Sun. Jan 18th, 2026

 

Ulasan : Agung Bawantara

Berjumpa dengan lukisan Made Budhiana ini, saya jadi teringat pada perjumpaan kami suatu hari beberapa tahun lalu di Rumah Sanur. Saat itu saya bertanya padanya tentang kiat belajar melukis di usia jelang 50 tahun. Bukan teknik yang ia jawab, bukan pula daftar latihan. Ia justru membebaskan saya dari sesuatu yang lebih mendasar: rasa takut tampak buruk, pretensi untuk tampak hebat. “Jujur saja,” katanya.

“Lukiskan apa yang kamu rasakan. Dengarkan apa yang ada di sekitarmu. Jika ada suara keras, jangan merasa terganggu. Lukiskan suara itu. Jadikan sekitar sebagai sumber. Melukis adalah menyelaraskan pikiran, perasaan, dan emosi.”

Ketika berhadapan dengan lukisan ini, kata-kata itu muncul kembali, bukan sebagai kutipan, melainkan sebagai suasana yang terasa menyusup dari permukaan kertas.

Sepintas, karya ini seperti menolak untuk disimpulkan. Ada tubuh—atau bayangan tubuh—yang hadir tanpa kepastian bentuk. Garis hitam bergerak cepat, tidak selalu rapi, kadang seolah berhenti di tengah jalan. Warna-warna datang dan pergi: hijau yang membumi, merah-oranye yang terasa berdenyut, ungu dan biru yang samar, seperti sisa gema. Tak ada upaya menutup atau menyempurnakan. Yang ada justru keberanian membiarkan sesuatu tetap terbuka.

Di titik itu, saya teringat pada ucapannya tentang suara keras. Lukisan ini terasa seperti hasil dari mendengarkan—bukan hanya dengan telinga, tetapi dengan seluruh tubuh. Garis-garisnya tidak tampak direncanakan untuk menjelaskan; mereka tampak bereaksi. Warna-warnanya tidak mengisi bentuk; mereka menyela, mengganggu, dan kadang beradu. Seolah ada peristiwa yang diterjemahkan langsung ke dalam sapuan, tanpa jeda untuk menimbang apakah hasilnya pantas atau elok.

Kesan yang tertangkap bukanlah cerita, melainkan keadaan. Ada gerak yang tertahan, ada energi yang tidak meledak, ada sesuatu yang seolah sedang berlangsung tetapi tidak dipaksa selesai. Ruang putih yang luas tidak berfungsi sebagai latar kosong. Ia bernapas. Ia memberi jarak. Ia mengizinkan mata berhenti sejenak, tidak terburu-buru mencari arti.

Dalam pengalaman melihat itu, saya merasa lukisan ini bekerja sebagai tempat singgah. Bukan untuk memahami, melainkan untuk berada. Kita tidak diajak menebak maksud, tidak diarahkan pada simbol tertentu. Kita dibiarkan merasakan apa yang muncul—dan apa yang tidak.

Barangkali di situlah filsafatnya bekerja, tanpa perlu diumumkan. Lukisan ini tidak berdiri sebagai pernyataan besar, melainkan sebagai praktik kejujuran yang tenang. Pikiran, perasaan, dan emosi tidak disusun bertingkat; mereka hadir bersamaan, saling bersinggungan. Tidak ada yang diunggulkan, tidak ada yang disembunyikan. Dan karena itu pula, karya ini terasa tidak memerlukan judul. Judul sering datang sebagai upaya menenangkan pikiran. Di sini, ketenangan justru lahir dari kesediaan membiarkan segala sesuatu apa adanya.

Bagi saya, lukisan ini bukan tentang figur yang tampak di permukaan. Ia tentang sikap—tentang keberanian untuk tidak tampil hebat, tentang kesediaan mendengar sekitar, dan tentang menemukan jalan menuju tenang lewat kejujuran proses. Dalam diamnya, karya ini seperti mengulang apa yang pernah ia ucapkan dulu, bukan dengan kata-kata, melainkan dengan garis, warna, dan ruang yang dibiarkan terbuka. []

By Bekraf

Related Post