Fri. Apr 4th, 2025

Festival Bali-Sangga Dwipantara IV Meriahkan Wisuda Sarjana Tiga Strata ke31 di ISI Denpasar

GELARAN Festival Nasional Bali Sangga Dwipantara (BSD) IV membuat Wisuda Sarjana, Sarjana Terapan, Magister, dan Doktor XXXI Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar-Bali menjadi meriah dan Istimewa. Acara diselenggarakan pada Jumat (23/2/ 2024) di Gedung Citta Kelangen Lt. 3 ISI Denpasar berbarengan dengan penyerahan anugerah prestisius Bali-Dwipantara Nata Kerthi Nugraha 2024 kepada lima tokoh yang berdedikasi di bidang seni dan budaya.

Tema dari festival BSD IV ini adalah “Manawa-Mukti-Manu” atau Mulia Manusia Indonesia, yang menekankan pentingnya membangun peradaban dengan menjunjung tinggi prinsip kepatutan sosial dan perayaan jiwa bangsa. Festival ini menyediakan ruang bagi beragam karya seni dan budaya dari berbagai tokoh, maestro, seniman, desainer, akademisi, pekerja kreatif, dan mahasiswa dari lintas Universitas/Institut di Indonesia.

Menurut Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan ‘Kun’ Adnyana, tema “Manawa-Mukti-Manu” dipilih untuk menegaskan pemaknaan bahwa, “Manusia Indonesia yang Mulia, adalah Ia atau Kita yang membangun peradaban dengan meneguhkan prinsip kepatutan sosial, dan perayaan jiwa bangsa yang terberkati semesta (Suksmaning Rahayu),” tutur mantan Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali ini.

Mengenai acara wisuda, tercatat 374 wisudawan mengikuti seremoni kelulusan, dengan rincian 367 wisudawan program sarjana dan sarjana terapan, dua wisudawan program magister, dan lima wisudawan program doktor. Acara wisuda ini tidak hanya merupakan penanda keberhasilan para lulusan, tetapi juga menjadi momentum berharga untuk menghargai perjalanan akademik mereka.

Menyejajari gelaran festival, ISI Denpasar memanfaatkan momentum acara wisuda ini untuk memberikan penghargaan kepada lima tokoh yang telah berdedikasi dalam memajukan seni dan budaya Indonesia. Mereka adalah Made Taro (maestro tradisi lisan), , Tjokorda Raka Tisnu (seniman tari dan pematung topeng), Jais Hadiana Dargawijaya (kolektor seni), I Gede Suyadnya (jurnalis), dan Ali Nasrulloh (desainer mode). Penghargaan ini menjadi pengakuan atas kontribusi mereka yang luar biasa dalam bidang seni dan budaya.

Pada acara tersebut dilakukan juga orasi ilmiah dengan judul “Rare Angon” (Tembang Rare Mulia Manusia Indonesia) yang disampaikan oleh Made Taro, seorang maestro tradisi lisan. Orasi ini menjadi refleksi atas nilai-nilai kearifan lokal dan kebudayaan Indonesia yang kaya.

Prestasi dan Capaian
Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan ‘Kun’ Adnyana, dalam sambutannya mengungkapkan rasa bangga atas prestasi para wisudawan dan capaian ISI Denpasar. ISI Denpasar telah meraih berbagai penghargaan dan prestasi, menunjukkan dedikasi dan komitmen mereka terhadap pendidikan dan pengembangan seni dan budaya. Prof. Kun juga mengatakan bahwa keseluruhan wisudawan sarjana dan sarjana terapan merupakan mahasiswa yang lulus Program Pembelajaran Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Mereka melaksanakan praktik dan pencerapan langsung pada Dunia Usaha-Dunia Industri (DUDI), serta memasuki pengalaman ekosistem seni dan desain yang sesungguhnya.

“Tahun 2023, MBKM ISI Denpasar melibatkan 345 mitra bereputasi dari kalangan DUDI, satuan pendidikan, maestro, sanggar seni, Desa/Kelurahan, dan Desa Adat. Mahasiswa bersama mentor dan dosen pembimbing berkolaborasi membangun visi yang padu, progresif dalam inovasi, kontekstual, dan berorientasi masa depan” terang Guru Besar Sejarah Seni ini.

Selain itu, Prof. Kun juga mengungkapkan bahwa ISI Denpasar terus menjalin kerja sama dengan institusi terkemuka di dunia, yang mencerminkan posisinya sebagai Global-Bali Arts and Creativity Centre Hub (G-BACCH); Pusat Hub Kreativitas dan Seni Tingkat Global.

Sementara itu Prof. Ir. Nizam, M.Sc., DIC., Ph.D., IPU, ASEAN.Eng (Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi) menyampaikan apresiasi dan harapannya terhadap para wisudawan dan wisudawati atas gelar baru yang diperoleh. Dia menekankan pentingnya seni dalam memuliakan manusia dan membawa seni Indonesia ke panggung dunia.
Prof. Nizam mengakui seni sebagai salah satu kekayaan budaya bangsa. Setiap daerah memiliki keunikan melalui ekspresi seni yang menjadi salah satu kunci kemajuan bangsa. “Seni adalah pemersatu bangsa, seni adalah ekspresi dari kemanusiaan, seni adalah ekspresi dari kreatifitas dan ekspresi dari rasa. Untuk itu, karya anda akan selalu dinanti oleh keluarga, masyarakat, bangsa dan negara,” tutur Prof. Nizam melalui rekaman video.

Menandai dibukanya festival, ISI Denpasar mempersembahkan pergelaran Bali-Dwipantara Bhakti (Umah Bersama Nusantara), bertajuk “Sangkan Paran Paraga”. Pergelaran ini menyajikan gabungan Wayang Kini, Tera Raga, Olah Tubuh, dan Bunyi Pitu yang merupakan hasil karya dosen dan mahasiswa ISI Denpasar.

Acara ini tidak hanya menjadi momen bersejarah bagi para wisudawan, tetapi juga mengukuhkan posisi ISI Denpasar sebagai pusat pengembangan seni dan budaya yang berpengaruh di Indonesia.*** [BEKRAF/rls]

By Bekraf

Related Post