STHALA Ubud Village Jazz Festival (Sthala UVJF) 2026 tidak hanya menawarkan pertunjukan musik, tetapi juga menghadirkan pengalaman yang mengajak pengunjung merefleksikan hubungan manusia dengan alam. Mengusung tema Island Life, festival tahun ini memadukan jazz, seni instalasi, arsitektur, serta berbagai inisiatif keberlanjutan untuk mengangkat keindahan sekaligus tantangan yang dihadapi Pulau Bali.
Tim artistik Sthala UVJF, Diana Surya, mengatakan tema Island Life dipilih untuk merepresentasikan kehidupan di Bali secara lebih utuh. Tidak hanya menampilkan pesona alam dan budayanya, festival juga mengajak publik melihat berbagai persoalan lingkungan yang kini dihadapi pulau tersebut.
“Di Bali itu kan island. Kami tidak hanya merepresentasikan indahnya Pulau Bali, tetapi juga masalah-masalah yang sedang dihadapi Bali. Nanti pengunjung akan menemukan instalasi yang berbicara tentang sampah dan berbagai isu lingkungan yang kami hadirkan dalam bentuk karya seni,” ujarnya dalam konferensi pers Sthala UVJF di Denpasar, Kamis (30/7).
Konsep tersebut diterjemahkan melalui penataan venue yang memanfaatkan kontur alami kawasan Sthala Ubud. Tahun ini Sthala UVJF menghadirkan tiga area pertunjukan dengan karakter berbeda, yakni Panggung Giri yang merepresentasikan gunung, Panggung Kolaborasi sebagai ruang pertemuan berbagai aktivitas kreatif, dan Panggung Subak yang menggambarkan unsur air di kawasan sungai.
Ketiga panggung itu dirancang sebagai perjalanan simbolik dari hulu menuju hilir. Pengunjung diajak menyusuri ruang yang menghadirkan elemen gunung, daratan, hingga kehidupan bawah air sebagai representasi ekosistem Pulau Bali.
Selain melalui tata ruang, semangat keberlanjutan juga diwujudkan dalam penyelenggaraan festival. Untuk pertama kalinya, Sthala UVJF memanfaatkan energi surya sebagai sumber listrik bagi salah satu panggung dan fasilitas charging station bagi pengunjung.
“Gagasan ini sebenarnya sudah lama ingin kami wujudkan, tetapi baru tahun ini bisa terlaksana. Pengunjung nanti bisa mengisi daya ponsel menggunakan listrik yang berasal dari tenaga matahari,” kata Diana.
Upaya mengurangi jejak lingkungan juga diterapkan melalui konsep zero waste yang telah menjadi ciri khas Sthala UVJF dalam beberapa tahun terakhir. Panitia tetap menerapkan sistem gelas pakai ulang dengan mekanisme deposit sehingga penggunaan gelas sekali pakai dapat ditekan.
Setiap pengunjung akan menerima gelas yang dapat digunakan berulang kali selama festival berlangsung. Gelas tersebut dapat ditukar dengan yang bersih di sejumlah titik layanan, dikembalikan untuk memperoleh kembali uang deposit, atau dibawa pulang sebagai suvenir. Kebijakan ini diterapkan untuk mengurangi timbulan sampah, termasuk penggunaan gelas berbahan kertas yang dinilai masih mengandung lapisan plastik.
Panitia juga mendorong para tenant kuliner menggunakan wadah ramah lingkungan, seperti daun pisang dan perlengkapan makan tradisional, sebagai bagian dari upaya mengurangi plastik sekali pakai.
Kolaborasi dengan berbagai komunitas kreatif turut memperkuat konsep festival tahun ini. Sthala UVJF menggandeng Kalapatra, kolektif seniman berbasis di Ubud, Chiko Living dan Joring Bamboo Innovation untuk menghadirkan eksplorasi arsitektur bambu, serta Eco Games yang menyajikan permainan edukatif bertema lingkungan bagi anak-anak. Berbagai workshop, instalasi seni, dan pameran juga menjadi bagian dari pengalaman festival.
Bagi Diana, seluruh elemen tersebut dirancang agar pengunjung tidak hanya menikmati pertunjukan musik jazz, tetapi juga memperoleh pengalaman yang lebih luas tentang seni, desain, dan keberlanjutan.
“Venue tahun ini bukan hanya tempat menikmati musik. Kami ingin menghadirkan ruang yang mempertemukan seni, desain, kreativitas, dan kepedulian terhadap lingkungan dalam satu pengalaman festival,” ujarnya.
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 akan berlangsung pada 7–8 Agustus 2026 di Sthala Ubud Bali, A Tribute Portfolio Hotel, menghadirkan puluhan musisi dari Indonesia dan berbagai negara, sekaligus memperkuat posisinya sebagai festival yang memadukan kualitas artistik dengan praktik penyelenggaraan yang lebih berkelanjutan. [bekraf/abe]
