Fri. Apr 17th, 2026

Baliola Bawa Perspektif Trustless by Design ke Black Swan Summit 2026 di Perth

Di tengah percepatan transformasi digital global, Baliola mengambil posisi strategis dalam percakapan lintas teknologi dunia. Hal ini ditandai dengan keikutsertaan Baliola dalam Black Swan Summit 2026 yang berlangsung pada 23–25 Maret 2026 di Perth, Australia.

Forum internasional ini mempertemukan para pemimpin industri, inovator, dan pengambil kebijakan untuk membahas irisan antara kecerdasan buatan (AI), blockchain, komputasi kuantum, dan infrastruktur hijau. Dengan tema besar membangun ekonomi digital yang berpusat pada manusia, ramah planet, dan aman, Black Swan Summit menjadi ruang penting untuk merumuskan arah masa depan teknologi global.

Baliola hadir bukan sekadar sebagai peserta, tetapi sebagai kontributor gagasan. CEO Baliola, IGP Rahman Desyanta (Gede Anta), dijadwalkan berbagi pandangan bersama para pemimpin global, khususnya terkait evolusi peran blockchain dalam membangun kepercayaan digital.

Menurut Anta, salah satu tantangan terbesar dalam adopsi teknologi saat ini adalah cara menjelaskan nilai blockchain di luar narasi yang terlalu sempit.

“Selama ini blockchain sering dipahami hanya sebagai tokenisasi. Padahal yang sedang kita bangun adalah fondasi baru: cyber trust, digital trust, bahkan trustless by design,” ujar Anta.

Ia menekankan bahwa Baliola tengah mengembangkan pendekatan gas abstraction models, sebuah model yang bertujuan menghilangkan kompleksitas biaya transaksi dalam infrastruktur blockchain, sehingga lebih mudah diadopsi oleh pemerintah maupun sektor enterprise.

“Kita ingin menghilangkan hambatan teknis dan biaya di setiap infrastruktur. Dengan model ini, pemerintah dan enterprise mulai melihat bahwa blockchain bukan sekadar token, tetapi sistem kepercayaan baru yang dirancang tanpa ketergantungan pada trust konvensional,” jelasnya.

Konsep “trustless by design” yang diusung Baliola menandai pergeseran mendasar: dari sistem yang bergantung pada kepercayaan institusional menuju sistem yang menjamin kepercayaan melalui desain teknologi itu sendiri.

Namun, Anta juga mengakui bahwa pendekatan ini tidak selalu mudah dipahami.

“Memang tidak mudah menjelaskan ini ke pemerintah atau enterprise. Banyak yang masih kembali ke tokenisasi karena itu yang paling konkret. Tapi sebenarnya, esensinya jauh lebih dalam dari itu,” tambahnya.

Partisipasi Baliola dalam Black Swan Summit 2026 mencerminkan komitmen perusahaan untuk terlibat aktif dalam diskursus global, sekaligus membawa perspektif dari Indonesia, khususnya Bali, ke panggung teknologi dunia.

Selain agenda di Perth, rangkaian Black Swan Summit juga akan berlangsung di India, dengan fokus pada pengembangan keuangan berbasis AI di Odisha. Hal ini menunjukkan bahwa transformasi digital kini bergerak tidak hanya secara global, tetapi juga regional dengan konteks yang semakin spesifik.

Bagi Baliola, momentum ini bukan hanya tentang eksposur internasional, tetapi tentang memperkuat posisi sebagai penggerak ekosistem digital yang mengedepankan kolaborasi, keberlanjutan, dan inovasi berbasis nilai.

Di tengah dunia yang terus berubah dalam hitungan detik, seperti yang disampaikan Anta, pertanyaan yang diajukan Baliola menjadi semakin relevan: bukan lagi sekadar teknologi apa yang kita bangun, tetapi bagaimana kita merancang sistem kepercayaan baru untuk masa depan.[bekraf/rls]

By Bekraf

Related Post