Sat. Apr 18th, 2026

Menyimak Dunia Kecil dalam Lukisan Damar Langit Timur

 

Ulasan Agung Bawantara

Saya mengagumi perupa muda ini sejak ia tampil dalam pameran tunggal Akil Balig di Kulidan Space, Gianyar pada Juli 2023. Sebuah pameran yang saya ingat bukan karena gegap gempitanya, melainkan karena kejujuran seorang anak muda yang sedang belajar berdiri di ambang usia dan bahasa visualnya sendiri. Akil Balig terasa seperti membuka halaman buku sketsa yang lama disimpan: ada gambar sang ayah yang dibuatnya ketika masih kanak-kanak, ada jejak imajinasi yang belum sepenuhnya rapi, dan ada keberanian untuk mengakui bahwa bertumbuh tidak selalu berarti meninggalkan yang lama, tetapi membawanya berjalan bersama.

Perasaan itu kembali saya temukan ketika melihat karya-karya Damar Langit Timur dalam pameran EVOCATIONS: Nature, Myth & Abstraction di ARMA Museum pada 24 Desember 2025 – 24 Januari 2026. Di ruang museum yang sarat ingatan dan pengetahuan, lukisan-lukisannya tidak berusaha tampil dominan. Ia tidak memanggil perhatian dengan cara yang keras, tidak pula menuntut pembacaan tertentu. Karya-karya itu hadir seperti makhluk-makhluk yang digambarkannya: ada, bergerak, dan bekerja pelan-pelan di sekitar kita.

Seluruh karya dalam pameran ini dibuat dengan cat akrilik dan tinta di atas kertas. Pilihan medium ini terasa selaras dengan cara kerjanya. Kertas tidak diperlakukan sebagai bidang yang harus ditutup rapat atau ditinggikan martabatnya menjadi kanvas, melainkan sebagai ruang yang memungkinkan garis bergerak cepat, warna meresap, dan keputusan-keputusan kecil tertinggal sebagai jejak. Akrilik memberi tubuh pada bidang, sementara tinta menjaga ketegangan garis—keduanya bertemu tanpa hierarki yang kaku.

Seri Penjaga Hutan memperlihatkan sosok-sosok yang tidak dibangun sebagai figur heroik. Tubuh-tubuhnya terasa menyatu dengan batang, akar, dan tanah, seolah tidak ada batas tegas antara figur dan lingkungan. Hutan tidak menjadi latar, melainkan bagian dari tubuh itu sendiri. Di beberapa bagian, muncul titik-titik hijau neon yang berulang—kecil, nyaris seperti coretan ringan—namun justru menjadi penanda yang membuat mata terus kembali. Di sana, kehadiran gumatat–gumitit terasa bekerja: yang kecil, yang kerap diabaikan, yang tidak tampil sebagai pusat, tetapi pelan-pelan mengisi ruang dan memengaruhi suasana.

Sketsa-sketsa yang menjadi dasar karya-karya ini dengan jelas menyimpan jejak figur dan ornamen Bali. Namun jejak itu tidak hadir sebagai kutipan bentuk yang rapi atau pengulangan pakem visual tertentu. Yang bekerja justru cara membangun figur: tubuh yang berlapis, garis yang berulang, ruang yang nyaris tidak pernah benar-benar kosong. Ornamen tidak diperlakukan sebagai hiasan permukaan, melainkan sebagai jaringan yang mengikat bagian-bagian tubuh, menyambungkan figur dengan lingkungannya. Ini adalah cara melihat yang akrab dalam tradisi visual Bali, di mana figur jarang berdiri sendiri dan selalu berada dalam hubungan dengan ruang dan sekitarnya.

Dalam karya Sang Mong, harimau tidak tampil sebagai simbol keganasan yang ditegaskan. Tubuhnya terasa tertahan, seolah energi yang dahulu leluasa kini harus menyesuaikan diri dengan ruang yang menyempit. Ada panas yang tersisa, ada ingatan tentang kekuatan yang tidak sepenuhnya hilang, tetapi berubah arah. Wanara bergerak dengan logika yang berbeda: lincah, gesit, penuh kecerdikan instingtif. Kera di sini tidak hadir sebagai figur lucu atau simbol yang mudah dibaca, melainkan sebagai gambaran tentang strategi bertahan—meloncat, menghindar, mencari celah—di tengah perubahan yang tidak pasti.

Hubungan antara sketsa dan lukisan dalam praktik Damar Langit Timur tidak bersifat hierarkis. Sketsa tidak berhenti sebagai tahap awal yang harus ditinggalkan, tetapi terus bekerja hingga tahap akhir. Garis tinta bergerak spontan, berulang, kadang obsesif, membentuk tubuh sekaligus tekstur. Akrilik mengalir di sekitarnya, tidak sepenuhnya menutup garis, tidak pula tunduk padanya. Keduanya bertemu sebagai dua cara kerja yang saling menegosiasikan ruang. Proporsi tidak selalu stabil, bentuk kadang bergeser, dan ruang tidak selalu terasa mantap. Ketidakmantapan itu tidak disembunyikan, melainkan dibiarkan hadir sebagai bagian dari proses.

Yang membuat keseluruhan karya ini terasa dekat adalah sikapnya yang tidak menghakimi. Tidak ada figur yang diposisikan sebagai musuh atau pahlawan. Gumatat–gumitit tidak dibasmi, Sang Mong tidak ditundukkan, Penjaga Hutan tidak dimuliakan. Semua hadir dalam satu hamparan hubungan yang cair, saling memengaruhi tanpa perlu disimpulkan. Warna-warna terang dan getir berjalan berdampingan dengan garis yang ragu dan gestur yang berani, seperti percakapan yang dibiarkan terbuka.

Melihat keseluruhan karya Damar Langit Timur di ARMA Museum, saya merasa sedang diajak berjalan menyusuri lapisan-lapisan kecil kehidupan yang sering luput, yang jarang disorot, tetapi justru menjaga keseimbangan. Ia tidak sedang menawarkan ajaran atau penilaian. Ia hanya membuka ruang, membiarkan kita melihat bagaimana yang kecil, yang remeh, yang gumatat–gumitit itu terus bekerja diam-diam, menyambungkan figur dengan ruang, dan menjaga agar dunia tetap bergerak. []

 

 

TENTANG DAMAR LANGIT TIMUR

Damar Langit Timur adalah perupa muda kelahiran Gianyar, Bali, tahun 2006, yang menekuni seni lukis sejak masa kanak-kanak. Ia tumbuh dalam keluarga seniman; ayahnya, Made Bayak, adalah pelukis dan musisi rock alternatif, sementara ibunya, Kartika Dewi, merupakan pelukis, penari, dan pengajar seni. Lingkungan ini membentuk dasar proses kreatif Damar yang berkembang melalui belajar, eksplorasi, dan praktik sejak dini.

Selain melukis, Damar juga aktif sebagai penari dan terlibat dalam teater tradisional Bali. Ia kerap berkarya secara kolaboratif bersama kedua orang tuanya, termasuk melukis bersama pada satu kanvas, dan karya-karya kolaborasi keluarga ini telah dipamerkan di dalam dan luar negeri. Aktivitas pamerannya dimulai sejak usia muda, antara lain dalam 1,000 Pictures ASEAN Children’s Exhibition (2011), pameran kolaboratif keluarga di URWF Ubud (2017), Hamburg Market di Hamburg, Jerman (2018), serta sebagai finalis Titian Art Prize kategori remaja (2020).

Tonggak penting dalam perjalanannya adalah pameran tunggal pertamanya, Coming of Age (2023) di Kulidan Art Space, Gianyar. Pada 2024, ia kembali terlibat dalam pameran kolaboratif keluarga ROOTS di KBH.G Basel, Swiss, yang kemudian berlanjut di ARMA Museum, Ubud, pada 2025. Damar menyelesaikan pendidikan di Global IT Vocational School, Denpasar, dan terus mengembangkan praktik artistiknya sebagai perupa muda Bali yang tumbuh dari tradisi, keluarga, dan pengalaman lintas ruang.

 

By Bekraf

Related Post