Oleh Ari SW – Arsitek, Ketua Harian Bkraf Denpasar dan Ketua Gekrafs DPW Bali
Jika pada tulisan sebelumnya kita sampai pada satu kesadaran bahwa tidak ada satu formula yang bisa diterapkan di seluruh wilayah, maka pertanyaan berikutnya menjadi lebih operasional: bagaimana merumuskan standar, tanpa terjebak pada keseragaman?
Ini bukan persoalan sederhana. Standar, pada dasarnya, lahir untuk menciptakan kepastian. Ia membutuhkan parameter yang jelas, indikator yang terukur, dan sistem yang bisa direplikasi. Tanpa itu, standar kehilangan fungsinya.
Namun di Nusantara, kepastian tidak pernah datang dari keseragaman. Ia justru muncul dari kemampuan membaca perbedaan. Di sinilah kita membutuhkan pendekatan yang berbeda: bukan standar yang kaku, tetapi standar yang fleksibel.
Alih-alih mencari satu sistem yang berlaku untuk semua, pendekatan yang lebih relevan adalah membangun kerangka berlapis. Lapisan pertama adalah prinsip dasar, yakni nilai-nilai yang tidak berubah, apa pun konteksnya. Misalnya: efisiensi energi, pengelolaan air yang bertanggung jawab, penggunaan material yang berkelanjutan, dan kenyamanan penghuni.
Lapisan kedua adalah strategi adaptif, yaitu cara menerjemahkan prinsip tersebut ke dalam kondisi spesifik suatu wilayah. Dan lapisan ketiga adalah implementasi lokal, tak lain adalah keputusan desain yang benar-benar konkret, yang sering kali tidak bisa diseragamkan. Dengan struktur seperti ini, kita tetap memiliki arah yang jelas, tanpa harus memaksakan bentuk yang sama.
Prinsip Sama, Cara Berbeda
Ambil contoh efisiensi energi. Di kota-kota padat seperti Jakarta atau Surabaya, efisiensi mungkin berkaitan dengan sistem bangunan bertingkat, pengelolaan beban listrik, dan integrasi dengan transportasi publik.
Namun di wilayah yang lebih terbuka, efisiensi bisa berarti sesuatu yang jauh lebih sederhana: orientasi bangunan terhadap matahari, ventilasi silang, atau penggunaan bayangan alami dari vegetasi. Prinsipnya sama, mengurangi konsumsi energi. Tetapi caranya berbeda.
Hal yang sama berlaku untuk air. Di wilayah dengan curah hujan tinggi, tantangan utamanya adalah mengelola kelebihan air menyakup drainase, penyerapan, dan pengendalian limpasan. Di wilayah kering, air justru menjadi sumber daya yang harus dikumpulkan, disimpan, dan digunakan secara sangat hati-hati. Jika kita memaksakan satu pendekatan untuk keduanya, kita tidak sedang menciptakan keberlanjutan, melainkan sedang mengabaikan realitas.
Konsekuensi dari pendekatan ini adalah perubahan dalam cara kita menilai bangunan. Selama ini, penilaian sering berfokus pada skor—berapa banyak poin yang didapat, berapa tingkat sertifikasi yang dicapai. Pendekatan ini cenderung mendorong keseragaman, karena semua bangunan dinilai dengan alat ukur yang sama. Dalam kerangka yang lebih fleksibel, penilaian perlu bergeser. Bukan hanya seberapa banyak yang dicapai, tetapi seberapa tepat respons yang diberikan terhadap konteks. Artinya, dua bangunan di tempat yang berbeda tidak harus terlihat sama untuk sama-sama dianggap berkelanjutan. Yang penting adalah keduanya bekerja dengan baik di lingkungannya masing-masing.
Di titik ini, pengetahuan lokal tidak lagi bisa dianggap sebagai pelengkap. Ia justru menjadi sumber utama. Banyak prinsip yang hari ini dibahas dalam green building seperti ventilasi alami, penggunaan material lokal, adaptasi terhadap iklim, yang telah lama menjadi bagian dari praktik arsitektur tradisional di berbagai wilayah Nusantara.
Tantangannya bukan sekadar “mengadopsi kembali”. Tetapi menerjemahkannya ke dalam konteks hari ini, di mana kebutuhan berubah, teknologi berkembang, dan skala pembangunan semakin besar. Ini membutuhkan dialog, bukan nostalgia. Menggabungkan kecerdasan lokal dengan pendekatan modern, tanpa menghilangkan keduanya.
Fleksibilitas, Bukan Kompromi
Sering kali fleksibilitas dianggap sebagai kelemahan, seolah-olah ia berarti tidak tegas, tidak konsisten, atau tidak memiliki standar yang jelas. Padahal dalam konteks Nusantara, fleksibilitas justru adalah bentuk ketepatan. Ia memungkinkan sistem tetap bekerja di berbagai kondisi yang berbeda. Ia memberi ruang bagi inovasi, tanpa kehilangan arah. Dan yang paling penting, ia mencegah kita dari kecenderungan untuk menyederhanakan sesuatu yang pada dasarnya kompleks.
Dengan kerangka seperti ini, green building tidak lagi berhenti pada konsep atau standar. Ia bergerak ke arah praktik. Setiap wilayah menjadi ruang eksperimen, tempat di mana prinsip yang sama diuji melalui pendekatan yang berbeda. Setiap proyek menjadi kesempatan untuk belajar, bukan hanya tentang apa yang berhasil, tetapi juga tentang apa yang perlu disesuaikan. Dan setiap kegagalan menjadi bagian dari proses. Bukan sesuatu yang harus dihindari, tetapi sesuatu yang perlu dipahami. Pada tahap inilah pembahasan perlu menjadi lebih konkret. (bersambung)
