Fri. Apr 17th, 2026

Mabuk Tuak vs Mabuk Digital di Kanvas Suwidiarta

 

Ulasan Agung Bawantara

Sesosok bertubuh tambun duduk setengah rebah, satu tangan menopang tubuh dan satu tangan lainnya mengangkat botol seolah baru saja dipakai untuk meneguk sesuatu (kita mungkin segera terasosiasi dengan minuman keras). Garis-garis putih yang halus membangun lekuk perut, dada, dan lengan, menghadirkan tubuh yang jujur, berat, dan apa adanya. Di lehernya tergantung sebuah kalung dengan liontin taring hewan. Sebuah detail yang segera menghubungkan figur ini dengan dunia naluri dan insting purba.

Itu adalah sosok utama pada lukisan karya I Ketut Suwidiarta (2025) berjudul “Catur Kukila Basa” yang tertuang melalui goresan cat acrylic di atas kanvas berukuran 100x 200 cm. Karya ini pertama kali dipamerkan pada Pameran bertajuk Paradiso Art Exhibition di Arma Museum dan Resort, Ubud, Bali, bersama karya-karya perupa Made Gunawan, I Wayan Santrayana, I Wayan Gede Budayana, I Ketut Suasana Kabul, dan I Made Sutarjaya (6-21 Desember 2025).

Sosok tambun tersebut memakai topeng merah dengan kumis melengkung di wajahnya. Rambutnya legam dan berkibar liar. Dua mata pada topeng itu terpejam rapat, seolah sedang tenggelam dalam tawa yang berlebihan dan menolak melihat realitas. Namun tepat di tengah keningnya, sebuah mata ketiga terbuka, melotot lebar, menghadirkan paradoks: meski mata lahir tertutup, kesadaran batinnya justru menyala paling terang.

Topeng ini bukan hanya elemen visual, tetapi tubuh kedua bagi sang tokoh. Sebuah medium yang membuka pintu bagi ekspresi liar, hilangnya batas, dan pelepasan kendali. Dalam tradisi Bali, topeng dapat membebaskan pemakainya dari norma-norma sosial. Di sini, Suwidiarta menggunakannya sebagai simbol bahwa figur ini sedang masuk ke wilayah di mana kontrol diri runtuh, norma memudar, dan ocehan yang tak terfilter mengambil alih.

Melalui penggambaran ini, Suwidiarta menghidupkan kembali konsep dalam kesusastraan Bali kuno yakni Catur Kukila Basa yang berarti tahap kemabukan ketika seseorang mulai berbicara tanpa kendali, kehilangan mawas diri, dan terseret arus kata-kata yang tidak lagi ia kuasai. Mabuk dalam teks lama tidak hanya merujuk pada alkohol, tetapi pada kondisi batin ketika kesadaran melemah dan kewaspadaan menghilang.

Namun Suwidiarta tidak sekadar memotret mabuk masa lampau. Ia memindahkan metafor itu ke dalam lanskap psikologis dan sosial zaman sekarang. Manusia modern mengalami jenis kemabukan baru yakni mabuk oleh arus informasi, mabuk oleh komentar cepat, mabuk oleh hasrat untuk berbicara tanpa berpikir, mabuk oleh identitas digital yang bekerja seperti topeng yang memperbolehkan ekspresi berlebihan tanpa risiko langsung terhadap diri nyata. Ocehan mabuk dalam teks lontar kini menemukan padanannya di kolom komentar, unggahan media sosial, dan reaksi impulsif yang dipicu layar.

Topeng merah dalam lukisan ini menjadi pusat kritik tersebut. Mata tertutupnya melambangkan hilangnya orientasi lahiriah: manusia yang tidak melihat dampak dari kata-katanya, tidak menyadari konsekuensi tindakannya, dan tidak menakar emosinya. Namun mata ketiga yang terbuka adalah penanda yang lebih dalam: manusia sebenarnya tahu apa yang sedang ia lakukan, tetapi memilih untuk menutup mata terhadap kesadaran itu. Ia sadar, tetapi tak terkendali. Ia tahu, tetapi tak mawas diri. Di sinilah ironi “mabuk modern” paling kuat terasa.

Kalung taring di dadanya mengembalikan kita pada naluri dasar: agresi, spontanitas, dorongan primitif yang muncul ketika kesadaran melemah. Ketika orang mabuk—baik secara literal maupun metaforis—naluri purba itulah yang mengambil alih. Dalam konteks digital, naluri itu berubah menjadi komentar yang menusuk, opini yang dilontarkan tanpa empati, atau reaksi cepat yang tidak merepresentasikan kedewasaan psikologis.

Dan figur dalam lukisan ini tertawa. Tertawa keras, tertawa besar, tertawa yang lebih mirip pelepasan ketimbang kebahagiaan. Tawa topeng adalah tawa dunia yang sedang kacau: tawa yang menertawakan dirinya sendiri, tawa yang tak benar-benar bebas, tawa yang menyembunyikan hilangnya keseimbangan batin.

Dalam komposisi yang tampak sederhana ini, Suwidiarta menghubungkan tradisi dan modernitas dengan cara yang sangat elegan. Catur Kukila Basa di masa lalu menggambarkan mabuk yang menghilangkan kendali tutur. Catur Kukila Basa hari ini menggambarkan masyarakat yang mudah terseret impuls, mudah tersulut emosi, mudah mengoceh tanpa penapisan.

Dengan bahasa visual yang kuat, humor gelap, dan akar sastra Bali yang kokoh, Suwidiarta memperlihatkan bahwa mabuk adalah kondisi lintas zaman. Bedanya, dulu mabuk karena arak; kini mabuk karena segala yang mengaburkan kewaspadaan. Tokoh dalam lukisan ini menjadi cermin bagi kita: manusia dengan dua mata tertutup, tetapi satu mata batin yang terus memperhatikan meski jarang kita dengarkan.

Karya ini tidak hanya menggambarkan tentang situasi mabuk. Ia menggambarkan zaman yang mabuk.[]

By Bekraf

Related Post