Terkadang, cara terbaik untuk mengingatkan masyarakat tentang kekurangan dunia adalah dengan menunjukkan gambaran dunia yang seharusnya. Bukan dunia yang kita keluhkan, tetapi dunia yang layak diperjuangkan. Demikian disampaikan I Wayan Nuriarta, mengantarkan karya-karya yang tampil dalam pameran seni visual “UTOPIA 2025” yang dibuka pada Jumat (5/12/2025) di Hotel Tijili Seminyak, Badung, Bali. Pameran ini merupakan kolaborasi 17 seniman yang digalang oleh Komunitas Seni Rupa HOCA (House Of Cartoon maniA) dan Bentara Budaya Kompas-Gramedia.
Nuriartha yang bertindak selaku kurator pameran tersebut, mengatakan bahwa seni dapat menjadi jendela alternatif untuk melihat masa depan yang lebih cerah, terutama di tengah perang, bencana, dan kabar-kabar kelam yang terus mengalir tanpa henti. Katanya, dalam situasi tertentu, manusia membutuhkan ruang-ruang untuk bernapas dan memulihkan batin. Dan, UTOPIA 2025 hadir sebagai ajakan untuk memandang potensi harapan yang tersembunyi di balik berbagai kondisi suram sepanjang tahun ini, ujarnya.
“Alih-alih terus menyoroti luka dan kekacauan, seni dapat menunjukkan jalan menuju dunia yang lebih baik,” ujarnya.
Sejalan dengan pandangan tersebut, Ika W. Burhan, Manajer Bentara Budaya, menyampaikan bahwa seni selalu memiliki kemampuan unik untuk memulihkan optimisme. “Ketika kita lelah oleh arus kabar buruk, seni menjadi oase. Ia menyejukkan, sekaligus menggugah,” katanya di hadapan para perupa dan tamu undangan.
Wahana Refleksi
Acara pembukaan pameran yang digelar hingga 14 Desember 2025 ini dihadiri para perupa, kolektor, komunitas seni, serta perwakilan Kompas Gramedia, para anggota HOCA, dan manajemen Hotel Tijili. Hadir pula Kepala Dinas Pariwisata Kota Denpasar, Ni Luh Putu Riyastiti, bersama pemangku kepentingan sektor budaya dan pariwisata di wilayahnya.
Sedari mula “UTOPIA 2025” menempatkan gagasan utopia bukan sebagai fantasi tanpa pijakan, melainkan sebagai alat refleksi terhadap realitas sosial-politik. Sub tema pameran mengundang para perupa untuk menggali sisi positif dari kondisi-kondisi negatif yang terjadi secara lokal, nasional, dan global. Alih-alih menampilkan kekacauan, karya-karya dalam pameran ini menawarkan gambaran ideal yang menjadi kritik halus terhadap kenyataan yang jauh dari ideal.
Dengan pendekatan ini, pameran berubah bukan hanya menjadi ajang visual, tetapi juga undangan untuk menghimpun kembali keyakinan bahwa perubahan selalu mungkin—dimulai dari langkah-langkah kecil dalam kehidupan sehari-hari.
Sebanyak 17 perupa anggota HOCA menampilkan 52 karya visual, mulai dari lukisan, ilustrasi, kartun, hingga karya tenun. Mereka berasal dari berbagai daerah dan latar artistik yang berbeda: Agus Yudha, Andhika Wicaksana, Beng Rahadian, Damuh Bening, Den Dede, Ika W. Burhan, I Wayan Nuriarta, I Made Marthana Yusa, I Komang Try Adi Stanaya, Ninik Juniati, Pinky Sinanta, Putu Ebo, Pradya, Supradaka, Thomdean, Yere Agusto, dan Yulius Widi Nugroho.

Keberagaman perspektif dan gaya visual para seniman memperkaya lanskap pameran, menghadirkan banyak bentuk tafsir atas gagasan utopia.
Keistimewaan lain dari “UTOPIA 2025” adalah penggunaan Sertifikat Digital Kraflab berbasis blockchain oleh Baliola. Seluruh karya yang dipamerkan telah disertifikasi dengan sistem pencatatan digital yang tidak dapat diubah atau dipalsukan. Ini merupakan terobosan penting dalam ekosistem seni Indonesia, mengingat selama ini sertifikat manual sangat rentan disalin atau hilang. [bekraf/rls]
