Sun. Aug 16th, 2026

Wiku Tapini: Renungan Bali Hari ini

Ulasan Putu Kusuma Wijaya

Salah satu kegiatan peserta pelatihan film Menggali Potensi Bali Utara Tahap II adalah menyaksikan film dokumenter karya Agung Bawantara, Wiku Tapini, yang diputar di Rumah Film Sang Karsa, Lovina, Buleleng. Wiku Tapini mengikuti kehidupan seorang pendeta perempuan dalam tradisi Hindu Bali yang memiliki keahlian khusus dalam membuat sarana upacara atau banten. Dalam sebuah upacara keagamaan, Tapini memiliki peran penting. Ia memiliki kewenangan untuk menentukan kapan sebuah upacara dapat dimulai, ditunda, atau diakhiri.

Film dibuka dengan gambar yang terasa seperti sebuah lukisan: sawah, gunung, dan hutan dibungkus cahaya matahari pagi. Lanskap Bali tampil begitu indah dan tenang. Ketenangan gambar pembuka itu memantik pertanyaan yang lebih besar: Bali seperti apa yang sedang kita saksikan hari ini? Sebab di balik keindahan itu berlangsung sebuah pertarungan yang semakin nyata: dunia agrikultural berhadapan dengan dunia industri; kehidupan komunal berhadapan dengan kehidupan yang semakin individual.

Pertarungan itu terlihat jelas dari semakin luasnya konversi lahan pertanian menjadi kawasan industri pariwisata dan berbagai turunannya. Sawah berubah menjadi vila, hotel, restoran, jalan, dan permukiman. Perubahan ruang tersebut pada akhirnya bukan hanya mengubah wajah Bali, tetapi juga perlahan mengubah cara manusia Bali hidup, berpikir, dan berhubungan dengan alam.

Ada hal penting yang sering luput dalam pembicaraan mengenai keberhasilan pariwisata Bali: pariwisata tidak tumbuh di ruang kosong. Ia tumbuh di atas peradaban agraris yang telah dibangun masyarakat Bali selama berabad-abad. Hutan dibuka menjadi lahan. Lahan menjadi sawah. Sawah menghasilkan pangan. Dari hasil pertanian itu lahir berbagai bentuk persembahan. Dan persembahan tersebut kemudian menjadi bagian penting dari kehidupan religius masyarakat Bali.

Hampir seluruh unsur banten berkaitan dengan hasil bumi. Kelapa, buah-buahan, daun, bunga, beras, hingga berbagai hasil pertanian lainnya tidak sekadar menjadi benda yang disusun untuk kepentingan upacara. Di dalamnya terdapat gagasan tentang hubungan manusia dengan alam: menerima, mengolah, kemudian mengembalikan. Karena itu, banten sesungguhnya bukan sekadar benda persembahan. Ia menyimpan sebuah proses kehidupan. Menanam. Merawat. Menunggu. Memetik. Mengolah. Kemudian mempersembahkan. Persoalannya, proses tersebut perlahan dapat terputus.

Hari ini, ketika kebutuhan akan hasil pertanian begitu besar sementara lahan pertanian semakin menyempit, berbagai kebutuhan upacara tidak jarang harus didatangkan dari luar Bali. Jalan pintas kemudian menjadi sesuatu yang wajar: membeli, membawa pulang, lalu mempersembahkan. Yang hilang bukan hanya aktivitas bertani. Yang mungkin ikut hilang adalah pengalaman manusia terhadap proses yang melahirkan persembahan itu sendiri. Dalam konteks inilah Wiku Tapini menjadi penting.

Film ini kembali mengingatkan bahwa pertanian bukan sekadar sektor ekonomi. Ia adalah salah satu sumber makna dari persembahan itu sendiri. Kelapa, buah-buahan, hasil bumi, hingga hewan seperti lembu memiliki tempat dan cara tersendiri dalam sistem persembahan.

Lalu muncul pertanyaan yang tidak bisa dihindari: Apa yang akan terjadi pada sistem persembahan Bali jika dunia agrikultur yang menjadi sumber kehidupannya benar-benar digantikan oleh dunia industri? Jika Bali tidak lagi berpihak pada pertanian, bagaimana bentuk upacara untuk menjaga keseimbangan antara buana agung dan buana alit di masa depan? Apakah ia masih akan memiliki makna yang sama dengan apa yang kita lihat dalam Wiku Tapini?

Pertanyaan itulah yang membuat film ini lebih dari sekadar dokumentasi mengenai seorang Tapini. Ia menjadi semacam catatan tentang Bali pada sebuah masa ketika dunia agrikultur dan industri sedang berhadapan dengan sangat keras. Pulau seribu pura, sekaligus pulau seribu vila.

Di dalam film, kita melihat potret kehidupan seseorang yang mendedikasikan waktu, pikiran, dan hidupnya pada sebuah jalan yang sunyi: mengatur persembahan keagamaan Hindu Bali yang rumit sekaligus sederhana. Rumit, karena setiap unsur memiliki aturan dan maknanya sendiri. Kotoran lembu yang dipelihara dengan penuh perhatian, misalnya, harus melalui proses penyaringan berkali-kali sebelum menjadi bagian dari sarana persembahan. Berbagai hasil pertanian disusun dengan ketelitian berdasarkan makna yang terkandung di dalamnya. Namun pada saat yang sama semuanya sederhana: manusia hanya mengembalikan apa yang telah diberikan oleh alam dan Sang Pencipta. Di situlah gagasan tentang keseimbangan bekerja.

Cerita dihantarkan oleh dua orang dari generasi berbeda yang saling bertanya dan menjawab mengenai makna banten yang mereka buat. Dari sana muncul sebuah pemahaman bahwa persembahan bukan sekadar tindakan ritual, melainkan juga sebuah upaya mempersiapkan manusia sebelum berhubungan dengan sesuatu yang berada di luar dirinya. Banten Pejati, misalnya, mengandung gagasan tentang kesungguhan dan ketulusan niat. Manusia terlebih dahulu menata dirinya sebelum melakukan sesuatu di dunia luar.

Pada titik ini, banten dapat dibaca sebagai sebuah miniatur kosmos. Apa yang terdapat di dalamnya melukiskan kehidupan agraris yang kemudian dipersatukan oleh aturan-aturan yang rumit. Dan di antara kerumitan itulah Tapini memperoleh perannya. Ia bukan sekadar pembuat banten, tetapi penjaga pengetahuan yang memastikan bahwa seluruh unsur berada pada tempat dan waktunya.

Karena itu, persetujuan Tapini menjadi penting dalam sebuah upacara. Bahkan seorang Pedanda sebagai pemimpin upacara tidak serta-merta dapat memulai sebelum seluruh persiapan yang menjadi kewenangan Tapini dianggap lengkap.

Bangunan utama film mengikuti persiapan hingga pelaksanaan upacara Tabuh Gentuh di Desa Sibetan, Karangasem—sebuah upaya untuk mengembalikan keseimbangan antara buana agung, alam semesta, dan buana alit, manusia. Namun justru karena film ini begitu kaya dengan gagasan tentang banten, pertanyaan lain muncul setelah menontonnya.

Film ini memang berbicara tentang Tapini, tetapi yang lebih dominan justru adalah makna banten. Kita melihat Tapini ketika sedang bekerja, tetapi belum terlalu jauh melihat Tapini sebagai seorang manusia: kehidupannya di luar ruang ritual, hubungan dengan keluarganya, ingatan masa kecilnya, kegelisahannya, kebosanannya, atau alasan personal yang membuatnya memilih jalan hidup tersebut.

Ada beberapa momen yang menurut saya sebenarnya bisa digali lebih dalam. Misalnya, kisah masa kecil ketika Tapini mengikuti neneknya membuat banten. Jika ingatan itu dapat dihadirkan melalui foto, arsip keluarga, atau bahkan perjalanan kembali ke tempat-tempat masa kecilnya, kita mungkin akan mendapatkan lapisan cerita yang berbeda.

Kita tidak hanya melihat apa yang dilakukan Tapini, tetapi memahami mengapa ia menjadi Tapini. Di sinilah persoalan waktu dalam produksi dokumenter menjadi penting. Proyek dokumenter yang didanai melalui skema seperti Dana Indonesiana memiliki linimasa dan pertanggungjawaban yang harus diikuti. Hal ini tentu penting dari sisi administrasi dan akuntabilitas. Tetapi kehidupan manusia tidak selalu bergerak mengikuti kalender proyek.

Seorang tokoh dokumenter bisa saja membutuhkan waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun untuk membuka dirinya. Sebuah peristiwa yang tampaknya kecil hari ini mungkin baru menemukan maknanya beberapa bulan kemudian. Dalam tradisi dokumenter dunia, tidak sedikit karya yang berkembang melalui proses panjang. Sutradara mengikuti tokohnya dalam waktu yang lama, membiarkan kehidupan berjalan dan kamera menjadi saksi. Kadang diperlukan bertahun-tahun sebelum sebuah cerita menemukan bentuknya.

Karena itu, ketika sebuah proyek dokumenter dibatasi oleh linimasa yang relatif pendek, pembuat film sering kali harus mengambil jalan yang lebih cepat untuk mengantarkan cerita. Wawancara menjadi salah satu cara paling efektif. Tetapi wawancara juga memiliki keterbatasan. Ketekunan seseorang dapat dijelaskan melalui kata-kata. Kemurahan hati dapat diceritakan. Kesabaran dapat diwawancarai. Tetapi kebosanan tidak selalu perlu dijelaskan. Ia bisa ditunggu.

Begitu pula ketekunan. Kita bisa melihat seseorang melakukan pekerjaan yang sama berulang-ulang selama berbulan-bulan. Dari pengulangan itulah karakter manusia perlahan muncul di depan kamera. Bayangkan jika Tapini dapat diikuti selama beberapa tahun penuh. Kita akan melihat perubahan musim, perubahan ritual, kehidupan keluarganya, hubungan dengan masyarakat, masa-masa sibuk, masa-masa sepi, mungkin juga konflik dan kelelahan. Kita tidak hanya akan mendapatkan informasi tentang Tapini, tetapi mengalami waktu bersamanya.

Dan mungkin di situlah dokumenter menemukan kekuatannya: bukan ketika ia menjelaskan kehidupan, tetapi ketika ia memberi kesempatan kepada penonton untuk mengalami kehidupan itu. Tentu saja, hal tersebut tidak mudah. Produksi film membutuhkan biaya, jadwal, laporan, dan tanggung jawab kepada pemberi manfaat. Tetapi barangkali pengalaman dari karya-karya seperti Wiku Tapini dapat menjadi bahan untuk memikirkan kembali bagaimana sebuah proyek dokumenter seharusnya diberi ruang untuk tumbuh. Sebab cerita manusia tidak selalu dapat diselesaikan sesuai batas waktu sebuah proyek.

Wiku Tapini bagi saya masih memiliki ruang untuk dilebur kembal  karena tokohnya memiliki dunia yang jauh lebih luas daripada apa yang sempat direkam. Mungkin suatu hari ruang produksi itu dapat dibuka kembali. Kamera kembali mengikuti Tapini. Bukan hanya ketika ia membuat banten, tetapi ketika ia bangun pagi, berbicara dengan keluarganya, pergi ke kebun, merawat lembu, mengingat neneknya, menghadapi kesulitan, menunggu sebuah upacara, atau sekadar menjalani hari tanpa sesuatu yang istimewa. Karena justru dalam hari-hari yang tampaknya tidak istimewa itulah manusia sering kali memperlihatkan dirinya yang paling jujur. Dan mungkin, jika waktu diberi kesempatan bekerja, Wiku Tapini dapat tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar film tentang seorang pembuat banten. Ia dapat menjadi dokumen tentang sebuah peradaban agraris yang sedang berada di persimpangan jalan. Sebuah catatan tentang Bali ketika sawah perlahan berubah menjadi bangunan. Dan ketika banten masih terus dipersembahkan, tetapi tanah yang melahirkan sebagian besar isinya perlahan menghilang.

By Bekraf

Related Post

Redaktur Tamu