MENGHADIRKAN festival jazz bertaraf internasional bukan perkara mudah, terlebih ketika dukungan pendanaan terbatas. Namun, semangat kebersamaan komunitas, dukungan sponsor, media, hingga jejaring internasional menjadi kekuatan yang membuat Sthala Ubud Village Jazz Festival (Sthala UVJF) tetap mampu menyapa penikmat musik pada penyelenggaraannya yang ke-13 tahun ini.
Di balik kehadiran puluhan musisi dari berbagai negara, tersimpan perjuangan panjang panitia untuk menjaga festival tetap berlangsung. Co-founder Sthala UVJF, Anom Darsana, mengakui penyelenggaraan tahun ini menjadi salah satu yang paling menantang dari sisi pembiayaan.
“Tahun ini kami benar-benar berjuang. Dengan dana yang sangat terbatas kami harus menghadirkan festival sebesar ini. Kalau festival ini masih bisa berjalan, itu karena dukungan begitu banyak pihak,” ujarnya dalam konferensi pers Sthala UVJF di Denpasar, Kamis (30/7).
Menurut Anom, salah satu kekuatan terbesar Sthala UVJF justru datang dari komunitas yang selama bertahun-tahun tumbuh bersama festival. Dukungan itu hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari kerja sama para sponsor, penyedia sistem suara dan pencahayaan, para musisi, hingga media yang secara konsisten membantu menyebarluaskan gaung festival.
“Tanpa mereka, tanpa media juga, terus terang kami tidak akan berjalan,” katanya.
Semangat kolaborasi tersebut juga tampak dari keterlibatan berbagai komunitas kreatif yang mendukung penyelenggaraan festival. Tim artistik menggandeng kelompok seniman, arsitek, pelaku inovasi bambu, hingga pegiat lingkungan untuk menghadirkan pengalaman festival yang lebih kaya daripada sekadar pertunjukan musik.
Dukungan juga datang dari mitra penyelenggara. General Manager Sthala Ubud Bali, Lasta Arimbawa, mengatakan kerja sama yang telah terjalin selama empat tahun terakhir berangkat dari kesamaan visi untuk mendukung budaya, komunitas lokal, dan kreativitas.
Menurutnya, festival seperti Sthala UVJF tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga mempertemukan musisi dan penikmat jazz dari berbagai negara, sekaligus memberikan dampak positif bagi pariwisata dan ekonomi kreatif Bali.
Di tingkat internasional, kepercayaan terhadap Sthala UVJF juga terlihat dari dukungan pemerintah dan lembaga kebudayaan berbagai negara yang membantu kehadiran para musisinya ke Bali. Sejumlah penampil dari Belanda, Prancis, Jepang, Italia, Thailand, hingga Vietnam memperoleh dukungan dari kedutaan maupun institusi kebudayaan negara asal masing-masing.
Co-founder Sthala UVJF, Yuri Mahatma, menilai dukungan tersebut menunjukkan bahwa festival yang dibangun oleh komunitas di Bali telah memperoleh pengakuan dari jejaring seni internasional.
Hal itu juga diakui drummer asal Italia, Simone Prattico, yang kembali tampil di Sthala UVJF tahun ini. Ia menilai festival di Ubud memiliki reputasi yang baik di kalangan musisi internasional karena tetap menjaga kualitas artistik sekaligus membuka ruang kolaborasi dengan musisi Indonesia.
Bagi Anom Darsana, seluruh dukungan tersebut menjadi energi bagi panitia untuk terus mempertahankan Sthala UVJF sebagai festival yang tumbuh dari komunitas.
“Festival kami mungkin tidak sebesar festival-festival lain. Tetapi kami memiliki komitmen yang terus kami jaga. Itu yang membuat kami tetap berjalan sampai hari ini,” katanya.
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 akan digelar pada 7–8 Agustus di Sthala Ubud Bali, A Tribute Portfolio Hotel. Memasuki usia ke-13, festival ini kembali menghadirkan puluhan musisi dari Indonesia dan berbagai negara, sekaligus membuktikan bahwa semangat komunitas tetap menjadi fondasi utama lahirnya sebuah festival jazz bertaraf internasional. [bekraf/abe]
