Wed. Mar 11th, 2026

Yama Raja dan Ambang Kesadaran

 

Ulasan Agung Bawantara

Di atas kanvas berukuran 120 x 100 cm itu, sosok Yama Raja muncul dari pusaran api yang padat dan nyaris tanpa jeda. Ia menunggang Mahisa, seekor kerbau besar, dengan tubuh condong ke depan, seolah sedang bergerak melewati ruang yang tidak stabil. Tangan kirinya mengacungkan danda (tongkat hukum), sedangkan tangan kanannya menggenggam pasa (tali jerat).  Api mengisi hampir seluruh bidang lukisan yang dibangun dengan warna merah, jingga, cokelat gelap, dan hitam yang saling berkelindan.  Warna-warna itu membentuk latar yang tidak menunjukkan tempat atau waktu tertentu. Di beberapa bagian, aksara (rerajahan) berwarna keemasan ditorehkan melayang, tidak sepenuhnya terbaca, lebih terasa sebagai jejak atau bisikan daripada teks yang ingin dijelaskan. Tidak ada jarak ‘aman’ bagi mata. Figur, api, dan ruang menyatu dalam satu ketegangan visual.

Lukisan karya Apel Hendrawan bertajuk “Yama Raja” (2025) ini memperlihatkan penguasaan medium cat minyak yang sangat yakin. Lapisan warna terasa berat dan berlapis, terutama pada area api dan latar, sementara figur Yama dan kerbau ditangani lebih terkendali agar tetap terbaca sebagai pusat komposisi. Sapuan kuas dibiarkan tampak, tidak disembunyikan, memberi kesan gerak dan panas yang terus bekerja di dalam kanvas. Warna-warna panas mendominasi, namun ditahan oleh gelap yang berwarna, bukan hitam mati, sehingga keseluruhan bidang tetap hidup dan berdenyut. Aksara emas berfungsi sebagai aksen visual, memecah kepadatan warna sekaligus memberi ritme di sekeliling figur utama.

Dalam karya ini, Yama tidak tampil sebagai figur yang menakut-nakuti atau menghakimi secara moral. Ia hadir lebih sebagai penanda ambang yakni satu figur yang berdiri di antara dua keadaan: kehidupan dan kematian. Sebaris kalimat yang dituliskan apel sebagai caption yang menemani menyebarnya karya ini di mesia sosial berbunyi : “Kematian adalah ritual terakhir sebelum kesadaran dibebaskan.”  Caption itu mengarahkan pembacaan karya ke wilayah kontemplatif, bahwa kematian tidak diposisikan sebagai akhir dramatis atau hukuman, melainkan sebagai proses yang harus dilewati. Sebuah peristiwa yang tidak bisa ditunda, dinegosiasikan, atau dihindari.

Api yang mengelilingi Yama tidak terasa sebagai api siksa, melainkan sebagai medan perubahan. Kerbau yang ditungganginya tidak tampak sepenuhnya liar, juga tidak sepenuhnya jinak. Ia seperti energi dasar yang digerakkan, bukan ditindas. Dalam kerangka ini, Yama Raja menjadi simbol fungsi, bukan pusat pemujaan. Ia adalah pengingat bahwa ada momen ketika segala identitas, peran, dan kepemilikan harus dilepaskan. Dan, lukisan ini tidak menawarkan jawaban tentang apa yang terjadi setelahnya. Ia berhenti tepat di ambang itu.

Dalam konteks kekinian, karya ini terasa jujur karena tidak berusaha menenangkan. Di tengah zaman yang cenderung menyingkirkan kematian dari percakapan sehari-hari, lukisan ini justru menghadirkannya secara langsung, tanpa romantisasi. Ia tidak mengglorifikasi kematian, tetapi juga tidak menolaknya. Yang ditawarkan adalah ruang untuk berhenti sejenak dan menyadari bahwa kesadaran manusia modern, dengan segala kecanggihannya, tetap berhadapan dengan batas yang sama. []

By Bekraf

Related Post