Catatan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026, Hari Pertama
Menjelang sore, Ubud seperti menyediakan panggungnya sendiri. Bukan panggung dalam pengertian konstruksi besi, lampu dan pengeras suara. Tetapi sebuah lanskap yang sebenarnya sudah selesai sebelum manusia datang: pepohonan, sungai, batu-batu besar, udara yang mulai mendingin, dan suara alam yang sesekali menyelinap di antara bunyi instrumen.
Di tempat seperti itulah Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 dimulai. Festival yang telah berjalan sejak 2013 itu memasuki penyelenggaraan ke-13. Selama dua hari, 7–8 Agustus 2026, STHALA Ubud Bali, A Tribute Portfolio Hotel, berubah menjadi sebuah kampung kecil jazz.
Bukan satu panggung besar dengan ribuan manusia menghadap ke arah yang sama. Ada tiga ruang dengan watak berbeda. Giri Stage menjadi panggung utama. Subak Stage berada di tepi sungai, berlatar bebatuan dan pepohonan beringin. Sementara Community Stage menjadi ruang yang lebih cair: orang datang, duduk, makan, minum, mengobrol, lalu mendengarkan jazz dari piringan hitam yang dimainkan Westside Vinyl DeeJays.
Tiga panggung itu berdekatan, tetapi tidak terasa seperti tiga ruang yang saling berebut perhatian. Mereka justru seperti tiga kamar dalam sebuah rumah. Dan mungkin kata rumah merupakan metafora yang tepat untuk memahami festival ini. Karena Ubud Village Jazz Festival sejak awal bukan hanya dibangun sebagai tempat orang membeli tiket dan menonton musisi. Ia dibangun dari komunitas.

“Karena UVJF itu basic-nya juga dari komunitas, maka ruang-ruang seperti ini memang perlu ada,” kata Diana Surya tentang keberadaan Community Stage.
Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi sesungguhnya menjelaskan filosofi sebuah festival.
Festival untuk Orang Bertemu
Community Stage berada di jalur yang menghubungkan area-area festival. Orang yang bergerak dari Giri Stage menuju Subak Stage melewatinya. Demikian juga sebaliknya. Westside Vinyl DeeJays memainkan piringan hitam. Di sekelilingnya ada makanan dan minuman. Orang berhenti. Berbincang. Bertemu teman. Kadang mendengarkan musik dengan serius, kadang membiarkannya menjadi latar percakapan.
Jazz tidak memaksa semua orang menatap panggung. Di sanalah karakter UVJF terasa. Festival ini tidak membuat jarak yang terlalu besar antara musisi, penonton dan komunitas. Bahkan seusai pertunjukan, musisi masih bisa ditemui dan diajak berbincang. Anak-anak mempunyai ruang untuk bermain dan menggambar sambil musik tetap berjalan. Ada keluarga, wisatawan, musisi, orang-orang dari berbagai bangsa yang datang sendiri. Mereka tidak selalu mengenal satu sama lain ketika datang. Tetapi festival memberi alasan bagi mereka untuk berada dalam ruang yang sama.
Itulah pekerjaan yang berada di wilayah Diana Surya dan Kelik Suantara: bukan sekadar memastikan acara berjalan, tetapi ikut membangun atmosfer tempat orang merasa diterima. Namun atmosfer itu tidak tercipta dengan sendirinya. Bersama mereka mengubah gagasan menjadi bentuk fisik. Mereka merancang layout venue, look stage, dan elemen-elemen dekorasi festival. Ini pekerjaan yang aneh. Kalau dikerjakan buruk, semua orang akan menyadarinya. Kalau dikerjakan sangat baik, banyak orang justru tidak memikirkannya.
Mereka hanya berkata:
“Tempatnya enak.”
“Panggungnya bagus.”
“Suasananya indah.”
Padahal di belakang perasaan “enak” itu terdapat keputusan-keputusan ruang. Di mana panggung diletakkan? Dari mana penonton masuk? Bagaimana mereka berpindah antarpanggung? Apa yang harus diterangi? Apa yang justru sebaiknya dibiarkan gelap? Dan ada persoalan yang jauh lebih sulit ketika tempatnya adalah Ubud. Bagaimana membuat desain tanpa merusak sesuatu yang sejak awal sudah indah?
Subak Stage adalah contoh paling jelas. Panggung itu berada di tepi sungai dengan pepohonan dan batu sebagai bagian dari latarnya. Dalam situasi semacam itu, desain yang berlebihan justru bisa menghancurkan suasana. Maka panggung tidak boleh berteriak lebih keras daripada alam. Lampu harus hadir tetapi tidak menghapus malam. Dekorasi harus memberi identitas tetapi tidak menjadikan pepohonan sekadar ornamen. Diana dan Kelik bekerja pada paradoks itu. Mereka membangun festival dengan cara yang justru membuat sebagian konstruksinya terasa tidak hadir.
Siapa yang Layak di Panggung?
Setelah ruang tersedia, muncul persoalan yang lebih mendasar. Siapa yang akan bermain?
Di sinilah Yuri Mahatma bekerja. Yuri bukan sekadar orang yang mencari nama musisi.
Dibantu Astrid Maulana, ia melakukan kurasi. Siapa yang menarik secara musikal? Siapa yang sesuai dengan karakter UVJF? Apa yang hendak diperlihatkan festival tahun ini? Bagaimana musisi Indonesia dipertemukan dengan musisi internasional tanpa menjadikan mereka sekadar pembuka bagi nama asing? Dan bagaimana membangun jaringan agar musisi dari berbagai negara bersedia datang ke sebuah festival di Bali?
Jaringan itu mungkin merupakan salah satu aset UVJF yang paling mahal—meskipun tidak tercetak di neraca. Sebab seorang musisi internasional tidak tiba di Ubud hanya karena seseorang mengirim surat elektronik enam bulan sebelumnya.
Di dunia musik, kepercayaan berjalan melalui manusia. Seseorang mengenal seseorang. Seorang musisi merekomendasikan festival kepada musisi lain. Institusi kebudayaan mempercayai penyelenggara. Promotor berkenalan. Hubungan tumbuh. Tahun demi tahun.
Maka ketika nama-nama dari Prancis, Jepang, Thailand, Belanda, Nepal dan Indonesia muncul dalam satu festival, yang kita lihat hanyalah ujung dari jaringan yang dibangun jauh sebelum lampu panggung dinyalakan.
Festival 2026 memperlihatkan karakter internasional itu dengan jelas. Bahkan pada rangkaian dua harinya, UVJF mempertemukan berbagai kolaborasi lintas negara dan memperoleh dukungan jaringan kebudayaan seperti Institut Français Indonésie dan Erasmus Huis.
Di dalam mesin itu, Yuri menjadi salah satu orang yang terus merawat hubungan musikal UVJF dengan dunia.

Mendengar Lebih dari Sekadar Musik
Kalau Yuri berpikir tentang siapa yang bermain, A.A. Anom Darsana harus memastikan sesuatu yang sangat mendasar: Ketika mereka bermain, apakah musiknya terdengar sebagaimana seharusnya? Anom memiliki latar kuat dalam sound engineering. Dalam jazz, ini bukan persoalan kecil. Jazz hidup dari detail. Sentuhan ringan pada simbal. Dinamika piano. Jarak antara satu nada dengan nada berikutnya. Karakter bas. Improvisasi yang terjadi sesaat dan mungkin tidak pernah dimainkan persis sama lagi. Sistem suara yang buruk dapat meratakan semua detail itu menjadi sekadar bunyi keras.
Tetapi Anom tidak hanya berada di wilayah teknis. Bersama Yuri, ia juga ikut membangun jaringan festival ke berbagai negara dan memikirkan UVJF dalam skala yang lebih besar. Mungkin itulah sebabnya perannya unik. Ia bekerja pada dua ekstrem sekaligus. Di satu sisi ia harus peduli pada hal sangat kecil—bunyi sebuah instrumen. Di sisi lain ia harus melihat sesuatu yang sangat besar—masa depan sebuah festival.
Ada pula Pranita Dewi. Wilayahnya mungkin tidak sekeras suara drum dan tidak sevisual panggung. Tetapi sebuah festival membutuhkan media. Dan media berurusan dengan manusia. Wartawan membutuhkan informasi. Fotografer membutuhkan akses. Orang ingin bertanya. Ada jadwal yang berubah. Ada nama yang harus dikonfirmasi. Ada musisi yang ingin diwawancarai. Pranita membantu urusan pemediaan itu dengan pendekatan yang hangat dan ramah. Keramahan terdengar seperti sesuatu yang kecil. Dalam penyelenggaraan acara, ia sebenarnya merupakan infrastruktur. Orang mengingat bagaimana mereka diperlakukan. Wartawan yang memperoleh informasi dengan baik dapat bekerja dengan baik. Tamu yang disambut dengan hangat membawa pulang pengalaman baik.
Cerita festival kemudian bergerak lebih jauh daripada venue. Dalam kebudayaan Bali, kita mengenal pentingnya orang yang memastikan tamu datang dan merasa diterima. Sebuah gaé tidak hanya membutuhkan orang yang bekerja di dapur atau memimpin upacara. Ia juga membutuhkan wajah yang menyambut.
Hari Pertama: Cerita Dimulai
Malam pembukaan UVJF 2026 menghadirkan Salamander Big Band, sekaligus menandai hadirnya pameran seni pop-up pertama dalam sejarah festival. Tetapi ada satu hal lain yang penting. Di antara nama-nama yang tampil terdapat Rason Trio, dipimpin gitaris muda Rason Wardjojo. Rason Trio menjadi bagian dari program preservation of Jazzistry—upaya UVJF memberi ruang kepada generasi muda.
Ini penting. Sebab festival jazz bisa dengan mudah menjadi museum. Nama-nama besar datang. Penonton mengagumi. Lalu selesai. UVJF tampaknya memilih jalur berbeda. Musisi senior dan internasional tetap penting, tetapi panggung juga harus menjadi tempat seseorang memulai perjalanan. Dengan demikian festival bukan hanya menunjukkan siapa yang sudah besar. Ia juga mencoba menyediakan ruang bagi siapa yang mungkin besar kelak.
Itulah salah satu benang merah festival tahun ini: regenerasi. Dan benang itu akan terlihat semakin jelas pada malam berikutnya. Penonton pada malam pertama tentu tidak harus mengetahui seluruh keruwetan itu. Mereka datang untuk menikmati musik. Begitulah seharusnya. Mereka tidak perlu mengetahui berapa banyak telepon dilakukan Yuri. Berapa kali rancangan ruang dipikirkan Kelik. Berapa banyak detail suara diperiksa Anom. Berapa urusan harus dibereskan Diana. Atau berapa pertanyaan media harus dijawab Pranita. Justru mungkin ukuran keberhasilan sebuah festival adalah ini: semakin rumit pekerjaan di belakangnya, semakin sederhana pengalaman yang diterima penonton.

Orang cukup datang, berjalan di antara panggung, duduk, menatap pohon, mendengar sungai, mendengar jazz, bertemu seseorang, kemudian pulang dengan perasaan bahwa sebuah malam di Ubud baru saja berlangsung dengan sangat alami. Padahal tidak ada festival yang terjadi secara alami. Ada orang-orang yang membuatnya terlihat demikian. Dan malam itu baru hari pertama. Esok hari, festival akan menjadi lebih ramai. Musisi dari berbagai generasi dan negara akan kembali memenuhi tiga panggung.
Dan ketika hari kedua berakhir, akan muncul sebuah pertanyaan yang jauh lebih menarik daripada siapa musisi terbaik malam itu: Mengapa orang-orang ini terus membuat festival yang bahkan tidak selalu memberi mereka keuntungan? [bekraf/agung bawantara]
