Fri. Apr 17th, 2026

yobHen di Batu 8 Studio: Menyala Kho!

Malam itu, 6 Desember 2025, lampu ruang pamer di Batu 8 Studio dipadamkan satu per satu saat pembukaan pameran tengah berlangsung. Dalam hitungan detik, ruang itu kehilangan orientasi; segala bentuk dan warna menghilang. Baru ketika empat lampu ultraviolet menyala, sesuatu yang sebelumnya tersembunyi mulai muncul ke permukaan. Lukisan-lukisan karya Daniel Kho menyala seperti makhluk hidup yang bangun dari tidur panjang. Tak sekadar memantulkan cahaya, tetapi tampak menghasilkan cahaya mereka sendiri.

Dinding ruang pamer itu seketika tampak penuhi figur-figur menyala. Para pengunjung yang berdiri di depannya terlihat hanya sebagai siluet. Sosok-sosok itu memberi kontras yang kuat pada lukisan-lukisan yang menyala itu. Tidak ada trik kamera. Warna-warna fluoresen di kanvas merespons sinar UV dengan cara yang nyaris magis.

Di antara pengunjung, tampak sosok kurus berpakaian unik. Motif-motif di pakaian itu bercahaya serupa dengan figur-figur pada lukisan yang dipamerkan. Sosok itu adalah Daniel Kho, si pelukis. Ia mengenakan kemeja putih panjang menyerupai jubah yang ia lukis dengan cat fluorescent serupa dengan yang ia buat di kanvas-kanvasnya. Dalam cahaya UV, tubuhnya menjadi bagian dari semesta ciptaannya. Ia tak lagi sekadar pencipta, tetapi sekaligus penghuni dunia yobHen.

Masa kecil kurang Bahagia?
Ketika ditanya apakah ia adalah anak kecil yang terjebak dalam tubuh dewasa atau orang dewasa yang belum mau melepaskan pikiran kanak-kanaknya, dengan nada berseloroh Daniel menjawab, “Masa kecil kurang bahagia.” Lalu ia menambahkan bahwa pikiran anak-anak adalah pikiran paling murni, tanpa prasangka, tanpa intrik, tanpa kebencian, tanpa diskriminasi, sebelum dunia orang dewasa merusaknya.

Filosofi itu bersinggungan erat dengan judul pameran: yobHen, yang berasal dari ungkapan Jawa “Yo ben”—yang berarti “Ya, biarkan saja… seperti apa pun jadinya.” Sebuah sikap pasrah yang bukan menyerah, tetapi membiarkan sesuatu menjadi dirinya sepenuhnya. Dunia anak-anak bekerja dengan cara itu: membiarkan imajinasi muncul tanpa kontrol, tanpa malu, tanpa takut salah.

Dan malam itu, di bawah sinar UV, dunia yobHen menunjukkan apa jadinya sebuah dunia ketika kita membiarkannya hidup dengan caranya sendiri.

Kejujuran Naif dan Tradisi Panjangnya
Jika UV menawarkan keajaiban, maka cahaya normal menawarkan kejujuran. Saat lampu galeri menyala terang, karya-karya Daniel memperlihatkan struktur aslinya: garis tebal yang matang, komposisi yang tertata, dan bentuk-bentuk yang tampak lahir dari spontanitas yang terkontrol. Pada titik inilah terlihat jelas bahwa karya-karya tersebut berada dalam tradisi seni naif (naïve art)—sebuah tradisi yang merayakan kejujuran visual dan penolakan terhadap pretensi.

Dalam kondisi normal, makhluk-makhluk neon itu tampak seperti karakter cerita anak-anak: sederhana, jujur, polos, dan penuh energi ramah. Warna-warna cerahnya tidak melompat seperti dalam UV, tetapi menonjol secara wajar, mengingatkan pada dunia crayon, kapur warna, atau buku gambar anak-anak yang masih perawan dari aturan perspektif akademik.

Jejak estetika naif ini beresonansi dengan karya Henri Rousseau, si seniman autodidak Perancis yang dianggap lugu tetapi akhirnya dihormati karena dunia imaginer yang bebas aturan; Jean Dubuffet dan tradisi Art Brut, yang merayakan visual murni dan spontan tanpa tekanan institusi seni; Paul Klee, dengan kepolosan struktur dan kegembiraan warna yang sering dianggap sebagai “lukisan oleh anak yang sangat cerdas”.

Di Indonesia, gaya ini berdekatan dengan semangat Uji “Hahan” Handoko Eko Saputro yang hadir dengan spirit pop, komikal, dan anti-kemapanan; Wedhar Riyadi yang akrab dengan figur mutan yang bebas dari proporsi akademis dan menggunakan pola-pola visual yang membentuk dunia imajinatif sendiri; dan Naufal Abshar yang mengusung gaya naif-pop yang ringan, jenaka, dengan warna cerah dan karakter yang friendly.

Tidak Peduli Validasi
Karya yang “anti-kemapanan” lahir dari pribadi yang juga tidak terlalu peduli dengan kemapanan. Daniel Kho adalah seniman yang tidak mengejar struktur formal pameran, tidak sibuk dengan ritual pembukaan, dan tidak berusaha menempatkan dirinya dalam hierarki seni yang kaku. Ia tidak membopong teori berat; ia tidak membangun jarak antara penonton dan karyanya dengan bahasa kuratorial yang berliku.

Pengantar pameran dalam katalog yobHen pun mencerminkan itu: bukan esai panjang dari seorang kurator, tetapi tulisan sederhana yang ia buat sendiri. Ia menyebut kuratornya sebagai “Aqdhewe” (aku dhewe) —yang dalam bahasa Jawa berarti “aku sendiri”.

Ini bukan sekadar lelucon, tetapi prinsip kerja: ia ingin dunia yobHen dijelaskan oleh orang yang hidup di dalamnya, bukan oleh institusi seni yang berdiri di luarnya.

Ketika dipadukan, makna “Yo ben”, estetika naif, fluoresensi, dan sikap nonseremonial Daniel menghasilkan sebuah pameran yang benar-benar otentik. yobHen bukan pameran yang memamerkan kemahiran teknis, tetapi keberanian menjadi jujur, keberanian membiarkan dunia tampil apa adanya, tanpa konstruksi akademik atau formalitas berlebih.

Secara keseluruhan, pameran ini adalah perayaan kebebasan batin. Kebebasan untuk kembali menjadi anak-anak, kebebasan untuk tidak takut salah, kebebasan untuk membiarkan diri tumbuh tanpa dikendalikan. Atau dengan kata lain: yobHen—ya, biarkan saja. Karena dari sikap membiarkan itulah sebuah dunia baru bisa menyala.[bekraf/agung bawantara]

 

By Bekraf

Related Post