Wed. Mar 11th, 2026

Ketika MUA Menghidupkan Karakter Ogoh-Ogoh

Di sebuah sisi ruang di Banjar Tembau Kelod, Denpasar Timur, malam itu ogoh-ogoh belum selesai. Rangka sudah berdiri. Tubuh figur sudah terbentuk. Namun wajahnya masih menunggu sentuhan terakhir. Di depan salah satu figur, dua gadis berdiri dengan kuas kecil di tangan. Mereka bekerja pelan, teliti, hampir tanpa suara.

Mereka bukan penari fragmen. Bukan penggembira parade. Mereka adalah anggota Sekaa Teruna (ST) yang malam itu berperan sebagai perias wajah ogoh-ogoh.

Selama ini produksi ogoh-ogoh sering dipahami sebagai ruang maskulin. Sekaa Teruna identik dengan konstruksi, mekanik gerak, kerja fisik, dan kompetisi visual. Energi yang lahir pun cenderung tegas, agresif, dan eksplosif. Perempuan hadir, tetapi kerap ditempatkan di pinggir panggung. Mereka dipajang di depan sebagai pemanis pada hari arak-arakan, bukan pada proses penciptaan.

Apa yang terjadi di ST Dharma Santika memberi gambaran berbeda. Perempuan masuk ke jantung produksi: ke wajah.

Dalam seni rupa, wajah bukan sekadar detail. Ia adalah pusat ekspresi. Sedikit lengkung alis dapat mengubah karakter. Garis tipis di bawah mata bisa menggeser emosi. Warna pada kelopak menentukan apakah figur tampak murka, dingin, atau penuh lapisan rasa.

Di titik inilah keterampilan Make Up Artist (MUA) menemukan peran baru. Selama ini, MUA kerap dipersepsikan sebagai keterampilan personal yakni merias diri, mempercantik wajah untuk kamera atau panggung. Namun pada ogoh-ogoh, MUA berubah menjadi desain karakter. Ia bukan lagi tentang kosmetik, melainkan tentang dramaturgi visual.

Permukaan topeng kayu atau kertas berbeda dengan kulit manusia. Cahaya parade malam berbeda dengan lampu studio. Kamera ponsel mempertegas kontras dan memantulkan kilap yang tak diinginkan. Semua itu membutuhkan kepekaan teknis sekaligus rasa artistik. Perempuan-perempuan muda itu membaca bentuk pipi patung, menyesuaikan intensitas warna, menimbang ketegasan garis mata agar tidak pecah di kamera. Mereka sedang berkreasi.

Yang menarik, keterlibatan ini bukan hasil keputusan formal yang dirancang dari atas. Ia lahir dari inisiatif teman. Dari kepercayaan sederhana bahwa keterampilan merias yang dimiliki bisa memperkuat karya bersama. Dari ruang yang dibuka karena kualitas, bukan sekadar simbol partisipasi.

Inilah transformasi yang terjadi secara organik. Tradisi tidak pernah beku. Ia bergerak mengikuti dinamika generasi yang menghidupinya. Ogoh-ogoh hari ini tidak hanya berdiri di persimpangan ritual dan seni, tetapi juga di tengah ekosistem ekonomi kreatif. Ia didokumentasikan, diarsipkan, dipublikasikan, bahkan menjadi bagian dari narasi identitas daerah.

Dalam konteks itu, detail visual menjadi semakin penting. Wajah ogoh-ogoh bukan lagi sekadar elemen estetika; ia menjadi wajah yang beredar di ruang digital. Ia menjadi citra yang direkam, dibagikan, dan dikomentari. Kualitas ekspresi menentukan daya ingat publik.

Masuknya keterampilan MUA ke dalam proses produksi menunjukkan bahwa ogoh-ogoh tidak lagi sepenuhnya berada dalam dominasi satu spektrum energi. Ia mulai membuka ruang bagi keseimbangan perspektif. Energi konstruksi bertemu dengan energi rasa. Kekuatan fisik bersanding dengan kepekaan detail.

Para perempuan di ST Dharma Santika tidak mengambil alih panggung. Mereka tidak mengubah struktur secara demonstratif. Namun dengan sentuhan kuas yang presisi, mereka membentuk ekspresi yang akan dilihat ribuan orang. Dalam keheningan proses itu, terjadi pergeseran makna.

Mungkin ke depan, ketika orang bertanya tentang siapa yang menciptakan ogoh-ogoh, jawabannya tidak lagi tunggal. Ia adalah karya kolektif yang benar-benar kolektif—di mana keterampilan teknis, rasa artistik, dan solidaritas generasi bertemu dalam satu figur yang berdiri menjelang Nyepi.

Dan di Banjar Tembau Kelod, wajah ogoh-ogoh tahun ini mengajarkan satu hal sederhana: kreativitas tidak mengenal batas peran lama. Ia tumbuh di mana ada ruang untuk percaya pada kemampuan satu sama lain. [bekraf/agung bawantara]

By Bekraf

Related Post