transparan atau gestur spontan, melainkan ditumpuk dan ditekan hingga membentuk tekstur yang hampir menyerupai relief rendah. Repetisi menjadi metode utama. Setiap unit goresan tampak serupa, tetapi tidak identik. Variasi kecil muncul dari tekanan tangan, arah sapuan, dan pertemuan warna. Proses ini mengandaikan waktu yang panjang dan kesabaran, bukan keputusan cepat atau ledakan ekspresi.

Pilihan bentuk bersudut menjadi penting dalam membaca karya ini. Spektrum, dalam pengertian umum, sering dibayangkan sebagai gradasi yang mengalir, melengkung, dan tanpa batas tegas. Di sini, spektrum justru ditempatkan di dalam struktur yang kaku. Persegi dan garis lurus berfungsi sebagai bingkai, sementara di dalamnya warna-warna bergerak secara organik. Ada ketegangan antara bentuk besar yang tegas dan detail mikro yang lentur. Ketegangan ini tidak diselesaikan atau dilebur, tetapi dibiarkan hadir sebagai kondisi visual yang terus bekerja.

Dari sisi filosofis, lukisan ini berangkat dari penolakan terhadap mimesis. Warna tidak dimaksudkan untuk merujuk pada alam luar atau objek tertentu. Ia tidak berfungsi sebagai representasi, melainkan sebagai refleksi dunia dalam. Spektrum yang dimaksud bukan spektrum optik, melainkan rentang pengalaman mental dan batin yang berlapis. Hitam tidak diperlakukan sebagai ketiadaan, tetapi sebagai medan tempat warna-warna lain hidup dan berdenyut.

Gagasan tentang tujuh warna di tengah warna hitam dapat dibaca sebagai penanda keragaman yang tersembunyi di dalam satu kondisi yang tampak seragam. Dari jauh, mata menangkap satu kesan warna. Dari dekat, kesan itu terurai menjadi banyak kemungkinan. Cara kerja ini menempatkan persepsi sebagai sesuatu yang bergantung pada jarak dan waktu melihat, bukan pada makna yang langsung tersedia.

Metafora anyaman menjadi relevan di sini. Anyaman selalu mengandaikan hubungan: satu unsur tidak pernah berdiri sendiri, melainkan saling mengikat dan diikat. Dalam lukisan ini, jalinan tersebut tidak sepenuhnya rata. Ritme goresan membentuk gelombang kecil. Ada bagian yang terasa seperti tanjakan, ada yang menurun. Jika mata mengikuti ritme ini dari dekat, pengalaman visualnya bisa terasa melelahkan. Mata dipaksa menyesuaikan diri terus-menerus, mengikuti perubahan kecil yang tidak pernah benar-benar berhenti.

Ketika jarak diambil, pengalaman itu berubah. Kelelahan mikro yang terasa dari dekat mengendap menjadi keteraturan. Apa yang tadinya tampak rumit dan berdenyut, kini terbaca sebagai bidang yang seimbang. Perubahan pengalaman ini membuka kaitan dengan gagasan healing, meskipun lukisan ini tidak menawarkan fungsi terapeutik secara langsung. Ia tidak bekerja sebagai alat penyembuhan, melainkan sebagai ruang pengalaman visual.

Dalam konteks healing, karya ini memperlihatkan bagaimana jarak pandang memengaruhi cara kita mengalami sesuatu. Terlalu dekat dengan detail, intensitas dan repetisi bisa terasa menguras. Mengambil jarak memungkinkan keseluruhan pola terlihat, tanpa menghapus keberadaan detail itu sendiri. Lukisan ini tidak mengarahkan penonton pada perasaan tertentu, tetapi memberi kesempatan untuk menyadari perbedaan antara tenggelam di dalam pengalaman dan memandangnya dari luar.

Dalam praktiknya, Inner Spectrum dapat dibaca sebagai refleksi panjang seorang perupa terhadap dunia batinnya sendiri. Tanpa narasi, tanpa simbol eksplisit, pengalaman puluhan tahun memilih kesenian sebagai jalan hidup diterjemahkan ke dalam disiplin kerja visual. Yang hadir bukan pernyataan, melainkan medan yang bisa dimasuki atau diamati, tergantung posisi penonton. Karya Suklu ini bergerak perlahan, menuntut waktu dan kesediaan untuk melihat perubahan kecil, serta membuka kemungkinan hubungan antara teknis, refleksi filosofis, dan pengalaman batin tanpa harus menegaskannya sebagai tujuan.[]

TENTANG WAYAN SUJANA SUKLU
Lahir di Klungkung, 6 Februari 1967, dan bermukim di Banjarangkan, Klungkung, Bali. Ia merupakan dosen Seni Rupa di FSRD ISI Denpasar.

Sebagai perupa kontemporer, Sujana Suklu aktif berpameran tunggal dan kelompok di berbagai ruang seni nasional dan internasional. Pameran tunggal pentingnya antara lain Body and Time; Nawa Sena Conscience (TonyRaka Gallery, 2025), Monument of Trajectory (Komaneka Gallery, 2021), PANJI, Between Body and Shadow (IMF International Art Event, 2018), serta Wings and Time (Komaneka Fine Art Gallery, 2016).

Ia terlibat dalam berbagai proyek dan pameran seni berskala besar seperti Art Jakarta, Art Moment Bali, ARMA Ubud, Bentara Budaya, National Gallery Jakarta, Museum Pasifika, hingga pameran internasional virtual. Selain berkarya, ia juga aktif sebagai kurator sejak 2019, menangani sejumlah pameran seni rupa kontemporer.

Prestasinya mencakup penghargaan The Best 10 Philip Morris Asian Art Award (2003), pemenang Indofood Art Awards (2003), serta LIBAF Senggigi Lombok (2013). Di bidang tata artistik, ia kerap dipercaya sebagai scenographer untuk pameran dan peristiwa seni penting di Bali.

By Bekraf

Related Post