Thu. Apr 30th, 2026

Ogoh-ogoh Wit Kawit Jawara Kasanga Festival 2026

Ogoh-ogoh “Wit Kawit” karya Sekaa Teruna (ST) Taruna Dharma Castra, Banjar Tengah, Desa Sidakarya, Denpasar Selatan, dinobatkan sebagai Juara I Kasanga Festival 2026. Karya tersebut tampil menonjol dalam rangkaian pawai ogoh-ogoh (Peed Aya) yang berlangsung di kawasan Patung Catur Muka Denpasar sebelum akhirnya diumumkan sebagai pemenang pada penutupan festival di Lapangan Puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung, Minggu (8/3/2026) malam.

Kasanga Festival merupakan agenda tahunan yang menampilkan kreativitas ogoh-ogoh terbaik dari berbagai banjar di Kota Denpasar. Setelah melalui proses penilaian oleh dewan juri, sejumlah karya terpilih berhasil menempati posisi enam besar.

Pada ajang tahun ini, posisi juara II diraih oleh ogoh-ogoh karya ST Sukarela Banjar Kepisah, Kelurahan Pedungan, Denpasar Selatan, sedangkan juara III diraih oleh ST Swadharmita Banjar Ceramcam, Kelurahan Kesiman, Denpasar Timur.

Sementara itu, juara harapan I diraih oleh ST Satya Dharma Banjar Pekandelan, Kelurahan Sanur, disusul harapan II oleh ST Swastika Banjar Pekambingan, Kelurahan Dauh Puri, dan harapan III oleh ST Mekar Sari Banjar Kesambi, Desa Kesiman Kertalangu.

Di luar kategori utama, penghargaan favorit pilihan masyarakat diraih oleh ST Cantika Banjar Sedana Mertha, Kelurahan Ubung, Denpasar Utara.

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, Raka Purwantara, menjelaskan bahwa seluruh peserta yang berhasil masuk 16 besar mendapatkan uang pembinaan masing-masing Rp30 juta. Selain itu, enam besar memperoleh tambahan hadiah sesuai peringkat.

“Juara I mendapat Rp50 juta, juara II Rp40 juta, dan juara III Rp30 juta. Untuk juara harapan I Rp20 juta, harapan II Rp15 juta, serta harapan III Rp10 juta. Sementara juara favorit mendapatkan Rp10 juta,” jelasnya, Senin (9/3).

Karya “Wit Kawit” sendiri mengangkat kisah Gowaksa, tokoh yang diambil dari Lontar Ketaka Parwa. Dalam cerita tersebut, Gowaksa digambarkan sebagai makhluk berwujud kera dengan wajah menyerupai burung yang sempat menimbulkan keresahan karena bentuknya yang tidak lazim.

Namun dalam kisah mitologis, sosok ini justru memiliki peran penting sebagai salah satu palawaga, yakni pasukan kera yang membantu Rama dalam menaklukkan Alengka dalam kisah Ramayana. Cerita tersebut juga berkaitan dengan kutukan Dewa Siwa yang menyebabkan para dewa memiliki keturunan berwujud kera.

Judul “Wit Kawit” sendiri dimaknai sebagai asal mula atau awal sebuah kelahiran, yang menjadi titik awal munculnya tokoh Gowaksa dalam kisah tersebut.

Sementara itu, ogoh-ogoh “Banyu Pinaruh” karya ST Cantika Banjar Sedana Mertha, Ubung, yang sebelumnya memperoleh nilai tertinggi saat penilaian langsung di banjar, tidak berhasil masuk enam besar. Karya yang menggambarkan Dewi Saraswati ini akhirnya hanya meraih penghargaan favorit pilihan masyarakat.

Salah satu juri, I Gede Anom Ranuara, menjelaskan bahwa keputusan tersebut bukan disebabkan ogoh-ogoh sempat roboh setelah pawai, melainkan karena pertimbangan estetika dan logika anatomi dalam karya.

Menurutnya, sosok Dewi Saraswati pada ogoh-ogoh tersebut digambarkan berdiri dengan satu kaki terangkat atau nengkleng, posisi yang dinilai tidak sesuai dengan ikonografi Dewi Saraswati yang dikenal dalam tradisi seni dan pendidikan.

“Secara estetika dan logika tidak masuk, karena posisi Dewi Saraswati berdiri nengkleng. Hal itu bisa menimbulkan persepsi keliru bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, dalam proses penilaian ogoh-ogoh terdapat beberapa aspek utama yang diperhatikan, antara lain anatomi, proporsi, sudut pandang, serta psikoplastis atau ekspresi visual karya. Selain itu, penampilan saat pawai memiliki bobot penilaian sebesar 35 persen, termasuk efektivitas penggunaan mesin serta keseimbangan antara fragmen pementasan dengan pergerakan ogoh-ogoh dalam format karnaval. [bekraf/rls]

By Bekraf

Related Post

Redaktur Tamu