Mon. Jul 27th, 2026

Arya Wibawa Dorong Rare Angon Jadi Magnet Wisata Internasional Denpasar

Di tengah era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), ketika mesin mampu melukis, menulis, bahkan menciptakan musik dalam hitungan detik, ada satu tradisi yang tetap membutuhkan sentuhan manusia, kesabaran, dan dialog dengan alam: menerbangkan layang-layang. Tidak ada algoritma yang dapat menggantikan kepekaan membaca arah angin, merasakan tarikan benang, atau kegembiraan saat sebidang kain berwarna menari di langit.

Justru di zaman ketika dunia semakin terdigitalisasi, festival layang-layang memperoleh makna baru. Ia bukan sekadar permainan tradisional, melainkan ruang perjumpaan budaya, kreativitas, dan diplomasi antarmanusia yang melampaui batas negara. Langit menjadi panggung bersama, tempat tradisi lokal berdialog dengan inovasi global.

Semangat itulah yang mewarnai pembukaan Rare Angon International Kite Festival 2026 di Pantai Mertasari, Sanur, Sabtu (25/7) petang. Festival internasional ini secara resmi dibuka oleh Wakil Wali Kota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, dengan menghadirkan 96 pelayang dari 23 negara yang memenuhi langit Sanur dengan beragam layang-layang artistik, kreatif, dan berukuran spektakuler.

Kehadiran para pelayang dunia menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat maupun wisatawan yang memadati kawasan Pantai Mertasari. Beragam bentuk layangan, mulai dari karya tradisional hingga kreasi modern, beradu indah dengan hembusan angin pesisir Sanur, menciptakan atraksi visual yang memukau.

Turut hadir dalam pembukaan tersebut Anggota DPRD Provinsi Bali AA Gede Agung Suyoga, Perbekel Desa Sanur Kauh Made Ada, Kepala Dinas Pariwisata Kota Denpasar Ni Luh Putu Riyastiti, jajaran organisasi perangkat daerah terkait, komunitas pelayang, serta berbagai undangan.

Dalam sambutannya, Arya Wibawa menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan Rare Angon International Kite Festival 2026 yang dinilainya sejalan dengan komitmen Pemerintah Kota Denpasar dalam melestarikan seni, budaya, dan kreativitas masyarakat sebagai implementasi visi Kota Kreatif Berbasis Budaya Menuju Denpasar Maju.

“Festival ini diharapkan dapat terus berkembang menjadi salah satu daya tarik wisata unggulan yang mampu menarik kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara ke Kota Denpasar, khususnya kawasan Sanur,” ujar Arya Wibawa.

Menurutnya, festival layang-layang tidak hanya menghadirkan hiburan bagi masyarakat, tetapi juga memiliki nilai strategis sebagai media pelestarian tradisi, penguatan ekonomi kreatif, promosi destinasi wisata, sekaligus pemberdayaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal.

Ketua Panitia Rare Angon International Kite Festival 2026, Eka Surya Wirawan, menjelaskan bahwa festival yang berlangsung pada 23–26 Juli 2026 itu mengusung konsep perpaduan antara tradisi layang-layang Bali dengan kreativitas modern para pelayang internasional.

Ia mengatakan, festival ini dirancang bukan hanya untuk meningkatkan daya tarik pariwisata Sanur, tetapi juga menjadi ruang edukasi sekaligus pertukaran pengetahuan antarkomunitas pelayang dari berbagai negara.

“Sebanyak 96 pelayang internasional dari 23 negara berpartisipasi dalam festival ini. Harapan kami, tradisi layang-layang Bali dapat terus berkembang melalui kolaborasi dan pertukaran pengetahuan dengan para pelayang dunia,” katanya.

Selain menampilkan atraksi layang-layang internasional, festival juga menghadirkan berbagai kegiatan budaya yang melibatkan masyarakat. Di antaranya workshop, lomba baleganjur, lomba pindekan, lomba sunari, hingga lomba kober layangan.

Untuk kategori layang-layang tradisional, panitia menggelar 26 kategori perlombaan yang menampilkan kekayaan tradisi Bali. Sementara atraksi internasional dikemas sebagai pertunjukan yang memperlihatkan beragam inovasi desain layang-layang dari berbagai belahan dunia.

Pengunjung juga dapat menikmati pertunjukan layang-layang malam hari, berburu kuliner khas dari pelaku UMKM lokal, menikmati hiburan ramah keluarga, hingga mengikuti berbagai aktivitas kreatif yang digelar sepanjang festival.

Ketua Umum Perkumpulan Pelayang Indonesia, Sari Madjid, berharap Rare Angon International Kite Festival terus berkembang menjadi agenda unggulan pariwisata sekaligus menjadi kebanggaan Sanur, Bali, dan Indonesia di tingkat internasional.

“Festival ini merupakan ajang yang mempertemukan tradisi layang-layang Bali dengan kreativitas para pelayang internasional dalam harmoni yang indah. Semoga melalui festival ini persahabatan tanpa batas antara pelayang Bali, Indonesia, dan dunia dapat terus terjalin,” ujarnya.

Menurutnya, kehadiran peserta dari berbagai negara semakin mempertegas posisi Denpasar sebagai tuan rumah kegiatan budaya internasional yang mampu mempertemukan tradisi, kreativitas, dan persahabatan lintas bangsa.

Lebih dari sekadar festival, Rare Angon International Kite Festival menunjukkan bahwa warisan budaya tetap memiliki ruang yang relevan di tengah percepatan teknologi. Jika AI merevolusi cara manusia bekerja dan berkarya, maka layang-layang mengingatkan bahwa kreativitas sejati juga lahir dari hubungan manusia dengan alam, komunitas, dan tradisi.

Melalui perpaduan budaya lokal, partisipasi internasional, serta keterlibatan pelaku ekonomi kreatif dan UMKM, Rare Angon International Kite Festival 2026 diharapkan semakin memperkuat citra Sanur sebagai destinasi wisata budaya dan keluarga kelas dunia, sekaligus memberikan dampak ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat Kota Denpasar. [bekraf/rls]

By Bekraf

Related Post

Redaktur Tamu