Ulasan Agung Bawantara
Dalam karya terbarunya yang berjudul “Makara” (2025), perupa Bali Made Gunawan (sebagaimana biasanya) menghadirkan dunia fantasi ritual yang padat, riuh, dan penuh kehidupan. Pada permukaan kanvas, kita melihat seekor makara raksasa, makhluk mitologis yang kerap muncul dalam ikonografi Hindu-Bali, melintas di tengah gelombang biru yang berlapis-lapis. Tubuhnya tidak hanya dibentuk oleh sisik dan ornamen, tetapi juga oleh ratusan figur manusia mini yang menjadi ciri khas Gunawan: berwarna-warni, ceria, seolah merayakan keberadaan sang makhluk air.
Gunawan memadatkan seluruh ruang kanvas berukuran 130cm x 150cm dengan sosok makara berhias patra dan ukiran Bali, yang ia kerjakan dengan detail mikro yang tampak seperti pahatan. Gerombolan manusia mini menunggang, mengiringi, dan beraktivitas di seluruh tubuh makara. Lalu Gunawan menggambarkan ikan-ikan kecil bermahkota dan makhluk air berbelalai (gajah mina), untuk memperkuat lapisan humor dan fantasi yang khas. Terakhir, ia melukiskan gelombang laut bergradasi yang ia susun dengan pola lengkung berulang yang menciptakan ritme visual stabil.
Seluruh elemen pada lukisan cat minyak di atas kanvas ini terikat oleh satu benang merah: kehidupan yang bergerak harmonis di dalam air.
Teknik dan Bahasa Visual
Kekuatan Gunawan terletak pada ornamentasi ekstrem dan struktur kerumunan yang dipetakan dengan sangat rapi. Tubuh makara dipenuhi motif patra, sisik berlapis, dan garis-garis halus yang bekerja seperti teksur ukiran. Meski kompleks, lukisan tetap terkontrol dan mudah dibaca.
Repetisi figur dan motif bukan sekadar estetika, melainkan cara Gunawan menegaskan denyut kehidupan. Keramaian adalah bahasa artistiknya, tetapi keramaian itu selalu tertata.
Lewat “Makara”, Gunawan menyampaikan pesan sederhana namun kuat bahwa ketika manusia memperlakukan air dengan baik, maka air dan seluruh habitatnya akan memperlakukan kita dengan baik pula.
Makara dalam karya ini bukan sosok menakutkan. Ia digambarkan sebagai sahabat, pelindung, sekaligus ruang hidup bagi manusia. Tubuhnya adalah lanskap, sungai, lautan, dan seluruh ekosistem air yang menopang kesejahteraan.
Gunawan mengingatkan bahwa air adalah sumber kehidupan. Air juga merupakan ruang suci yang harus dihormati. Dan, menurutnya, harmoni antara manusia dan air adalah fondasi keberlanjutan kehidupan di muka bumi.
Dalam tradisi Bali, tirtha bukan hanya elemen fisik, tetapi juga energi pemurnian. Gunawan memvisualisasikan filosofi itu dengan kehangatan, humor, dan keindahan ornamentatif yang menjadi ciri khasnya.
“Makara” sebagai Ekosistem Visual
Karya ini bekerja seperti sebuah mini semesta. Untuk pengambaran dunia mikro berupa detail ornamen, karakter kecil, ritme garis. Untuk penggambaran dunia makro ia membuat satu figur raksasa yang memayungi seluruh komposisi.
Gunawan menyatukan dua dunia ini dengan keseimbangan yang jarang ditemukan pada lukisan kontemporer Bali. Ia membuka pintu pada cara baru membaca hubungan manusia–alam, bukan dengan simbol-simbol berat, melainkan melalui keriuhan yang penuh sukacita.
Intinya, “Makara” adalah pengingat halus bahwa air, sebagai sumber kehidupan, tidak hanya perlu dijaga tetapi dirayakan. Dengan gaya personal yang padat, fantasi yang menembus batas, dan sensibilitas lokal yang kuat, Made Gunawan menghadirkan karya yang berakar pada nilai-nilai budaya dan kemanusiaan.[]
>> Lebih jauh tentang Made Gunawan KLIK DI SINI
