Sat. Apr 18th, 2026

Wit Kawit, Sebuah Awal Mula yang Menghadirkan Kisah

 

Ulasan Agung Bawantara

 

Seekor burung hitam dengan sayap terbentang lebar menjadi poros komposisi. Paruhnya terbuka, matanya menatap tajam. Di atas punggungnya berdiri sosok bhuta bermahkota emas, tubuhnya berotot dan berbulu hitam, seolah baru saja melompat turun dari udara. Di bawahnya, tiga manusia tergambar dalam keadaan panik—satu melompat menjauh, satu terjatuh sambil mencengkeram batang kayu, sementara satu lagi berlari sambil mengayunkan cambuk. Adegan itu terasa seperti satu momen yang membeku tepat di tengah ledakan peristiwa.

Begitulah kesan pertama ketika berhadapan dengan ogoh-ogoh “Wit Kawit” karya Sekaa Teruna Taruna Dharma Castra, Banjar Tengah, Desa Sidakarya, Denpasar Selatan. Komposisinya terasa penuh energi namun tetap terkendali. Gerakan figur manusia, burung, dan bhuta membentuk alur visual yang berputar dari bawah ke atas, seperti spiral dramatik yang membuat mata penonton terus mengikuti arah cerita.

Estetika karya ini bertumpu pada anatomi yang kuat dan ekspresi yang hidup. Otot-otot tubuh manusia dibentuk dengan detail yang teliti. Wajah-wajahnya memperlihatkan ketegangan yang nyata—takut, marah, panik, sekaligus mencoba bertahan. Pada bagian tengah, burung hitam raksasa dengan sayap terbentang menjadi penghubung visual antara dunia manusia dan sosok bhuta yang berdiri di atasnya.

Karya ini terasa seperti potongan cerita yang tertangkap tepat pada saat paling genting (klimkas). Namun ada satu hal lain yang sering luput dari perhatian ketika orang melihat kemegahan ogoh-ogoh seperti ini: bahan yang digunakan untuk membangunnya. Di balik bentuk yang dramatis itu, karya ini disusun dari bahan-bahan yang justru sangat sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Para pembuatnya memanfaatkan kertas karton, tisu, serta serat pohon prasok, bahan alami yang selama ini menjadi bagian dari tradisi pembuatan ogoh-ogoh di Bali. Dari material yang ringan dan sederhana itulah kemudian lahir bentuk-bentuk figur yang kompleks—mulai dari lipatan otot tubuh manusia hingga tekstur bulu pada burung hitam raksasa. Kesederhanaan bahan itu seolah menjadi kontras yang menarik dengan kompleksitas cerita yang dibawanya.

Dari Kutukan hingga Kesetiaan
Inspirasi karya ini bersumber dari Lontar Ketaka Parwa, yang mengisahkan asal-usul para kera yang kelak menjadi pengikut setia Rama dalam kisah Ramayana.

Salah satu tokoh yang muncul dalam kisah tersebut adalah Gowaksa. Ia digambarkan sebagai makhluk yang bentuknya tidak lazim—tubuhnya menyerupai kera, tetapi wajahnya memiliki kemiripan dengan burung. Rupa yang tidak biasa itu membuat kemunculannya sempat menimbulkan kegelisahan.

Namun dalam perjalanan cerita, Gowaksa justru menjadi bagian dari palawaga, kelompok makhluk kera yang membantu Rama dalam peperangan melawan Rahwana di Alengka. Asal-usul kemunculan para kera ini berkaitan dengan sebuah kisah yang lebih awal.

Dalam cerita tersebut diceritakan tentang Cupu Manik, sebuah pusaka yang memiliki kekuatan luar biasa. Benda ini diperebutkan oleh tiga tokoh: Arya Bang, Arya Kuning, dan Dewi Anjani. Perebutan itu berujung pada perubahan yang tak terduga.

Air yang semula merupakan amerta, sumber kehidupan, mengalami perubahan karena perebutan tersebut. Arya Bang dan Arya Kuning kemudian mengalami transformasi dan berubah menjadi makhluk berwujud kera.

Dewi Anjani sendiri mengalami perubahan pada tubuhnya—tangannya dipenuhi bulu. Dalam perjalanan kisah berikutnya, penyatuan kehidupan dalam diri Anjani dengan Kesari kemudian melahirkan Hanoman, tokoh besar yang dikenal dalam kisah Ramayana.

Dalam rangkaian peristiwa itulah muncul berbagai makhluk kera, termasuk Gowaksa. Kisah tersebut sering dipahami sebagai bagian dari konsekuensi kutukan Dewa Siwa, yang menyebabkan para dewa harus memiliki keturunan berwujud kera.

Di dalam cerita itu, sesuatu yang pada awalnya tampak sebagai kutukan justru kemudian melahirkan kekuatan baru yang memainkan peran penting dalam sejarah peperangan Rama.

Makna “Wit Kawit”
Judul “Wit Kawit” merujuk pada awal mula, asal-usul, atau titik kelahiran suatu keturunan. Dalam konteks cerita ini, ia menunjuk pada peristiwa yang menjadi titik awal munculnya tokoh Gowaksa. Tetapi istilah ini juga terasa memiliki makna yang lebih luas.
Setiap peristiwa memiliki awal. Setiap tindakan memiliki sebab. Dan setiap sebab akhirnya akan melahirkan akibat. Simbol-simbol yang digunakan dalam ogoh-ogoh ini seolah mengisyaratkan hal tersebut.

Gowaksa dipahami sebagai hasil dari sebuah perbuatan atau konsekuensi yang lahir dari proses sebelumnya. Burung gagak melambangkan pola pikir awal, gagasan yang menjadi titik mula sebuah tindakan. Sementara figur manusia di bagian bawah menggambarkan pihak yang merasakan dampak dari rangkaian proses tersebut. Dengan cara itu, karya ini seperti menghubungkan mitologi dengan pengalaman manusia sehari-hari.

Mesin Tidak Mendominasi
Di tengah perkembangan ogoh-ogoh yang semakin sering menonjolkan teknologi mekanik, “Wit Kawit” mengambil sikap yang terasa tenang. Mesin memang digunakan dalam karya ini, terutama untuk menggerakkan kepala burung hitam dan beberapa bagian kecil lainnya. Gerakan tersebut memberi efek hidup pada komposisi dan memperkuat ketegangan visual pada adegan yang ditampilkan. Namun teknologi itu tidak mengambil alih panggung.

Mesin hanya menempati porsi kecil dari keseluruhan konstruksi ogoh-ogoh. Ia hadir sebagai aksen, bukan sebagai pusat perhatian. Narasi, komposisi, dan kualitas patung tetap menjadi kekuatan utama karya ini. Pendekatan ini mengingatkan kembali bahwa ogoh-ogoh pada dasarnya adalah seni rupa naratif, sebuah cerita yang dipahat dalam ruang.

Kekuatan artistik tersebut akhirnya mengantarkan “Wit Kawit” meraih Juara I Kasanga Festival 2026 yang digelar di Lapangan Puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung, Denpasar.

Cerita yang Bergerak
Di tengah kemegahan bentuk dan dinamika gerakan, “Wit Kawit” terasa seperti mengingatkan bahwa setiap kisah selalu memiliki titik awal. Sebuah wit kawit. Dari awal itu kemudian lahir rangkaian peristiwa yang lebih besar yakni pertemuan antara sebab dan akibat, antara kutukan dan kemungkinan, antara kegelisahan dan harapan. Dan mungkin karena itulah ogoh-ogoh ini terasa hidup. Bukan semata karena ada bagian yang bergerak oleh mesin, tetapi karena cerita yang dibawanya terus bergerak dalam pikiran orang yang memandangnya.[]

 

By Bekraf

Related Post