Wed. Jan 21st, 2026

Ogoh-ogoh Pasca Upacara, Apa yang Bisa Dijual?

Sketsa ulang ogoh-ogoh "Bibianu" karya STT Canti Graha, Br. Tengah Sesetan, Denpasar (2025).

 

Catatan Agung Bawantara

Ogoh-ogoh sering dipahami sebagai sesuatu yang selesai pada malam arak-arakan. Ia dibangun dengan penuh gairah, diusung dengan sorak dan ketegangan, lalu dilebur sebagai bagian dari upacara. Setelah itu, yang tersisa biasanya hanya foto, video, dan cerita singkat di media sosial. Padahal, jika dibaca dengan kacamata IP Story, justru setelah upacara itulah ogoh-ogoh mulai memasuki fase yang paling menarik: fase ketika ia tidak lagi menjadi persembahan, tetapi berubah menjadi jejak makna.

Bagi anak muda yang terlibat langsung dalam proses penciptaannya, ogoh-ogoh sesungguhnya adalah karya kreatif dengan lapisan ide yang dalam. Ia lahir dari diskusi panjang, perdebatan, kegelisahan bersama, juga keberanian untuk memilih satu simbol di antara banyak kemungkinan. Setiap bentuk, ekspresi wajah, gestur tubuh, hingga pilihan warna adalah keputusan kreatif. Semua itu adalah bahan mentah IP. Masalahnya, selama ini ogoh-ogoh berhenti dibaca sebagai karya, dan hanya dikenang sebagai peristiwa.

Potensi ogoh-ogoh pasca upacara terletak pada kemampuannya merekam emosi zamannya. Ogoh-ogoh tidak bicara tentang masa lalu yang jauh, tetapi tentang apa yang sedang dirasakan sekarang: kemarahan, ketakutan, kecemasan, ironi, bahkan humor gelap generasi muda. Ia adalah mitologi yang lahir dari konteks hari ini. Inilah kekuatan yang tidak dimiliki oleh cerita-cerita lama di lontar atau folklor klasik. Ogoh-ogoh adalah cerita yang ditulis ulang setiap tahun, oleh tangan-tangan muda, dengan bahasa visual yang terus berubah.

Peluangnya terbuka ketika ogoh-ogoh tidak lagi dilihat sebagai benda ritual, melainkan sebagai bahasa simbolik. Setelah upacara selesai, ogoh-ogoh tidak lagi memikul fungsi sakral. Ia berubah menjadi artefak reflektif yakni sesuatu yang boleh ditafsirkan, dibaca ulang, dan dikembangkan. Dari sini, ogoh-ogoh bisa hidup sebagai konsep karakter, dunia cerita, atau metafora konflik manusia dalam film fiksi, animasi, komik, gim, hingga instalasi seni. Yang dibawa ke industri bukan ritualnya, melainkan gagasan di baliknya.

Namun ada juga kelemahan yang perlu disadari. Banyak ogoh-ogoh berhenti sebagai dokumentasi visual tanpa narasi. Ide besar yang melatarinya tidak pernah dituliskan, tidak dirumuskan, dan tidak disimpan dengan rapi. Akibatnya, ketika orang luar melihatnya, yang tampak hanya bentuk yang spektakuler, bukan pemikiran di baliknya. Kelemahan lain adalah ketakutan berlebihan untuk berbicara tentang ogoh-ogoh di luar konteks upacara, seolah setiap bentuk pengembangan otomatis dianggap melanggar kesakralan. Padahal, yang sensitif adalah ritualnya, bukan gagasannya.

Di sinilah perubahan cara pandang menjadi penting. Ogoh-ogoh tidak harus dijaga dengan cara membungkamnya setelah upacara. Justru dengan membacanya sebagai cerita, sebagai simbol, dan sebagai ekspresi zaman, martabatnya bisa diperluas. Anak muda dapat mulai dengan hal sederhana: menuliskan ide dasar ogoh-ogoh mereka, konflik apa yang ingin dibicarakan, mengapa memilih bentuk tertentu, dan emosi apa yang ingin dihadirkan. Dari situ, ogoh-ogoh tidak lagi berdiri sendiri, tetapi menjadi pintu masuk ke dunia cerita yang lebih luas.

Pendekatan seperti ini membuat ogoh-ogoh relevan dengan ekosistem industri kreatif tanpa harus kehilangan akarnya. Ia tidak dijual sebagai tradisi, tetapi sebagai pemikiran visual. Ia tidak dipindahkan dari Bali, tetapi bahasanya bisa dipahami di mana saja. Bagi generasi muda, ini adalah kesempatan untuk melihat karya mereka bukan hanya sebagai kontribusi tahunan untuk banjar, tetapi juga sebagai aset intelektual yang bisa tumbuh, berubah bentuk, dan hidup lebih panjang dari satu malam arak-arakan.

Dalam kerangka IP Story, ogoh-ogoh pasca upacara adalah cerita yang belum selesai. Api mungkin sudah padam, tetapi maknanya masih hangat. Di situlah ruang bagi imajinasi, refleksi, dan kemungkinan baru terbuka. Dan di sanalah anak muda dapat mulai menyadari bahwa apa yang mereka ciptakan bersama-sama setiap tahun bukan sekadar tontonan, melainkan bahasa kreatif yang memiliki masa depan.[]

By Bekraf

Related Post