Di tengah pergeseran besar dunia seni menuju ranah digital, satu pertanyaan mendasar terus berulang adalah bagaimana seorang seniman memastikan bahwa karyanya tetap autentik, terlindungi, dan dapat diverifikasi, bahkan bertahun-tahun setelah dipamerkan atau berpindah kepemilikan.
Dari pertanyaan itulah Kraflab.id muncul sebagai jawaban. Platform ini tampil sebagai infrastruktur baru bagi ekosistem seni Indonesia. Ia merupakan sistem sertifikasi karya berbasis blockchain yang memberikan identitas digital permanen untuk setiap karya seni yang diregistrasi. Dengan teknologi yang tidak dapat diubah atau dimanipulasi, sertifikat digital dari Kraflab menjadi bukti keaslian yang dapat diverifikasi kapan pun sepanjang masa.
Keberadaan Kraflab.id mendapatkan momentum pada ajang UTOPIA 2025, sebuah pameran seni kolaborasi dari sejumlah seniman yang diselenggarakan di Tijili Hotel, Seminyak (5–14 Desember 2025). Untuk pertama kalinya dalam sejarah pameran seni rupa Indonesia, seluruh karya yang ditampilkan dalam pameran didaftarkan dan dilengkapi sertifikat digital melalui Kraflab.
“Setiap karya kini tidak hanya dipajang secara fisik, tetapi juga memiliki rekam identitas yang tertaut ke blockchain, dapat diakses publik hanya dengan memindai sebuah QR code,” papar Aldila Liris, Head of Business Development Baliola.
Dengan begitu, imbuh Aldila, proses apresiasi seni mengalami pergeseran: bukan lagi sekadar melihat, tetapi juga mengetahui, memverifikasi, dan memahami perjalanan karya.
Proses registrasi di Kraflab.id pun dirancang agar inklusif dan mudah. Seniman cukup membuat akun, mengunggah gambar karya, deskripsi, dan detail kreator, lalu sistem akan memproses data tersebut ke blockchain. Dalam waktu singkat, sertifikat digital pun terbit, lengkap dengan QR yang bisa dicetak atau ditempatkan berdampingan dengan karya di galeri. Di sini, teknologi tidak mengambil alih peran seniman; ia hanya memastikan bahwa jejak artistik mereka tidak hilang.
Salah satu seniman yang merasakan langsung manfaat teknologi ini adalah Damuh Bening, yang memamerkan dua karyanya, termasuk karya berbahan dasar ampas kopi berjudul Nuraya (Nusantara Raya). Baginya, perlindungan digital bukan soal melarang replika atau menakuti plagiarisme. Ia justru melihatnya dari sudut pandang yang lebih realistis.
Menurutnya, hari ini seniman tidak perlu khawatir karyanya diduplikasi. Namun, penting untuk memastikan pembeli tidak tertipu oleh duplikator.
“Dengan Kraflab.id, autentisitas karya tidak mungkin dipalsukan karena sistemnya berbasis blockchain. Jika ada yang mencoba, data akan berbicara,” ujarnya.
Bagi Damuh, dalam karya seni yang tak bisa ditiru bukan medium ataupun garis, tetapi jiwa karya. Dan blockchain memberi cara bagi publik untuk melihat mana karya yang lahir dari tangan kreator, dan mana yang hanya meniru bentuknya.
Mengantisipasi kekeliruan di tengah antusiasme digitalisasi seni ke depan, Aldila menegaskan bahwa Kraflab.id bukanlah pengganti sistem hukum formal seperti sertifikasi HKI atau hak cipta negara. Menurutnya, legalitas dari pemerintah tetap merupakan payung formal dari sertifikasi. Kraflab hadir sebagai arsip permanen yang hidup dalam jaringan digital global.
“Jadi kraflab.id bukan tandingan, bukan substitusi, melainkan pendamping, penopang tech-based yang memperkuat bukti, mempercepat verifikasi, dan memastikan transparansi,” tandasnya. [bekraf/rls]
