DI TENGAH derasnya arus industri musik yang semakin berorientasi pasar, Sthala Ubud Village Jazz Festival (Sthala UVJF) 2026 memilih tetap memegang satu misi yang konsisten sejak awal berdiri: menjadi ruang lahir dan tumbuhnya generasi baru musisi jazz Indonesia. Memasuki penyelenggaraan ke-13 yang akan berlangsung pada 7–8 Agustus 2026 di Sthala Ubud Bali, A Tribute Portfolio Hotel, Sthala UVJF kembali menegaskan komitmennya sebagai panggung internasional bagi talenta-talenta muda Tanah Air yang dinilai memiliki kualitas kelas dunia, tetapi belum banyak memperoleh kesempatan tampil di panggung besar.
Co-founder Sthala UVJF, Yuri Mahatma, mengatakan Indonesia masih memiliki banyak bibit unggul yang menunggu kesempatan untuk dikenal dunia.
“Kalau kita berbicara tentang musisi jazz Indonesia, sebenarnya Joey Alexander bukan satu-satunya. Joey memang lahir dari Bali dan sudah membuktikan dirinya di panggung dunia. Tetapi saya percaya masih banyak ‘Joey-Joey’ lain di Indonesia yang sampai hari ini belum mendapatkan ruang yang layak untuk menunjukkan kemampuan mereka,” ujarnya dalam konferensi pers Sthala UVJF di Denpasar, Kamis (30/7).
Karena itu, menurut Yuri, Sthala UVJF sejak awal tidak hanya menghadirkan nama-nama besar dari dalam maupun luar negeri, tetapi juga secara konsisten membuka ruang bagi musisi muda berbakat agar dapat berinteraksi langsung dengan ekosistem jazz internasional.
Tahun ini, sejumlah nama muda akan tampil, di antaranya gitaris berusia 14 tahun Rason serta JZ.KA Trio, kelompok yang dihuni para musisi remaja berbakat. Kehadiran mereka menjadi bagian dari komitmen festival dalam menjaga regenerasi jazz Indonesia.
“Mereka membutuhkan panggung. Mereka membutuhkan kesempatan. Dan yang tidak kalah penting, mereka membutuhkan panggung dengan standar internasional agar bisa bertumbuh dan berinteraksi dengan musisi dari berbagai negara,” kata Yuri.
Menurutnya, regenerasi tidak cukup dilakukan melalui pendidikan musik semata. Musisi muda juga membutuhkan pengalaman tampil di hadapan publik internasional, membangun jejaring profesional, sekaligus menyaksikan secara langsung standar musikal para pemain dunia.
Sthala UVJF juga secara aktif mendorong kolaborasi lintas negara. Tahun ini festival menghadirkan musisi dari Italia, Jepang, Belanda, Prancis, Thailand, Vietnam, Singapura, serta Indonesia dalam berbagai proyek kolaboratif. Sebagian besar kehadiran musisi mancanegara tersebut mendapat dukungan dari kedutaan maupun lembaga kebudayaan negara asal mereka.
Yuri menilai pola dukungan seperti itu menjadi contoh penting bagaimana sebuah ekosistem musik dapat berkembang melalui sinergi antara komunitas, pemerintah, dan lembaga kebudayaan.
“Kalau bukan kita yang mempromosikan musisi-musisi Indonesia, siapa lagi?” katanya.
Semangat serupa juga mendapat apresiasi dari drummer asal Italia, Simone Prattico, yang kembali tampil di Sthala UVJF untuk kedua kalinya. Ia menilai Indonesia memiliki talenta musik yang luar biasa dengan karakter yang autentik.
“Saya pikir sangat penting bagi kalian menyadari betapa hebatnya talenta musik yang dimiliki Indonesia. Festival seperti ini sangat penting untuk mengembangkan potensi tersebut,” ujar Simone.
Ia mengaku selalu merasakan kejujuran dalam cara para musisi Indonesia memainkan musik. Menurutnya, semangat berkarya yang lahir dari passion menjadi kekuatan yang membedakan Indonesia dengan banyak negara lain.
Penyelenggaraan Sthala UVJF 2026 sendiri akan berlangsung selama dua hari pada 7–8 Agustus di Sthala Ubud Bali, menghadirkan jajaran musisi dari berbagai negara dalam suasana festival yang mengedepankan kualitas artistik, kolaborasi budaya, dan pengembangan komunitas jazz. Memasuki usia ke-13, festival ini terus mempertahankan posisinya sebagai salah satu panggung jazz internasional yang konsisten memberi ruang bagi lahirnya generasi baru musisi Indonesia.[bekraf/abe]
