Sun. Jan 18th, 2026

Ketika Keindahan Menyamar Pada Tipu Muslihat Made Gunawan

Tipu Muslihat | 150 x 200 cm | Acrylic on Canvas | 2024

Ulasan Agung Bawantara

 

Pernahkah anda mengalami tipu muslihat dan justru menjadi tersadar dan semakin dewasa karenanya?

Pertanyaan sederhana ini menjadi pintu masuk untuk memahami lukisan “Tipu Muslihat” karya Made Gunawan. Pada permukaan, karya ini menyambut kita dengan keriuhan warna dan parade figur unggas antropomorfik yang tampak lucu, lincah, dan jenaka. Mereka memenuhi hampir seluruh bidang kanvas, bergerombol seperti kawanan yang sedang berarak atau bergosip.

Dari kejauhan, semua tampak riang, hampir seperti ilustrasi dongeng penuh humor. Namun begitu mata menelusuri lebih dekat, kita menemukan dinamika lain—sebuah dunia yang sibuk saling menoleh, saling mengamati, saling menimbang, dan mungkin saling menyembunyikan sesuatu. Di tengah keramaian itu berdiri sosok besar berwarna putih, makhluk hibrida yang tampak lugu namun sekaligus memancarkan wibawa dan ancaman. Figur ini menjadi pusat perhatian sekaligus pusat teka-teki: pelindung atau manipulator? Pemimpin atau pemangsa? Atau justru korban dari kawanan yang tampak patuh namun menyimpan strategi?

Melalui figur-figur ini, Made Gunawan menghadirkan gambaran filosofis tentang kehidupan sosial: bagaimana manusia—seperti unggas-unggas ini—menjalani relasi kekuasaan dengan kepolosan yang dibuat-buat, ketaatan yang bersyarat, dan kecerdikan yang berjalan bersama keramahan. Karya ini memetakan wilayah tipis antara kejujuran dan kelicikan, antara harmoni dan kepentingan pribadi, antara tawa dan kecurigaan. Dengan gaya dekoratif khasnya, sang seniman membungkus kritik tajam tentang perilaku kolektif ke dalam visual yang indah dan akrab. Warna-warna hangat yang mendominasi, gerak ritmis figur, serta detail ornamen renik di sayap dan mahkota membuat dunia ini tampak hidup sekaligus padat.

Sosok unggas putih yang paling dominan itu sendiri mengingatkan pada tokoh Pedanda Baka pada ceita rakyat di Bali. Pedanda Baka adalah seekor bangau yang menampilkan dirinya sebagai pendeta suci yang baik budi untuk memperdaya ikan dan mahluk air lain yang menghuni sebuah kolam di punggung gunung.

Teknik kontur tegas dan layering tekstur menciptakan permukaan bergetar, seperti kerumunan yang tidak pernah benar-benar tenang. Kecermatan ini memperlihatkan strategi seniman: menghadirkan “keramaian yang terstruktur,” kekacauan yang sesungguhnya sangat terencana—sebuah ironi lain dari tipu muslihat itu sendiri. Repetisi bentuk mengingatkan kita pada tradisi Keliki dan Kamasan, sementara humor grotesk dan kepadatan simbol menautkan karya ini dengan Art Brut, Naïve Art, dan dekoratif modern seperti Klimt. Pada saat bersamaan, semangatnya tetap berakar kuat pada estetika Nusantara: ornamennya menggemakan ukiran Bali, polanya beresonansi dengan ritme Asmat dan Dayak, dan ruang visualnya berfungsi seperti pertunjukan topeng yang menyembunyikan sesuatu di balik senyum.

Membongkar Lapisan-lapisan Tipu Muslihat
Hal yang paling menarik dari “Tipu Muslihat” adalah bahwa permainan kelicikan tidak berhenti di dalam dunia lukisan. Ia merayap keluar, menyentuh penontonnya secara langsung. Pada awalnya kita merasa sedang menikmati parade fauna yang lucu. Namun semakin lama kita menatap, kita sadar bahwa kita sendiri sedang dipancing untuk membaca intrik, menebak motif, atau mencari hierarki. Kita sibuk menganalisis siapa menipu siapa, dan tanpa kita sadari, sang seniman-lah yang sejak awal “menipu” kita dengan kemasan yang hangat dan aman. Pesan gelap disamarkan oleh warna ceria; kritik sosial disembunyikan dalam humor; realitas yang keras bersembunyi di balik figur yang menggemaskan. Inilah tipu muslihat paling halus dalam karya ini: penonton percaya sedang meneliti lukisan, padahal lukisan itulah yang sedang meneliti penonton.

Pada akhirnya, karya ini menegaskan kecakapan Made Gunawan dalam merancang ruang visual sekaligus ruang refleksi. Ia memancing kita masuk dengan kelucuan, lalu pelan-pelan menuntun kita memahami dinamika manipulasi, kepentingan, dan penyamaran dalam hidup sehari-hari. Dalam humor yang lembut dan keindahan yang memikat, ia menyampaikan ironi tentang dunia sosial yang sering kali bertumpu pada kecerdikan kecil dan strategi besar. Dan seperti halnya pengalaman hidup yang membentuk kedewasaan seseorang, kadang kita memang perlu sedikit ditipu untuk menjadi lebih waspada, lebih jernih, dan lebih bijak. []

 

>> Lebih jauh tentang Made Gunawan KLIK DI SINI

 

By Bekraf

Related Post