Catatan Agung Bawantara
Mengapa ribuan ogoh-ogoh yang lahir di Bali—dengan kualitas visual yang luar biasa, gagasan yang berani, dan kerja kolektif yang nyaris tak tertandingi—tak satu pun benar-benar menarik minat industri film untuk diangkat ke layar lebar? Mengapa karya-karya hebat dan bermutu itu juga belum menjadi bahan baku industri gim, komik, atau animasi dunia, padahal dunia kreatif global terus berburu karakter, dunia cerita, dan mitologi baru?
Pertanyaan ini penting diajukan, terutama kepada generasi muda yang setiap tahun menjadi motor utama penciptaan ogoh-ogoh. Jawabannya bukan karena ogoh-ogoh kurang bagus, terlalu lokal, atau kalah bersaing dengan mitologi asing. Masalahnya justru terletak pada cara ogoh-ogoh hadir di hadapan dunia industri.
Bagi industri film, gim, atau animasi, ogoh-ogoh selama ini muncul sebagai peristiwa, bukan sebagai proyek kreatif berkelanjutan. Ia hadir kuat dalam satu malam, lalu menghilang. Industri global tidak bekerja dengan logika peristiwa tahunan, melainkan dengan logika IP: karakter yang bisa dikembangkan, dunia cerita yang bisa diperluas, dan narasi yang bisa hidup lintas medium. Ogoh-ogoh berhenti terlalu cepat—bukan karena ia selesai secara artistik, tetapi karena kita sendiri belum membawanya melampaui fungsi ritualnya.
Ada juga jarak cara pandang. Bagi komunitas, ogoh-ogoh adalah puncak gotong royong dan ekspresi spiritual. Bagi industri, ogoh-ogoh tampak sebagai objek sakral yang “tidak jelas boleh disentuh atau tidak”. Ketika batas antara ritual dan karya kreatif tidak pernah dijelaskan, industri memilih menjauh. Bukan karena tidak tertarik, melainkan karena tidak tahu bagaimana masuk tanpa risiko budaya dan sosial.
Selain itu, banyak ogoh-ogoh lahir tanpa jejak narasi yang tertulis. Ide besar yang melatarinya hidup di kepala para kreatornya, dibicarakan di bale banjar, lalu menguap setelah arak-arakan usai. Dunia industri tidak bisa bekerja dengan ingatan lisan semata. Mereka membutuhkan cerita yang bisa dibaca, diringkas, dan dikembangkan. Tanpa itu, ogoh-ogoh hanya dipandang sebagai visual spektakuler—indah, tetapi “diam”.
Dari sini, langkah-langkah praktis menjadi relevan. Jika ingin ogoh-ogoh masuk ke bursa industri IP dunia, perubahan pertama bukan pada bentuk karya, melainkan pada kesadaran proses. Sejak awal penciptaan, penting untuk menyadari bahwa setiap ogoh-ogoh membawa isu, konflik, dan posisi sikap. Menyebutkan secara sederhana apa yang sedang dibicarakan oleh ogoh-ogoh itu—tanpa bahasa rumit—sudah merupakan fondasi IP.
Proses kreatif yang selama ini berlangsung intens juga perlu mulai ditinggalkan jejaknya. Sketsa, diskusi, perdebatan, dan perubahan desain adalah bagian dari cerita. Ketika proses ini terdokumentasi, ogoh-ogoh tidak lagi berdiri sebagai hasil akhir, tetapi sebagai perjalanan kreatif. Inilah yang membuatnya mulai terbaca sebagai proyek, bukan sekadar perayaan.
Setelah upacara selesai, ogoh-ogoh memasuki wilayah yang aman untuk dikembangkan. Ia tidak lagi berfungsi sebagai persembahan, melainkan sebagai inspirasi visual dan naratif. Pada tahap ini, reinterpretasi menjadi kunci. Ogoh-ogoh tidak dibawa apa adanya ke film atau gim, tetapi diterjemahkan menjadi karakter fiktif, makhluk simbolik, atau dunia cerita yang terinspirasi prinsipnya. Dengan cara ini, sakralitas tetap terjaga, sementara kebebasan kreatif terbuka.
Agar bisa berbicara dengan industri global, semua itu perlu dirangkum dalam bentuk yang sederhana dan komunikatif. Satu paket kecil—narasi singkat, visual pendukung, dan gambaran dunia cerita—sudah cukup untuk membuat orang luar memahami bahwa ini adalah IP yang hidup. Dari sinilah ogoh-ogoh mulai memiliki “alamat” di luar Bali, tanpa kehilangan akarnya.
Soal kesejahteraan kreator dan komunitas, kesadaran IP harus berjalan beriringan dengan kesadaran kolektif. Ogoh-ogoh adalah karya bersama, dan ketika ia berkembang menjadi IP, manfaatnya pun harus kembali ke komunitas. Kesepakatan internal, sekecil apa pun, menjadi fondasi penting agar peluang ekonomi tidak berubah menjadi konflik.
Dengan pendekatan ini, pertanyaan di awal perlahan menemukan jawabannya. Bukan karena ogoh-ogoh tidak layak diangkat ke layar lebar atau dunia gim, melainkan karena selama ini ia belum diajak masuk ke ruang itu dengan bahasa yang dipahami industri. Ketika ogoh-ogoh mulai diperlakukan sebagai cerita yang berkelanjutan, sebagai dunia yang bisa tumbuh, dan sebagai IP kolektif yang dirawat, maka peluang untuk menyejahterakan kreator dan komunitasnya bukan lagi wacana, melainkan kemungkinan nyata yang sedang menunggu untuk diwujudkan. []
