Thu. Sep 17th, 2026

BELAJAR FILM HINGGA KE VATIKAN

Apa yang terjadi ketika seorang Paus berbicara kepada para pembuat film?

Catatan : Putu Kusuma Widjaja

PADA 15 November 2025, Paus Leo XIV menerima lebih dari seratus enam puluh orang dari dunia sinema di Istana Apostolik Vatikan. Hadir di antara mereka sejumlah nama besar perfilman dunia, seperti Cate Blanchett, Spike Lee, Gus Van Sant, Matteo Garrone, Giuseppe Tornatore, Marco Bellocchio, Monica Bellucci, dan banyak sineas lainnya. Mereka datang bukan sekadar untuk bertemu dengan pemimpin umat Katolik, tetapi untuk berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih besar: untuk apa sebenarnya film dibuat?

Paus Leo XIV berbicara tentang sinema sebagai seni yang mampu membuat manusia kembali memandang hidupnya sendiri. Film, menurutnya, bukan sekadar gambar bergerak atau hiburan. Ia dapat menjadi ruang untuk memahami kehidupan, mengenali kerapuhan manusia, menemukan harapan, dan melihat dunia dengan cara yang baru. Sinema, katanya, seharusnya menjadi tempat perjumpaan, rumah bagi mereka yang sedang mencari makna, dan bahasa perdamaian.

Bagi saya, pernyataan itu menarik karena persoalan terbesar sinema hari ini mungkin bukan lagi bagaimana membuat film, melainkan bagaimana membuat film yang masih mampu membuat manusia berpikir dan merasa.

Industri film, di mana pun berada, selalu berhadapan dengan uang. Keberhasilan sebuah film sering kali diukur melalui jumlah penonton, pendapatan, popularitas, dan kemampuan sebuah formula untuk diulang. Ketika sebuah pola terbukti berhasil, pola itu akan diproduksi kembali. Film yang sukses melahirkan film yang menyerupainya. Cerita yang menghasilkan keuntungan akan dicari kembali dengan bentuk yang sedikit berbeda.

Di sinilah imajinasi dapat perlahan-lahan terjebak.

Bukan hanya Hollywood yang menghadapi persoalan ini. Di Indonesia pun kita dapat merasakannya. Ketika tekanan pemilik modal semakin kuat untuk menghasilkan mesin uang, seluruh perangkat industri film—dari produser, penulis, sutradara, pemain hingga kru—pada akhirnya bekerja seperti baut dan mur dalam sebuah mesin besar bernama pasar.

Cerita hantu yang berhasil akan melahirkan cerita hantu berikutnya. Film yang membuat penonton menangis akan melahirkan film lain yang berusaha mengulang tangisan yang sama. Formula menjadi aman karena telah terbukti berhasil.

Lalu pertanyaannya: untuk apa kita takut pada keseragaman sinema?

Sebab ketika keseragaman menjadi terlalu kuat, penonton tidak lagi diajak melakukan perjalanan. Mereka hanya diarahkan mengikuti jalur yang sudah dibuat sebelumnya.

Tokoh utama selalu mendapatkan jalan keluar pada saat yang tepat. Orang yang dikejar penjahat selalu menemukan cara melarikan diri yang sebenarnya sudah pernah kita lihat di film lain. Bahkan di tengah kawasan parkir yang penuh sesak, tokoh utama seolah selalu menemukan tempat kosong.

Kita tertawa, tetapi sesungguhnya ada sesuatu yang sedang hilang.

Imajinasi.

Film seharusnya membuat kita bertanya, “Bagaimana mungkin?” lalu memberikan kesempatan kepada pikiran kita untuk menemukan jawabannya sendiri. Tetapi ketika semua kemungkinan telah disediakan oleh formula, penonton tidak lagi menjadi peziarah. Ia hanya menjadi konsumen.

Padahal perjalanan menonton film seharusnya tidak berhenti ketika lampu bioskop dinyalakan kembali.

Film yang baik meninggalkan sesuatu.

Sebuah adegan yang terus hidup di kepala. Sebuah dialog yang tiba-tiba teringat beberapa hari kemudian. Sebuah wajah yang tidak mau pergi. Atau bahkan sebuah pertanyaan yang sebelumnya tidak pernah kita pikirkan.

Inilah yang saya kira sedang dibicarakan Paus Leo XIV.

Ia menyebut perjalanan manusia melalui sinema sebagai sebuah perjalanan yang tidak diukur dengan kilometer, melainkan dengan gambar, kata-kata, emosi, kenangan bersama, dan keinginan-keinginan manusia. Ia berbicara tentang sinema sebagai sebuah pelayaran menuju misteri pengalaman manusia.

Saya menyebutnya sebagai peziarah imajinasi.

Seorang penonton memasuki ruang gelap dengan membawa kehidupannya sendiri. Ia membawa luka, kegembiraan, kemarahan, cinta, kehilangan dan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin tidak pernah mampu ia ucapkan.

Kemudian layar menyala.

Untuk beberapa jam ia memasuki kehidupan orang lain. Tetapi anehnya, ketika film selesai, yang sebenarnya ia temukan sering kali adalah dirinya sendiri.

Itulah sebabnya pengalaman menonton film di bioskop tidak sepenuhnya sama dengan menonton melalui telepon genggam.

Bioskop adalah sebuah ritual.

Kita masuk ke dalam ruangan yang gelap bersama orang-orang yang tidak kita kenal. Telepon genggam dimatikan. Percakapan berhenti. Cahaya hanya berasal dari layar. Kita tertawa bersama orang asing. Kita terdiam bersama orang asing. Bahkan kadang menangis bersama orang asing.

Ada sesuatu yang sangat manusiawi dalam pengalaman itu.

Steven Spielberg juga pernah menekankan pentingnya pengalaman kolektif menonton film di ruang bioskop—sebuah pengalaman yang sulit digantikan oleh layar pribadi.

Karena itu, ketika bioskop perlahan kehilangan penontonnya, yang mungkin sedang hilang bukan hanya sebuah tempat untuk menonton film. Yang ikut hilang adalah salah satu ruang tempat manusia mengalami cerita secara bersama-sama.

Paus Leo XIV menyebut bioskop dan teater sebagai “jantung komunitas”. Ia mengingatkan bahwa kemunduran pengalaman sinema di ruang bersama bukan semata persoalan bisnis, tetapi juga persoalan kebudayaan.

Lalu saya teringat pada sejarah film Indonesia.

Pada 1926, lahirlah Loetoeng Kasaroeng, film cerita yang sering disebut sebagai film pertama yang diproduksi di Indonesia. Film ini disutradarai dan diproduseri L. Heuveldorp, dengan G. Krugers menangani kamera dan proses laboratorium. Film tersebut mengangkat legenda Sunda Lutung Kasarung dan mendapat dukungan R.A.A. Wiranatakusumah V, Bupati Bandung, yang membantu pembiayaannya karena kecintaannya terhadap kebudayaan Sunda. Anak-anak Wiranatakusumah juga ikut bermain dalam film tersebut.

Menariknya, pada kelahirannya, film Indonesia sudah memperlihatkan hubungan yang erat antara sinema dan kebudayaan.

Film tidak lahir semata-mata sebagai mesin uang. Ia juga menjadi cara untuk menyimpan cerita. Cara untuk memperkenalkan kebudayaan. Cara untuk membuat masyarakat melihat kembali dirinya sendiri melalui layar.

Tentu saja sejarah kemudian bergerak. Industri film berkembang. Modal masuk. Pengusaha melihat peluang. Film menjadi komoditas. Dan itu bukan sesuatu yang sepenuhnya salah.

Film memang membutuhkan uang untuk dibuat.

Tidak ada kamera yang bergerak tanpa biaya. Tidak ada lokasi yang dapat digunakan tanpa biaya. Kru harus makan. Pemain harus dibayar. Lampu, kamera, transportasi, penyuntingan, musik, distribusi—semuanya membutuhkan uang.

Masalahnya muncul ketika uang bukan lagi alat untuk membuat film, tetapi film menjadi alat semata-mata untuk menghasilkan uang.

Di situlah kebebasan imajinasi mulai bernegosiasi dengan pasar.

Tidak mudah membuat film yang sepenuhnya lahir dari kata hati ketika berada di dalam sistem komersial. Bahkan film yang sejak awal tidak dirancang untuk mencari keuntungan tetap membutuhkan strategi agar penonton datang.

Karena itu saya selalu tertarik pada para pembuat film yang mampu menemukan ruang kebebasannya sendiri.

Woody Allen, misalnya, selama puluhan tahun terus membuat film dengan skala produksi yang relatif terkendali dan penonton yang sudah terbentuk. Ada kenyamanan tertentu ketika seorang pembuat film tidak harus setiap saat mengejar jutaan penonton untuk membenarkan keberadaan sebuah karya.

Demikian pula Hong Sang-soo.

Ia membuat film-film yang sering terasa sederhana: percakapan, pertemuan, berjalan kaki, minum, makan, cinta, kebetulan. Tetapi justru dalam kesederhanaan itu terdapat ruang yang luas bagi penonton untuk berpikir.

Film-filmnya tidak selalu berteriak. Tidak selalu mengejar penonton.Tidak selalu tergesa-gesa. Dan mungkin justru karena itu, imajinasi penonton mendapatkan ruang untuk bekerja. (LINK)

Inilah yang menarik dari ajakan Paus Leo XIV kepada para pembuat film: jangan takut pada keheningan. Jangan takut pada kelambatan. Jangan takut memberikan ruang kepada penonton untuk berpikir.

Sinema tidak selalu harus bergerak cepat. Tidak semua adegan membutuhkan potongan. Tidak semua karakter harus marah. Tidak semua konflik harus segera diselesaikan.

Kadang sebuah pohon yang bergerak tertiup angin jauh lebih sinematik daripada seribu dialog.

Dalam pidatonya, Paus Leo XIV bahkan mengingat kembali kata-kata David W. Griffith tentang hilangnya “keindahan angin yang bergerak di antara dahan-dahan” dalam film modern. Dari sana ia mengajak para pembuat film untuk menjadikan sinema sebagai “seni Roh”.

Bagi saya, ini bukan ajakan untuk membuat film religius. Jauh lebih dalam dari itu. Ini adalah ajakan untuk mengembalikan jiwa ke dalam sinema. Film bukan hanya medium hiburan. Ia bisa menjadi medium penghayatan. Medium perenungan.Medium untuk memahami penderitaan.Medium untuk mengenali orang lain. Dan mungkin, dalam bentuk yang paling sederhana, film adalah cara manusia berbicara kepada dirinya sendiri.

Paus Leo juga mengatakan bahwa film yang baik tidak mengeksploitasi penderitaan, tetapi mendampingi dan menyelaminya. Film tidak harus takut menghadapi kekerasan, kemiskinan, kesepian, pengasingan, kecanduan, atau perang yang terlupakan. Justru di sanalah sinema dapat memberi suara kepada luka manusia.

Mungkin itulah sebabnya beberapa film tidak pernah benar-benar selesai ketika kita meninggalkan bioskop.

It’s a Wonderful Life karya Frank Capra adalah salah satunya.

Paus Leo XIV memasukkan film tahun 1946 tersebut ke dalam daftar film yang bermakna baginya.

Ada satu adegan dalam It’s a Wonderful Life yang bagi saya menjadi sangat penting ketika membicarakan hubungan antara manusia, bioskop, dan perubahan batin.

George Bailey berada dalam titik paling gelap dalam hidupnya. Ia merasa hidupnya tidak berarti. Tetapi setelah diperlihatkan bagaimana dunia akan menjadi tanpa kehadirannya, ia menemukan kembali sesuatu yang selama ini tidak ia sadari: bahwa hidupnya telah memberi arti bagi kehidupan orang lain.

George kemudian berlari pulang.

Salju turun. Ia menyapa orang-orang di sepanjang jalan. Ia melihat kembali rumah, toko, jalan, dan orang-orang yang selama ini menjadi bagian dari hidupnya. Dunia yang beberapa saat sebelumnya ingin ia tinggalkan tiba-tiba menjadi dunia yang ingin ia peluk kembali.

Dan ada satu detail kecil yang bagi saya sangat indah: George juga menyapa gedung bioskop di kotanya.

Ia berteriak, “Merry Christmas, movie house!”

Mengapa sebuah gedung bioskop perlu disapa?

Mungkin karena bioskop bukan sekadar bangunan tempat orang menonton film. Ia adalah bagian dari ingatan sebuah kota. Di dalamnya manusia bertemu dengan cerita, dengan imajinasi, dengan kehidupan orang lain, dan kadang-kadang dengan dirinya sendiri.

Di sinilah saya merasa bahwa It’s a Wonderful Life berbicara sangat dekat dengan apa yang disampaikan Paus Leo XIV. Film bukan hanya sesuatu yang kita tonton. Ia dapat menjadi bagian dari pengalaman yang mengubah cara kita memandang kehidupan.

https://www.youtube.com/watch?v=lxNXtjGY_Us

 

Putu Kusuma Wijaya lahir di Singaraja, Bali. Ia adalah sutradara film yang diperhitungkan. Ia belajar film dan televi di Amsterdam Hogeschool voor de Kunsten. Ia pernah lama bekerja pada salah satu televisi swasta. Kemudian ia membantu sutradara Garin Nugroho dalam menggarap film “Under The Tree” dan “Tjokroaminoto”. Film-film buatannya pernah diputar dalam berbagai festival film internasional, di antaranya film “Langkah Kecil Pagi” diputar di Rotterdam Film Festival, “The North Wind” diputar di Festival Film Dokumenter Amsterdam, “On Mother’ Head” diputar di Shanghai dan Taiwan Film Festival.

By Bekraf

Related Post

Redaktur Tamu