MEMASUKI penyelenggaraan ke-13, Sthala Ubud Village Jazz Festival (Sthala UVJF) tetap mempertahankan identitas yang telah dibangunnya sejak awal, yakni menghadirkan pertunjukan jazz dengan kurasi yang konsisten. Komitmen tersebut mendapat apresiasi dari para musisi yang menilai Sthala UVJF berhasil menjaga kualitas artistik tanpa kehilangan ruh musik jazz.
Salah satu pujian datang dari Devi Ferdianto, pendiri sekaligus konduktor Salamander Big Band, yang tahun ini kembali tampil untuk ketiga kalinya di Sthala UVJF bersama lebih dari 30 personel. Menurutnya, di antara berbagai festival yang pernah diikuti, Sthala Ubud Village Jazz Festival merupakan salah satu yang paling konsisten menjaga ruh jazz.
“Kami sudah pernah tampil di Java Jazz, Jak Jazz, dan festival-festival lainnya. Tetapi sejauh pengalaman kami, Sthala Ubud Village Jazz Festival masih menjadi festival yang paling murni menampilkan musisi-musisi jazz,” ujar Devi dalam konferensi pers Sthala UVJF di Denpasar, Kamis (30/7).
Ia menjelaskan, istilah “murni” bukan berarti menutup diri terhadap perkembangan musik, melainkan mencerminkan dedikasi penyelenggara dalam menjaga kualitas artistik festival.
Menurut Devi, tidak mudah mempertahankan sebuah festival jazz ketika penyelenggara harus menghadapi tuntutan biaya produksi yang terus meningkat. Banyak festival akhirnya memilih menghadirkan genre musik lain demi memperluas pasar dan meningkatkan penjualan tiket.
“Festival membutuhkan biaya yang sangat besar. Karena itu banyak yang akhirnya memasukkan genre lain supaya bisa mengundang lebih banyak penonton. Saya tidak menyalahkan itu. Tetapi Sthala UVJF memilih tetap konsisten pada jalurnya,” katanya.
Ia menilai, konsistensi tersebut merupakan bentuk keberanian sekaligus dedikasi yang layak diapresiasi.
“Saya lebih melihat dedikasi, passion, dan konsistensi. Itu yang paling penting. Karena itu kami selalu berusaha hadir di Sthala UVJF meskipun harus membawa rombongan besar dari Bandung ke Bali,” ujarnya.
Kurasi oleh Musisi
Apresiasi serupa datang dari drummer asal Italia Simone Prattico, yang kembali tampil di Sthala UVJF setelah merasakan pengalaman pertamanya beberapa tahun lalu.
Menurut Simone, salah satu keunggulan festival ini adalah karena arah artistiknya ditentukan oleh para musisi, bukan semata-mata oleh pertimbangan komersial.
“Perbedaan besarnya adalah festival ini dijalankan oleh musisi yang memahami musik. Mereka tahu kualitas musik yang ingin ditampilkan. Festival ini bukan hanya dibuat untuk penonton, tetapi juga untuk komunitas musisi,” katanya.
Ia menambahkan, di banyak negara festival sering kali lebih berorientasi pada nama besar dan popularitas. Sementara di Sthala UVJF, kualitas musikal tetap menjadi pertimbangan utama tanpa mengabaikan kebutuhan penonton.
Menurut Simone, keseimbangan itulah yang membuat festival di Ubud memiliki karakter yang berbeda dibandingkan banyak festival jazz di berbagai belahan dunia.
Co-founder Sthala UVJF, Yuri Mahatma, mengatakan sejak awal festival ini memang dibangun bukan untuk mengejar jumlah penonton semata, melainkan menjadi ruang pertemuan musisi, komunitas, dan pecinta jazz dari berbagai negara.
Karena itu, setiap tahun Sthala UVJF berusaha menghadirkan kombinasi antara musisi senior, talenta muda, serta kolaborasi lintas negara agar festival tetap hidup sebagai ruang pertukaran gagasan dan kreativitas.
Komitmen tersebut pula yang membuat Sthala UVJF mampu bertahan hingga penyelenggaraan ke-13. Di tengah perubahan tren industri musik, festival ini tetap mempertahankan identitasnya sebagai ruang yang mengutamakan kualitas artistik, sekaligus menjadi rumah bagi komunitas jazz Indonesia.
Tahun ini, Sthala Ubud Village Jazz Festival akan digelar pada 7–8 Agustus 2026 di Sthala Ubud Bali, A Tribute Portfolio Hotel, dengan menghadirkan puluhan musisi dari Indonesia, Jepang, Italia, Prancis, Belanda, Thailand, Vietnam, Singapura, dan sejumlah negara lainnya. [bekraf/abe]
