Sun. Aug 16th, 2026

Pertemuan Musik, Seni, Budaya dan Manusia di Ubud FolkFest 2026

Sebuah festival sejatinya bukan hanya soal siapa yang tampil di atas panggung. Ia adalah ruang pertemuan. Orang datang membawa selera, pengalaman dan latar berbeda. Pertunjukan kemudian membuka percakapan, perkenalan melahirkan kolaborasi, dan pengunjung tidak hanya menjadi penonton. Gagasan itulah yang dibawa Ubud FolkFest 2026, yang berlangsung pada 14–15 Agustus 2026 di Biji World, Ubud.

Memasuki tahun kelima, Ubud FolkFest menegaskan diri bukan semata festival musik. Selama dua hari, festival menghadirkan tiga panggung musik, galeri seni, pertunjukan budaya, workshop, Kids Art Zone, art market, record store, drum circle hingga ruang berbagi gagasan. Pengunjung diajak tidak hanya menonton, tetapi juga belajar, mencoba, bermain, berdiskusi dan ikut berkarya.

Musisi Bali dan berbagai daerah Indonesia bertemu dengan penampil mancanegara. Deretannya antara lain Navicula, Iksan Skuter, Ary Juliyant, Anda Perdana, Catur Hari Wijaya & The Sound Nomads, Supa Kalulu, Orasare, Abink Ferry, WLBY, Tarawangsa, Nata Swara, Neo Nolin, Celticroom Bali, Aji Sang Aji, Kerta Art, dan Pondok Pekak. Warna internasional hadir melalui Managona dari Taiwan, SUNZ dari Selandia Baru, serta Tanya George dari Australia.


Folk, rock, alternative, musik tradisional hingga eksperimental hadir berdampingan. Keragaman itu memungkinkan pengunjung datang untuk satu musisi, lalu pulang dengan menemukan musik lain yang sebelumnya tidak mereka kenal. Festival pun menjadi ruang penemuan.

Seni visual mendapat tempat yang sama pentingnya. Art gallery menampilkan karya Made Bayak, Daniel Kho, Linkan Palenewen, Putu Eni, Dedi Junaedi, Bandrek, mendiang Chay, I.B. Rekha, Ayu Sri Rejeki, Sofiya Shukhova, dan Arina Proboningtyas.

Jadi pengunjung dapat berpindah dari konser ke pameran, mengikuti workshop, lalu kembali ke panggung musik. Seni rupa bukan sekadar pelengkap, tetapi bagian dari keseluruhan pengalaman festival.

Cerita Singkat, Gagasan Besar
Ubud FolkFest tahun ini juga menghadirkan Fast Forward Ubud dengan konsep “Short Stories. Big Ideas. Get Inspired.” Enam pembicara berbagi pengalaman dan gagasan dalam format singkat: Sandrina Malakiano, entrepreneur dan motivational speaker; Rudolf Dethu, Co-founder Rumah Tanjung Bungkak; James Sukadana, musisi dan vokalis Manja; Shinta Retnani, documentary filmmaker dan visual anthropologist; Gede Robi Navicula, musisi, petani dan aktivis; serta Mark Feldman, kolektor seni dan investor.

Cerita personal menjadi pintu masuk untuk membicarakan gagasan yang lebih besar. Dengan demikian, festival menyediakan panggung bukan hanya bagi musik, tetapi juga bagi pengalaman dan pemikiran.


Semangat partisipatif diperkuat melalui berbagai kegiatan gratis, mulai dari Traditional Dance, Kamasan Art, Art Stamping, Live Drawing Model, Social Canvas, Tie Dye, Flow Art, Breakdance, Manual Brew, Drum Circle, hingga Kids Art Zone. Art market dan record store melengkapi ruang tersebut.

Khusus anak-anak, Kids Art Zone menjadi tempat mengenal kreativitas melalui kegiatan yang menyenangkan. Sementara Traditional Dance, Kamasan Art, Tarawangsa dan ekspresi budaya lainnya mempertemukan tradisi dengan kreativitas kontemporer.

Tradisi tidak hanya dipertontonkan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi hadir, dimainkan, dipelajari dan dipertemukan dengan kehidupan hari ini.

Festival kembali digelar di Biji World, creative hub yang menjadi rumah bagi aktivitas musik, seni, event, kuliner, recording dan komunitas kreatif.

Ruang semacam ini penting karena ekosistem kreatif tidak cukup hanya memiliki seniman dan karya. Ia membutuhkan tempat untuk bertemu, bereksperimen dan berkolaborasi.

Kolaborasi Ubud FolkFest dan Biji World sekaligus ikut menjaga Ubud sebagai ruang hidup bagi seni dan budaya. Sebab reputasi Ubud sebagai pusat kebudayaan tidak cukup ditopang sejarah. Ia membutuhkan generasi baru, karya baru dan ruang-ruang baru agar ekosistem kreatifnya terus bergerak.

Berawal dari Ruang Pertemuan
Ubud FolkFest didirikan oleh Rizal Hadi dan Sara Hadi, seniman, event organizers dan music producers, bersama Ida Bagus Oka Genijaya, arsitek dan seniman. Gagasannya sederhana: menciptakan ruang pertemuan bagi musik, seni, budaya dan manusia.

Lima tahun kemudian, gagasan itu berkembang menjadi festival yang mempertemukan musisi, seniman, pelaku budaya, komunitas, keluarga, anak-anak dan pekerja kreatif. Karena itu, nilai sebuah festival tidak hanya dihitung dari jumlah panggung dan penampil. Ia juga tumbuh dari pertemuan yang terjadi di antaranya: percakapan setelah pertunjukan, anak yang pertama kali mencoba berkarya, penonton yang menemukan musik baru, atau seniman yang bertemu calon kolaboratornya.[]

 

 

By Bekraf

Related Post

Redaktur Tamu