Mon. Jan 19th, 2026

Laut yang Bermimpi tentang Surga


Ulasan Agung Bawantara


DI TENGAH situasi laut masa kini yang kian mengenaskan karena dipenuhi sampah plastik, polusi, dan terumbu karang yang kian rapuh, lukisan ini muncul sebagai sebuah perenungan lembut namun tegas. The Sea That Dreamed of Heaven karya Ni Made Sri Andani (2024) adalah gambaran metaforis tentang apa yang mungkin dibayangkan laut jika ia diberi kesempatan untuk bermimpi: sebuah dunia bawah air yang kembali suci, penuh harmoni, dan berkilau seperti surga.

Melalui lukisan Acrylic di atas Canvas seluas 150 x 150 cm, Ni Made Sri Andani menghadirkan fantasi ekologis yang memadukan unsur spiritual Bali, keindahan laut tropis, dan dilema lingkungan masa kini. Pada lapisan permukaan, lukisan ini tampak seperti alam bawah laut yang meriah dan penuh warna. Namun semakin lama dipandang, semakin terasa bahwa ini bukan representasi realitas—melainkan mimpi laut tentang dirinya sendiri, versi terbaik yang ia rindukan.

Secara visual, lukisan ini menawarkan lanskap bawah laut yang kaya. Terumbu karang tampil dalam warna-warna cerah: ungu, merah muda, kuning, dan hijau neon. Ikan-ikan muncul bukan sebagai bentuk biologis murni, tetapi sebagai makhluk-makhluk hiasan—berpola dekoratif, berornamen seperti perhiasan, dan dikonstruksi ulang dengan sentuhan estetika Bali. Ada kuda laut berukir layaknya ukiran kayu, pari yang tampak seperti dilapisi permata, hingga ikan-ikan dengan sisik geometris seindah mozaik.

Di sisi kiri dan kanan, tampak bangunan suci bergaya Bali tenggelam di dasar laut, sebuah elemen yang memunculkan dua lapisan makna sekaligus. Pertama, Simbol sakralitas, bahwa laut bukan sekadar benda alam, melainkan ruang spiritual yang layak dihormati. Kedua, Simbol tragedi, bahwa peradaban manusia pun akhirnya ikut tenggelam jika alam tidak dijaga.

Yang menarik, sosok Ganesha duduk di antara reruntuhan candi bawah laut. Dewa pengetahuan dan pelindung itu hadir seperti penjaga mimpi, memberi kesan bahwa alam sendiri tengah memohon kebijaksanaan agar manusia kembali waras menjaga bumi.

Di tengah komposisi, seorang penyelam hitam melayang tenang, seolah menjadi tamu yang datang menyaksikan mimpi laut. Tubuhnya serba netral, hitam dan sederhana—berbeda dengan makhluk laut yang berwarna-warni—menandakan bahwa manusia sebenarnya adalah elemen paling asing di dunia ini, namun sekaligus satu-satunya pihak yang dapat menentukan apakah mimpi ini berujung menjadi kenyataan atau sekadar fantasi.

Di dasar lukisan, cangkang tiram terbuka memperlihatkan sebutir mutiara besar. Ini bukan sekadar simbol kemurnian, tetapi juga metafora tentang apa yang mestinya kita jaga: inti kehidupan laut, yang kini justru paling terancam oleh keserakahan manusia.

Dekoratif dan Puitis
Secara teknis, Sri Andani memadukan dua pendekatan: realisme dekoratif dan ornamentasi khas Bali. Setiap detail terasa dirawat dengan teliti: garis halus, motif flora-fauna, dan permainan warna kontras yang hidup. Pada palet biru laut, warna-warna karang yang vibran menjadi pusat perhatian visual, seperti sedang menolak untuk dilupakan.

Komposisinya simetris-longgar, dengan dua bangunan suci sebagai penyeimbang kiri-kanan, dan arus makhluk laut mengalir mengikuti gerakan penyelam. Tata cahaya dari atas—garis-garis matahari yang menembus air—memberi nuansa spiritual sekaligus menghadirkan atmosfer “surga bawah air”.

Teknik akrilik dimanfaatkan secara optimal untuk menghasilkan permukaan bersih, lapisan warna tegas, dan detail dekoratif yang konsisten. Hasilnya adalah karya yang dapat dinikmati sebagai ilustrasi fantasi sekaligus sebagai kritik visual.

Lukisan ini hadir sebagai sindiran halus. Semakin indah mimpi laut ditampilkan, semakin jelas kontrasnya dengan kondisi laut kita hari ini: terumbu karang yang memutih; sampah plastik yang tak ada habisnya; penangkapan ikan yang destruktif; hilangnya habitat; polusi suara hingga mikroplastik.

Dengan menghadirkan dunia laut versi surgawi, Sri Andani sesungguhnya sedang menunjukkan apa yang telah hilang, dan apa yang sementara ini masih mungkin diselamatkan. Semacam pertanyaan ajakan: Jika laut bisa bermimpi, mengapa manusia tidak bisa berbuat lebih untuk mewujudkan mimpi itu? []

 

>> Lebih jauh Tentang Ni Made Sri Andani KLIK DI SINI


 

By Bekraf

Related Post