Sat. May 2nd, 2026

Orange Economy untuk Daya Hidup Kebudayaan Bali

Kebudayaan Bali tidak boleh diposisikan sebagai peninggalan masa lalu, melainkan sebagai sumber daya hidup yang harus terus dimaknai ulang agar tetap relevan dengan perubahan zaman.

Pandangan itu disampaikan IB Rai Dharmawijaya Mantra, anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI dapil Bali, dalam pertemuannya dengan IGP Rahman Desyanta di Jakarta, Jumat (30/1/2026).

Dalam dialog yang bertujuan mencari sinergi untuk turut memajukan kebudayaan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat Bali, Rai Mantra memandang Orange Economy sebagai kerangka penting agar tradisi dan nilai lokal Bali tetap memiliki daya hidup, baik secara kultural maupun sosial-ekonomi.

“Tradisi dan kearifan lokal Bali itu hidup. Tantangannya hari ini adalah bagaimana kita memaknainya ulang dengan bahasa dan kemasan yang dipahami oleh zaman, tanpa kehilangan ruh dan nilai dasarnya,” ujar Rai Mantra.

Ia menegaskan bahwa Orange Economy—yang bertumpu pada kreativitas, kebudayaan, dan kekayaan intelektual—memberi arah baru bagi pembangunan Bali. Dalam kerangka ini, kebudayaan tidak cukup dijaga sebagai identitas simbolik, tetapi perlu dikelola sebagai sumber nilai yang mampu meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat.

“Kalau kebudayaan hanya dirawat sebagai simbol, tetapi tidak memberi dampak nyata bagi kehidupan masyarakat pendukungnya, maka ada yang kurang. Kebudayaan harus memberi kehidupan,” lanjutnya.

Merespons pandangan tersebut, Rahman Desyanta—yang akrab disapa Gede Anta—memaparkan peran teknologi, khususnya blockchain, sebagai alat pendukung tata kelola kebudayaan di era digital. Menurutnya, tantangan utama kebudayaan saat ini bukan terletak pada kekayaan tradisi, melainkan pada bagaimana nilai budaya tersebut dicatat, dilindungi, dan dikelola secara adil.

Blockchain bukan soal kecanggihan teknologinya, tetapi soal kepercayaan. Ia memungkinkan pencatatan asal-usul karya budaya, kepemilikan, dan pemanfaatannya dilakukan secara transparan dan bertanggung jawab,” kata Gede Anta.

Ia menjelaskan bahwa teknologi blockchain dapat digunakan untuk melindungi kekayaan intelektual, termasuk yang bersifat komunal seperti milik banjar, sekaa, atau desa adat. Dengan rekam jejak yang jelas, karya budaya dapat dikembangkan lintas medium—mulai dari dokumentasi digital, ekonomi kreatif, hingga pemanfaatan global—tanpa kehilangan kendali nilai oleh komunitas asalnya.

“Teknologi ini tidak mengubah substansi tradisi. Justru ia menjaga agar ketika budaya masuk ke ruang modern, manfaatnya tidak terlepas dari masyarakat pendukungnya,” tegasnya.

Merambah Jakarta
Dalam kesempatan tersebut, Rahman Desyanta juga menjelaskan bahwa Baliola kini mulai merambah Jakarta seiring meningkatnya skala pengembangan dan kepercayaan terhadap startup yang mereka rintis. Ia berkantor di Jakarta sebagai langkah strategis menyusul berbagai capaian yang diraih Baliola sejak dibangun dan bertumbuh di Bali, sekaligus untuk memperkuat kerja sama dan jejaring di tingkat nasional.

Menurutnya, langkah ini bukan perubahan arah, melainkan perluasan medan kerja. Bali tetap menjadi akar dan identitas Baliola, sementara kehadiran di Jakarta diperlukan karena banyak proses pengembangan, koordinasi lintas institusi, dan pengambilan keputusan strategis yang menuntut konsentrasi di pusat.

Berbagai capaian Baliola menjadi dasar kuat ekspansi tersebut. Startup blockchain asal Bali ini tercatat memperoleh eksposur internasional melalui undangan forum di KJRI Perth, Australia, keterlibatan Rahman Desyanta dalam International Visitor Leadership Program (IVLP) di Amerika Serikat, serta partisipasi ekosistem Mandala Chain dalam ajang Startup World Cup hingga Silicon Valley. Di tingkat nasional, teknologi dan pendekatan Baliola digunakan dan dikembangkan bersama berbagai institusi, mulai dari pemerintah daerah (seperti Pemprov Jawa Barat dan Pemkot Denpasar) hingga kolaborasi dengan BRIN, BSSN, dan Indonesia Blockchain Society dalam isu identitas digital, keamanan siber, dan tata kelola blockchain. Di luar itu Baliola juga merupakan pemenang dari OJK Hackaton dan Google AI  Boothcamp 2025.

Pada pertemuan itu Rai Mantra dan Gede Anta bersepakat bahwa teknologi harus diposisikan sebagai sarana, bukan tujuan. Orientasi utamanya adalah menjaga martabat kebudayaan Bali sekaligus memastikan keberlanjutannya sebagai kekuatan sosial dan ekonomi.

Pertemuan tersebut menegaskan komitmen Rai Mantra dan Rahman Desyanta untuk menyumbangkan tenaga dan pemikiran agar Orange Economy tidak berhenti sebagai konsep kebijakan, melainkan hadir sebagai praktik nyata dalam memajukan kebudayaan Bali dan meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya. [bekraf/abe]

By Bekraf

Related Post

Redaktur Tamu