Panggung Budaya Denpasar Festival (Denfest) ke-18 Tahun 2025 pada hari ketiga menghadirkan rangkaian pertunjukan seni yang sarat pesan tentang alam, lingkungan, dan refleksi kehidupan. Berlangsung di Kawasan Lapangan Puputan Badung, I Gusti Ngurah Made Agung, Kota Denpasar, panggung budaya menjadi medium penyampaian pesan ekologis melalui bahasa seni dan tradisi.
Mengusung semangat “Sampaikan Pesan Alam Lewat Penampilan Budaya”, berbagai kelompok seni tampil dengan garapan yang merefleksikan hubungan manusia dan alam. Salah satunya adalah Bandha Sani, yang mengangkat tema riak resik. Garapan ini mengajak manusia untuk berefleksi atas gejolak alam melalui proses meditasi, dengan air sebagai simbol ketenangan dan keseimbangan.
Nuansa sakral dan simbolik hadir melalui penampilan Barong Bangkung, yang dimaknai sebagai bentuk penghormatan kepada dewa sekaligus simbol pengusiran roh-roh jahat penyebab malapetaka. Pertunjukan ini juga membawa tujuan penyucian lingkungan, sejalan dengan nilai-nilai spiritual dalam tradisi Bali.
Sementara itu, Grya Tetamian menampilkan garapan bertajuk “Lost Control”. Karya ini mengangkat persoalan perubahan yang dialami seorang anak, yang kemudian berpengaruh terhadap cara mereka memandang dan menjaga lingkungan sekitar. Penampilan anak-anak dalam garapan ini menjadi simbol harapan dan kesadaran sejak dini terhadap isu lingkungan.
Panggung budaya hari ketiga juga menampilkan pertunjukan yang melibatkan anak-anak sekolah, yang menyampaikan pesan kepedulian terhadap alam dan kebersihan lingkungan. Melalui gerak, ekspresi, dan simbol visual sederhana, pertunjukan ini menegaskan bahwa pesan lingkungan dapat disampaikan secara kuat melalui seni pertunjukan.
Sebagai penutup, seluruh penampil berkolaborasi dalam satu sajian bersama yang menjadi klimaks Panggung Budaya hari ketiga. Kolaborasi ini menegaskan semangat kebersamaan dan kesadaran kolektif, sekaligus memperkuat pesan bahwa seni budaya dapat menjadi sarana refleksi dan ajakan untuk menjaga harmoni antara manusia dan alam.
Secara keseluruhan, Panggung Budaya hari ketiga Denfest 2025 berhasil menampilkan pertunjukan yang tidak hanya estetis, tetapi juga bermakna. Seniman lokal tampil membawakan karya budaya yang tumbuh dari tradisi dan kehidupan masyarakat Denpasar, sekaligus merespons isu lingkungan secara kontekstual.
Melalui Denpasar Festival ke-18, Pemerintah Kota Denpasar terus menegaskan komitmennya menjadikan seni dan budaya sebagai ruang edukasi publik, refleksi sosial, serta penguatan kesadaran kolektif menuju kota yang berbudaya dan berkelanjutan. [Bekraf]
