Ulasan Putu Kusuma Wijaya
Banyak orang yang patah hati, melampiaskan masa-masa kritis ini dengan naik gunung, merusak fasilitas umum negara, bahkan ada yang nekat mengakhiri hidup. Bagi seorang Adythia Utama, rasa galau patah hati ini, diarahkan membuat karya film berjudul A distorted Individual. Film ini diputar dalam rangkaian sang sutradara memberikan materi hubungan film Fiksi dan Dokumenter pada Pelatihan Film menggali Potensi Bali Utara tahap kedua. Rasa galau itu tampak pada gambar hitam putih tentang keinginannya untuk mendaftarkan musik alternatif underground-nya ke ajang Anugerah Musik Indonesia.
Cerita bermula dari sebuah dapur, dimana tokoh utama film, yang juga sutradaranya, Adythia Utama menyatakan bahwa penemuan mesin pengadukan adonan Pizza sangat membantu penggemar Pizza, seperti dirinya, untuk memasak Pizza rumahan sendiri. Perlahan-lahan, film bergerak menuju ke dapur rekaman musik eksperimental antah berantah, yang kemudian film menjadi-jadi dengan keinginan Adithya agar musik eksperimentalnya bisa dihargai di ajang AMI (Anugerah Musik Indonesia) yang dikelola oleh kumpulan pelaku musik komersial.
Menginginkan musik eksperimental dihargai oleh AMI membuka lebar ruang kreatif dokumenter yang jarang dalam kosa kata perdokumenteran Nasional. Ruang kreatif dokumenter yang diciptakan dalam film A Distorted Individual penuh dengan humor mentertawakan diri sendiri. Adythia Utama merelakan jiwa raganya menjadi obyek humor. Penonton terpingkal-pingkal sepanjang film, mendekonstruksi kembali pertanyaan seberapa pentingnya mendapatakan piala AMI. Bagi seprang Kendra Ahimsa, salah satu karakter dalam film, yang memenangkan kategori ilustrator dan desain AMI, piala AMI yang menurutnya kurang berkualitas, ternyata berguna secara fisik. Piala itu bisa digunakan untuk mengganjal jendela rumahnya yang menimbulkan suara karena tiupan angin. Adegan ini melibatkan suara tawa bergemuruh seisi ruang putar film Rumah Film Sangkarsa.
Istilah Creative treatment of actuality pertama kali diperkenalkan oleh John Grierson, seorang pemikir film dokumenter Skotlandia, yang menyatakan bahwa pelakuan kreatif akan sebuah kenyataan dapat dilakukan untuk membuat sebuah film dokumenter menarik penontonnya.
Salah satu film John Grierson – Drifters. Film ini dibuat pada tahun 1920 dan menunjukkan kekuatan sinematografi dan editing. Kita hanya ditunjukkan gambar sambung menyambung dengan beberapa teks sebelumnya untuk sedikit menuntun penonton. Dalam badai kebosanan banyak film dokumenter yang sarat dengan informasi, kreatif dokumenter lebih menekankan penggabungan fakta nyata dengan teknik-teknik kreatif dalam penyajian cerita, sehingga dokumenter tidak hanya informatif, tetapi juga menarik secara artistik dan emosional. Berbeda dengan dokumenter konvensional yang cenderung menyajikan fakta secara langsung dan objektif, dokumenter kreatif memberi ruang bagi pembuat film untuk menggunakan berbagai unsur sinematik tanpa mengubah kebenaran fakta.
Artinya, dokumenter bukan sekadar merekam realitas apa adanya, melainkan mengolah realitas tersebut secara kreatif melalui pilihan gambar, penyuntingan, suara, dan struktur cerita, tanpa menghilangkan kebenaran faktanya.
Dalam praktik kontemporer, dokumenter kreatif menjadi salah satu bentuk dokumenter yang banyak dipilih di festival-festival film karena mampu menggabungkan kekuatan jurnalistik, seni sinema, dan kedalaman pengalaman manusia.
Dari definisi itulah, A Distorted Individual dibuat, sehingga film ini sanggup memberikan tontonan nyaman hampir 90 menit penayangannya. Salah satu adegan adalah kala Adythia Utama mengunjungi sebuah tempat penghilang stress, dimana sesorang setelah membayr sejumlah uang- bisa menghancurkan barang apa saja yang ada di dalamnya. Maka dihancurkanlah televisi- dengan sekuat tenaga. Terakhir, stress nya malah bertambah karena harga menghilangkan stress itu ternyata mendatangkan stress baru. Inilah kenyataannya dalam hidup. Stress itu datang bertubi-tubi. Setelah Televisi menjadi momok bagi generasi- sekarang muncul Smart-phone yang begitu pintarnya membutakan generasi dari yang baru tumbuh hingga berikutnya.
A Distorted Individual sore itu membawa peserta pelatihan Menggali Potensi Bali Utara Tahap 2, memahai bahwa film dokumenter ternyata sanggup menghibur sepenuhnya, jika dikemas dengan tepat. Film ini mengingatkan akan sebuah film Rumania DO NOT EXPECT TOO MUCH FRON THE END OF THE WORLD karya Radu Jude yang sangat dipenuh dengan kbrutalan kosa kata jorok yang akhirnya untuk mendekonstruksi- membaca kembali akan kebrutalan kata-kata “jorok” itu sendiri. Tak berlebihan apabila film ini dinobatkan sebagai pemenang Festival Film Dokumenter Jogjakarta dan melanglang buana hingga ke Inggeris dan Argentina.
Sebagai Epilog, A Distorted Individual membawa kita ke Napoli dan dengan penuh warna warni, Pizza telah menyelamatkan tokoh utama dari segala kegalauan- Hidup berputar dan suatu hari akan menampakkan sebuah warna-warni kehidupan. Dengan Flix Bus, sang sutradara berjalan melintasi Jerman hingga ke Napoli, hanya untuk melihat dimana Pizza, makanan kesayangannya, lahir. Kreatif Dokumenter akan memberi jalan luas tana hambatan.
Dalam sesi akhir kelas Adythia Utama juga sempat disinggung sebuah Festival Film Jelek, yang sedang naik daun. Dalam Festival Film Jelek ini, dibentuk sebuah wadah yang khusus menampilkan film-film Jelek yang sudah ditolak diberbagai festival-festival konsensional. Ini membangkitkan semangat generasi pemberontak muda yang sudah bosan membuat film berlagak bagus, dan saatnya mulai membuat Film Jelek. Seorang sutradara Cult-Trash Sinema- Film Sampah- Sigit Pradityo yang sempat diwawancarai mengatakan bahwa line up Festival Film Jelek, benar-benar sangat jelek semua. Trash Sinema dan Festival Film Jelek mengajarkan bahwa Jelek bisa lagi dibagi menjadi- JELEK yang Indah dan sehat dengan JELEK yang jelek dan tidak sehat. Ini begitu menginspirasi pembuat film muda untuk berkarya- toh akan tetap ada wadah yang menampung karya mereka- sebaik dan sejelek apapun karya itu.[]
Putu Kusuma Wijaya lahir di Singaraja, Bali. Ia adalah sutradara film yang diperhitungkan. Ia belajar film dan televi di Amsterdam Hogeschool voor de Kunsten. Ia pernah lama bekerja pada salah satu televisi swasta. Kemudian ia membantu sutradara Garin Nugroho dalam menggarap film “Under The Tree” dan “Tjokroaminoto”. Film-film buatannya pernah diputar dalam berbagai festival film internasional, di antaranya film “Langkah Kecil Pagi” diputar di Rotterdam Film Festival, “The North Wind” diputar di Festival Film Dokumenter Amsterdam, “On Mother’ Head” diputar di Shanghai dan Taiwan Film Festival.
