Upaya memperkuat kepercayaan digital di tengah pesatnya perkembangan teknologi menjadi fokus utama partisipasi Baliola dalam forum internasional PROTECT Sarawak 2026. Melalui kehadiran CEO-nya, I Gede Putu Rahman Desyanta, sebagai panelis, Baliola menegaskan komitmennya untuk mendorong pengembangan teknologi yang tidak hanya inovatif, tetapi juga berlandaskan transparansi, akuntabilitas, dan keberlanjutan.
Konferensi yang berlangsung pada 28 April 2026 di The Waterfront Hotel ini menjadi forum internasional pertama di Sarawak yang mengangkat tema “Protecting Data, Building Trust”—sebuah isu yang semakin krusial di tengah percepatan transformasi digital di kawasan Asia Tenggara.
Keterlibatan Rahman Desyanta menempatkan Indonesia, khususnya Bali, dalam percakapan strategis mengenai masa depan teknologi global. Ia hadir sebagai salah satu pembicara dalam sesi Panel Dialogue II bertajuk “Human-Centric AI in Practice: Accountability, Sustainability & Digital Trust”, yang membahas bagaimana kecerdasan buatan harus dikembangkan dengan pendekatan yang berpusat pada manusia.
Dalam sesi tersebut, Rahman Desyanta berbagi panggung dengan sejumlah tokoh internasional, di antaranya Dr. Daniel Cf Ng, Ts. Dr. Norsaidatul Akmar Mazelan, dan Faizal Shebli. Diskusi yang berlangsung menyoroti pentingnya akuntabilitas, transparansi, serta keberlanjutan dalam pengembangan teknologi AI, terutama dalam konteks perlindungan data dan kepercayaan digital.
Partisipasi ini menjadi relevan dalam lanskap ekonomi digital yang terus berkembang, di mana inovasi teknologi sering kali berjalan lebih cepat dibanding regulasi. Dalam konteks tersebut, pendekatan human-centric dipandang sebagai fondasi penting untuk memastikan bahwa teknologi tidak hanya efisien, tetapi juga etis dan bertanggung jawab.
Konferensi PROTECT Sarawak 2026 sendiri didukung oleh Sarawak Multimedia Authority dan Sarawak Digital Economy Corporation, serta akan diresmikan oleh Abang Abdul Rahman Zohari. Dalam pidato kuncinya, Premier Sarawak dijadwalkan membahas arah masa depan transformasi digital di wilayah tersebut, termasuk strategi perlindungan data dan penguatan infrastruktur digital.
Kehadiran Rahman Desyanta dalam forum ini tidak hanya memperluas jejaring kolaborasi lintas negara, tetapi juga membawa perspektif praktisi dari Bali ke dalam diskursus global mengenai kebijakan teknologi. Ini sekaligus memperlihatkan bahwa ekosistem kreatif dan teknologi dari Indonesia memiliki kontribusi nyata dalam membentuk masa depan digital yang lebih aman, inklusif, dan berkelanjutan.
Sebagai konferensi internasional perdana di Sarawak yang berfokus pada perlindungan data pribadi (PDPA) dan keamanan siber, PROTECT Sarawak 2026 menjadi ruang penting bagi pemerintah, pelaku industri, dan akademisi untuk menyelaraskan visi dalam membangun kepercayaan digital di tengah kompleksitas era teknologi saat ini.
