Panggung Budaya Denpasar Festival (Denfest) ke-18 Tahun 2025 pada hari keempat kembali menjadi ruang pertemuan seni tradisi dan kesadaran budaya masyarakat. Mengusung semangat Mulat Sarira Hening Jiwa, Eling Rasa, rangkaian pertunjukan menghadirkan refleksi nilai-nilai kehidupan melalui seni pertunjukan Bali yang beragam.
Salah satu penampilan yang ditampilkan adalah Supraba Eka Duta, yang menyuguhkan refleksi tentang pentingnya menjaga sawah sebagai pusat kesuburan dan kemakmuran kehidupan masyarakat Bali, baik untuk masa kini maupun masa depan. Pesan tersebut disampaikan melalui bahasa gerak dan visual yang simbolik, menegaskan relasi manusia dengan alam sebagai fondasi kehidupan.
Pertunjukan lintas generasi hadir melalui Yonggy Swara, yang menampilkan pementasan dengan melibatkan berbagai usia. Sajian ini menjadi simbol kesinambungan proses pewarisan nilai dan tradisi dalam seni pertunjukan Bali, sekaligus menegaskan peran keluarga dan komunitas dalam menjaga keberlanjutan budaya.
Nuansa tradisi yang kental juga dihadirkan oleh Gambuh Kertha Jaya. Mengusung pesan utama “Kita Harus Eling”, pertunjukan ini disampaikan melalui gaya khas Gambuh yang sarat nuansa sakral dan reflektif. Garapan ini mengajak penonton untuk kembali menyadari nilai-nilai dasar kehidupan melalui seni tradisi klasik Bali.
Sementara itu, Keroncong Kesiman tampil dengan sajian musik yang mencerminkan upaya menjaga identitas musik tradisi, sekaligus mendekatkannya dengan konteks lokal Kota Denpasar. Penampilan ini memperlihatkan bagaimana musik tradisi dapat terus hidup dan relevan melalui pendekatan yang kontekstual.
Secara keseluruhan, Panggung Budaya hari keempat Denpasar Festival ke-18 kembali menegaskan perannya sebagai ruang penting bagi pertemuan seni tradisi dan kesadaran budaya masyarakat. Berbagai sajian yang ditampilkan tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menyampaikan pesan reflektif tentang alam, tradisi, dan keberlanjutan nilai budaya. [Bekraf]
