Ulasan : Putu Kusuma Wijaya – Sineas, Alumni Dutch Film School in Amsterdam
Komite Festival Film Indonesia 2026 sudah terbentuk yang kembali dipimpin oleh aktor Aryo Bayu dengan beberapa figur penting dunia perfilman Nasional lainnya, menandakan dimulainya lagi ajang lomba kreativitas sinema Indonesia. Bagi pembuat film cerita panjang Nasional, inilah wadah untuk menunjukkan barometer prestasi film Nasional. Tidak saja dalam prespektif meraih sekian jumlah penonton, tetapi juga dari sudut pandang sinema yang mampu bersaing dalam festival penting dunia, sebagai utusan budaya bangsa adi luhung.
Bagi pembuat film daerah yang jauh dari pusat indistri komersial, maka kategori paling memungkinkan diikuti adalah film pendek, film pendek dokumenter dan film panjang dokumenter. Bisa disebutkan di sini, film pendek dokumenter paling banyak menyedot perhatian mereka. Dengan mengangkat cerita daeah masing-masing, film pendek dokumenter memaparkan aneka ragam budaya persoalan dari Sabang hingga Merauke. Dua film daerah mampu meraik panggung tertinggi Festival Film Indonesia 2025.
SIE karya Josef Levi, pemenang film pendek dokumenter, berhasil memotret kehidupan sepasang suami-isteri lanjut usia yang tinggal di hutan dan kehilangan kambingnya. Cerita yang sangat sederhana, memberitahu kita bahwa ide-ide penting dan bagus berada tidak jauh dari halaman rumah kita.
TAMBANG EMAS RA RITEK karya Alvina N.A menyorot penolakan warga Trenggalek Jawa Timur akan tambang emas yang beropersi di daerah mereka. Kisah perlawanan yang menggunakan sinema sebagai senjata berhasilmenarik perhatian Dewan Juri akhir untuk memenangkannya, di tengah film-film kuat lainnya.
Keberhasilan dua film ini membuktikan bahwa ruang paling dekat dan memungkinkan untuk mencuri perhatian bagi pembat film daerah ke kancah Nasional, adalah ruang film dokumenter pendek dan panjang.
Sebagai salah satu kurator film dokumenter pendek dan panjang FFI 2025, penulis menjadi garda terdepan, menghadapi berbagai serbuan karya dari segala penjuru Nusantara. Ratusan film itu harus ditonton, dengan ketajaman panca indera hingga larut malam untuk memilih hanya 20 judul yang akan di serahkan pada etape berikutnya.
Melihat berbagai karya film dokumenter panjang dan pendek pada Festival Film Indonesia 2025, kita diajak berkeliling Indonesia, menengok lalu memahami persoalan sekaligus merenung akan kekayaan budaya Nusantara. Tidak mudah mempersatukan keanekaragaman ini. Film-film yang berderet panjang ini membangunkan lagi akan makna Bhineka Tunggal Ika yang selama ini tertidur. Dari Aceh hingga Papua, kisah bergulir menegaskan kalau pada film Dokumenter lah menemukan Indonesia yang lengkap.
Ada 17 karya televisi yang terdaftar pada deretan Film Dokumenter Pendek, dan 2 pada Film Dokumenter Panjang
Sejak dahulu kala, di Indonesia, orang-orang mengenal film dokumenter dari tayangan televisi yang menampilkan cara yang hampir seragam. Bahasa gambar yang seharusnya mampu menerangkan, ditenggelamkan olah narasi berlebihan. Gambar yang jelas mengambarkan peristiwa, tidak lagi dipercaya mampu dimengerti oleh penonton sehingga harus ditambahkan dengan kata-kata. Inilah ciri khas tayangan dokumenter yang kita kenal melalui televisi. Inilah juga yang banyak kita saksikan dalam deretan film dokumenter pendek, membuat kita terpaksa bertoleransi untuk memilih.
19 karya film dokumenter hasil karya televisi yang sudah pernah ditayangkan di kanal masing-masing, kembali didaftarkan pada FFI 2025 dengan begitu saja, tanpa ada lagi sentuhan penyesuaian menyelaraskan dengan gaya berbeda untuk bisa bersaing pada tingkat Festival Film Indonesia.
Walaupun ada karya dari stasiun televisi Jawa Timur misalnya, yang mulai menggunakan gaya berbeda, kebanyakan karya dari televisi daerah terjebak dalam cara reportase dan Jurnalistik yang cenderung membosankan.
Jurnalistik dan reportase tujuannya memberitahu- sementara sinema lebih cenderung mempertunjukkan. Televisi daerah sebagai ujung tombak perkembangan budaya, mata petama menemukan keunikan budaya Nusantara, jika ingin mengikuti Festival Film Indonesia mendatang, yang menempatkan sinema sebagai kekuasaan tertinggi, seharusnya menyunting ulang karyanya untuk bisa menyesuaikan dan bersaing di tingkatan ini.
Pilihan kurator telah dibuat dengan pertimbangan tidak saja terhadap substansi film tetapi hal-hal di luar film. Lain dengan film panjang yang tujuan akhir bisa saja karena alasan keuntungan ekonomi, membuat film pendek dokumenter lebih banyak dipicu oleh kegelisahan, kepedulian, dan kecintaan pembuatnya akan subyek yang dihidangkan,
Film Dokumenter bertujuan merapikan kehidupan yang ruwet, memberontak akan hal-hal tidak baik dengan keuntungan ekonomi yang nihil. Seni selalu ada nilai pemberontakan, jika tidak maka itu akan menjadi dekorasi-
Seleksi awal film fiksi panjang adalah satu-satunya kategori yang sebagian besar filmnya bisa disaksikan oleh masyarakat di bioskop.
Sudah menjadi tradisi, pada setiap lomba-lomba kreatif di negeri ini, seperti penulisan skenario, lomba film pendek nasional maupun daerah, seluruh film-film yang terdaftar, ternominasi, bahkan juga yang menang, hanya bisa disaksikan, dinikmati oleh dewan juri saja. Setelah itu, langsung, diumumkan pemenang, tanpa pernah karya-karya tersebut diketahui, disaksikan dan dinilai oleh rakyat penggemar film, serta peserta yang kalah, yang setia mengikuti setiap nafas ajang kompetisi itu.
Ini juga terjadi pada FFI 2025 lalu. Untuk film dokumenter baik pendek dan panjang, masyarakat tidak pernah mendapatkan kesempatan untk menyaksikannya. Tidak saja untuk tahun ini, tetapi juga tahun-tahun sebelumnya. Padahal inilah evaluasi dan penghargaan tertinggi bagi para pembuat film, menyaksikan bagaimana filmnya yang dibuat dengan perjuangan anak daerah itu, bisa disaksikan oleh siapa saja dari Sabang hingga Merauke dan yang terpenting pertanyaan, kenapa bisa kalah, setidaknya terjawab.
Memikirkan bagaimana menayangkan hasil kurasi ini untuk masyarakat luas, sehingga benar-benar meramaikan diskusi bagi penggemar film dokumenter negeri ini, adalah sebuah terobosan penting bagi publik agar benar-benar merasakan perayaan sebuah Festival Film Indonesia. Semoga di tahun 2026 ini, masyarakat luas bisa menyaksikan karya-karya nonimasi film panjang dan pendek dokumenter, sebagai kategori paling favorit bagi pembuat film daerah. []
Putu Kusuma Wijaya lahir di Singaraja, Bali. Ia adalah sutradara film yang diperhitungkan. Ia belajar film dan televi di Amsterdam Hogeschool voor de Kunsten. Ia pernah lama bekerja pada salah satu televisi swasta. Kemudian ia membantu sutradara Garin Nugroho dalam menggarap film “Under The Tree” dan “Tjokroaminoto”. Film-film buatannya pernah diputar dalam berbagai festival film internasional, di antaranya film “Langkah Kecil Pagi” diputar di Rotterdam Film Festival, “The North Wind” diputar di Festival Film Dokumenter Amsterdam, “On Mother’ Head” diputar di Shanghai dan Taiwan Film Festival.
