Medisa, startup teknologi kesehatan di bawah Baliola, masuk dalam daftar pemenang program Google for Startups: AI Solutions Lab 2025. Ajang ini adalah sebuah innovation sprint yang diselenggarakan selama empat hari mempertemukan 44 startup terpilih dari seluruh Indonesia. Tujuannya, untuk membangun solusi AI generatif yang relevan, berdampak, dan siap diterapkan.
Diselenggarakan sejak 26 November hingga 1 Desember 2025 di markas Google Indonesia, di SCBD Jakarta, program ini berfokus pada pengembangan solusi “End-to-End GenAI” melalui pendekatan intensif yang mencakup ideasi, mentoring langsung dari para pakar, rapid prototyping, hingga final pitch di hadapan dewan juri dari industri teknologi dan bisnis.
Medisa sendiri adalah sebuah platform AI-Health-Tech yang memadukan kecerdasan buatan dan teknologi blockchain untuk menciptakan sistem kesehatan yang lebih cepat, lebih aman, dan lebih manusiawi. Medisa platform ini lahir dari pergulatan kreatif-inovatif di Baliola, sebuah perusahaan teknologi yang mendedikasikan diri pada penemuan solusi-solusi digital bagi berbagai permasalahan di Indonesia.
Pada ajang tersebut, dalam waktu hanya empat hari tim Medisa berhasil membangun Multi Purpose Vehicle (MVP). MVP ini adalah versi awal dari produk yang sudah bisa berfungsi dan menunjukkan kemampuan utamanya, yaitu mengubah percakapan dokter dan pasien menjadi rekam medis terstruktur secara otomatis dalam hitungan detik.

Untuk memastikan keamanan dan keakuratan data, Medisa Voice juga dilengkapi dengan sistem verifikasi berbasis blockchain, sehingga rekam medis digital menjadi lebih aman, transparan, dan tidak mudah dimanipulasi.
Solusi ini dikembangkan oleh empat talenta inti yakni I Putu Gede Arya Ramadika (Co-founder of Medisa, Blockchain Developer), Carissa Almira Yudiva (Co-founder of Medisa, Product & Business Strategy), Azmy Mintaraga (Lead AI Engineer), dan Juan Al Qausar (AI Engineer)
Keikutsertaan mereka di ajang ini membawa misi besar, yakni membangun solusi fungsional yang bisa diuji dalam dunia nyata, bukan hanya ide.
Tantangan, Mentor, dan Validasi Teknis
Proses sprint selama empat hari tersebut bukan sekadar pelatihan, melainkan simulasi nyata pembangunan produk startup berbasis AI dengan standar industri global. Para peserta dibimbing langsung oleh mentor teknis seperti: Iqbal Putra (Senior Machine Learning Engineer, Tridorian) dan Stanley Deve Taherag (Cloud Architect, Tridorian).
Sedangkan enjurian dilakukan oleh nama-nama penting industri antara lain Richie Wirjan (Strategy & Innovation Lead, Astra) dan Dendi Sunardi (Engineering Manager, Tokopedia)

“Salah satu tantangan paling krusial yang dihadapi Medisa adalah deploying End-to-End GenAI Deployment dalam waktu yang sangat terbatas, termasuk setting Google Cloud, Cloud Run, observability, dan model tuning untuk domain medis,” ujar Carissa Almira mewakili timnya. Dan, menurutnya, justru di titik itulah Medisa menunjukkan kelasnya.
Meski Google tidak merilis alasan resmi, penilaian pemenang berdasar pada tiga komponen utama. Pertama, Innovativeness, yakni sejauh mana solusi membawa pendekatan baru dan penggunaan AI yang relevan. Kedua, Technical Feasibility yaitu kualitas eksekusi dan kemampuan untuk diterapkan. Dan, ketiga, Commercial Viability yang menunjukkan seberapa besar potensi bisnis, kebutuhan pasar, dan utilitas di dunia nyata,
Oleh juri, Medisa dinilai selain tampil sebagai solusi teknis, juga hadir sebagai jawaban potensial untuk salah satu tantangan sistem kesehatan Indonesia yakni waktu dokter yang lebih banyak terkuras untuk dokumentasi administrative daripada pelayanan pasien.
Bagi tim Medisa, kemenangan yang membuka akses ke peluang pendanaan hingga $350.000, mentoring lanjutan, dan exposure nasional ini, bukanlah titik puncak.
“Ini adalah melainkan kibaran pertama bendera start bagi kami untuk maju jauh ke depan,” ujar Carissa.

Tentu mereka merasa sangat bangga dan bersyukur. Sebab, ujar Carissa, pengakuan itu menegaskan bahwa ide mereka bukan hanya mungkin, tetapi layak diperjuangkan lebih jauh.
“Yang paling penting, ini menjadi bukti bahwa solusi digital kesehatan dari Indonesia bisa bersaing di level global,” tegasnya.
Setelah memenangi tahap penting ini, kini Medisa bersiap memasuki tahap krusial berikutnya, yakni melakukan Proof of Concept (PoC) dan kemitraan pilot dengan rumah sakit atau klinik yang ingin menguji teknologi ini secara langsung. Hal ini bertujuan untuk mencapai Product-Market Fit dan memastikan bahwa Medisa Voice benar-benar membantu dokter, bukan menambah beban mereka. [bekraf/rls]
