Fri. Apr 4th, 2025

Kamasan ArtFusion 2024: Merajut Kembali Warisan Seni Lukis Klasik Bali

Komunitas Purba dan Yayasan Bali Karya Shanti dengan bangga mempersembahkan Kamasan ArtFusion 2024, sebuah kompetisi yang bertujuan untuk menghidupkan kembali seni lukis Kamasan yang hampir punah. Dengan menggandeng Museum Nyoman Gunarsa, yang memiliki koleksi terbesar lukisan Kamasan, acara ini menjadi tonggak penting dalam pelestarian budaya Bali.

Indrawati Gunarsa, Kepala Museum Seni Lukis Klasik Nyoman Gunarsa, mengatakan bahwa pihaknya berharap lomba ini dapat membuat seni lukis Kamasan kembali populer dan diminati oleh generasi muda. “Jadi, Kamasan ArtFusion ini adalah salah satu upaya kami untuk memastikan seni ini tetap hidup dan relevan,” ujarnya.

Begitu disiarkan, ternyata kompetisi ini disambut dengan penuh antusiasme, terutama dari kalangan anak muda. Sekitar 40 peserta mengikuti lomba lukis, yang dinilai oleh juri-juri terkemuka seperti Kun Adnyana, Suklu, dan Mangku Muriati. Dari hasil penilaian, terpilih 10 nominasi terbaik yang kemudian diadu dalam kompetisi desain busana.

Tidak hanya itu, kompetisi ini juga membuka peluang bagi 104 peserta dari seluruh Indonesia untuk berpartisipasi dalam lomba desain busana bertema lukisan Kamasan. Juri-juri terkenal seperti Didiet Maulana, Sujiwo Tejo, Rhea Cempaka, dan Turah Mayun turut serta dalam menilai karya-karya peserta, menambah semarak acara ini.

Tommy F Awuy, pengamat seni yang menginisiasi acara ini  mengatakan bahwa lomba ini merupakan bukti nyata bahwa seni tradisional dapat terus hidup dan beradaptasi dengan zaman.  “Seni lukis Kamasan yang klasik dapat menjadi medium untuk mengekspresikan isu-isu kontemporer, dan ini adalah sesuatu yang sangat penting untuk keberlanjutan budaya kita,” uacapnya.

Pemenang Kompetisi 
Pada kompetisi melukis, tampil sebagai Juara 1 adalah Narendra Vicramaditya  dengan karya berjudul “Rehat” (100 x 80 cm, Digital on Vinyl, 2024); disusul oleh Putu Hary Chandrakrisna  (“Aruhh Macettt” – 100 x 80 cm, Digital on Vinyl, 2024) dan  I Gede Agus Suryadinata  (“Punakawan Pangan Dalam Himpitan” – 100 x 80 cm, Mixed Media on Blacu Cloth, 2024) masing-masing sebagai juara kedua dan ketiga. Sedangkan juara favorit diraih oleh I Gede Agus Suryadinata

Pada kompetisi merancang busana kamasan, tampil sebagai jawara adalah Auliyaa Nurul Azizah. Menyusul di posisi kedua dan ketiga adalah Gabriella Stefani Panjaitan (Medan, Sumatera Utara) dan  Wedananta Prema Santi (Bali). Yang menarik. pada kompetisi ini posisi juara favorit kembali diraih oleh Wedananta Prema Santi.

baik pada kompetisi melukis maupun merancang busana, para juara berhasil membetot perhatian juri dengan karya-karya mereka yang tidak hanya menunjukkan keterampilan teknis, tetapi juga mampu menginterpretasikan gaya Kamasan dengan sentuhan modern.

Merintis Masa Depan
Di sisi lain Indrawati Gunarsa juga memaparkan tentang Museum Gunarsa, tempat di mana acara ini diselenggarakan.  Katanya, koleksi-koleksi di museum ini tidak hanya menggambarkan cerita wayang, tantri, atau kisah sastra, tetapi juga kejadian-kejadian penting seperti perdagangan internasional di Bali pada masa lampau. Salah satu koleksi yang menarik adalah lukisan “Chinese Trader” yang menggambarkan pedagang Cina di Bali beberapa abad lalu.

“Kami ingin memastikan bahwa seni lukis Kamasan tetap menjadi inspirasi dan dilestarikan sesuai dengan misi museum kami. Kamasan ArtFusion ini adalah salah satu cara kami untuk memastikan bahwa gaya seni lukis klasik Bali dapat merespon kondisi kekinian,” tegas Indrawati Gunarsa.

Dengan terselenggaranya acara ini, Indrawati berharap seni lukis klasik Bali akan tetap hidup dan terus berkembang mengiringi perubahan zaman. “Kami sangat berharap agar penggalian kreativitas atas peninggalan seni lukis klasik Bali tetap dilakukan oleh berbagai pihak, agar keberlanjutan seni lukis klasik Bali dan Indonesia bisa tetap dikenal dan eksis,” pungkasnya. *** [BEKRAF/Rls]

 

By Bekraf

Related Post