Festival Literasi Denpasar ke-6 menghadirkan capaian yang patut diapresiasi. Lebih dari 10.150 karya literasi berupa puisi, cerita pengalaman pribadi, cerpen, dan esai, lahir dari tangan siswa dan guru di Kota Denpasar. Angka ini bukan sekadar statistik. Ia menunjukkan bahwa ribuan anak muda berani menulis, mengekspresikan gagasan, dan ikut terlibat dalam ruang kreatif literasi.
Namun setelah angka besar itu tercapai, muncul pertanyaan yang jauh lebih penting: apa selanjutnya ?
Dalam banyak gerakan literasi di berbagai kota dan negara, tahap awal memang selalu dimulai dari mobilisasi partisipasi. Festival, lomba menulis, atau gerakan membaca massal adalah cara untuk membangkitkan minat dan membuka pintu bagi generasi muda agar mau menulis dan membaca. Dalam konteks itu, capaian 10 ribu lebih karya di Denpasar adalah langkah awal yang sangat baik.
Tetapi literasi yang sejati tidak berhenti pada jumlah karya. Ia harus bergerak menuju kualitas berpikir dan keberlanjutan ekosistem.
Pertanyaan pertama yang patut diajukan adalah: apa yang bisa kita pelajari dari 10 ribu karya itu?
Karya-karya tersebut sebenarnya merupakan tambang data yang sangat berharga. Dari sana dapat dilihat bagaimana cara generasi muda memandang dunia, tema apa yang mereka angkat, persoalan apa yang mereka rasakan, serta sejauh mana kemampuan mereka menyusun gagasan. Jika karya-karya ini dibaca, dikurasi, dan dipetakan, Denpasar akan memiliki potret yang sangat menarik tentang peta literasi generasi mudanya.
Karena itu langkah berikutnya adalah melakukan kurasi dan dokumentasi karya terbaik. Antologi karya siswa Denpasar bisa diterbitkan secara berkala, baik dalam bentuk buku maupun perpustakaan digital. Dengan cara ini, karya-karya tersebut tidak berhenti sebagai arsip lomba, tetapi menjadi warisan intelektual generasi muda kota.
Langkah berikutnya adalah membangun komunitas penulis muda. Festival yang berlangsung setahun sekali tentu penting, tetapi literasi membutuhkan proses yang jauh lebih panjang. Siswa-siswa yang menunjukkan bakat menulis dapat dibina melalui workshop, kelas menulis, atau klub literasi di sekolah-sekolah. Dari proses inilah biasanya lahir penulis, jurnalis, atau pemikir muda di masa depan.
Literasi juga perlu dihubungkan dengan media kreatif yang dekat dengan generasi muda hari ini. Cerpen bisa menjadi film pendek, puisi dapat menjadi video puisi, dan esai bisa berkembang menjadi konten digital. Dengan demikian literasi tidak hanya hidup di halaman buku, tetapi juga hadir di ruang digital yang menjadi habitat generasi muda saat ini.
Lebih jauh lagi, gerakan literasi akan menjadi semakin bermakna jika dihubungkan dengan kehidupan kota itu sendiri. Tulisan tentang sungai, lingkungan, budaya, sejarah, atau kehidupan masyarakat Denpasar dapat menjadi cara bagi generasi muda untuk memahami ruang hidup mereka. Literasi kemudian tidak sekadar menjadi latihan menulis, tetapi menjadi cara membaca kota dan zaman.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan gerakan literasi tidak hanya terletak pada jumlah karya yang dihasilkan, tetapi pada manusia yang lahir dari proses tersebut. Jika dari 10 ribu karya itu muncul puluhan penulis muda, jurnalis muda, atau pemikir muda yang kelak memberi warna pada kehidupan intelektual kota, maka gerakan literasi itu benar-benar berhasil.
Karena itu, capaian 10.150 karya bukanlah garis akhir. Ia justru adalah titik awal dari perjalanan yang lebih panjang.
Pertanyaan “Apa selanjutnya?” seharusnya mendorong kita untuk memastikan bahwa energi literasi yang sudah terbangun ini tidak berhenti pada sebuah festival, tetapi berkembang menjadi ekosistem budaya berpikir, menulis, dan berkarya yang hidup sepanjang tahun di Kota Denpasar. [bekraf/red]
