Fri. Apr 4th, 2025

Mekotek, Tradisi Tolak Bala Incaran Wisatawan dan Fotografer

Desa Munggu, BEKRAF- Tradisi Mekotek, salah satu upacara tolak bala yang kaya akan sejarah dan makna, akan kembali digelar pada tanggal 9 Maret 2024. Upacara ini menjadi sorotan utama bagi masyarakat Desa Munggu, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali, Indonesia, yang diwariskan secara turun-temurun oleh umat Hindu Bali. Bagi para pegiat ekonomi kreatif, utamanya pegiat fotografi, upacara Mekotek sangatlah ditunggu-tunggu. Banyak momen dramatik dan heroik pada upacara tersebut.

Mekotek, yang juga dikenal dengan sebutan ngerebek, memiliki akar sejarah yang dalam. Pada awalnya, tradisi ini dimulai sebagai penyambutan prajurit Kerajaan Mengwi yang kembali dari medan perang dengan kemenangan atas Kerajaan Blambangan di Jawa. Namun, seiring berjalannya waktu, Mekotek berkembang menjadi upacara tolak bala, di mana masyarakat berbondong-bondong berkumpul untuk memohon keselamatan dari segala mara bahaya.

Pelaksanaan Mekotek dilakukan setiap 210 hari sekali, mengikuti penanggalan Bali, tepat pada hari Sabtu Kliwon Kuningan, yang juga bertepatan dengan hari raya Kuningan atau selesai hari raya Galungan. Lebih dari sekadar sebuah upacara, Mekotek merupakan ungkapan rasa syukur atas hasil panen serta doa akan keselamatan bagi seluruh masyarakat.

Dahulu, perayaan Mekotek menggunakan besi sebagai alat yang memberikan semangat juang. Namun, karena terlalu banyak peserta yang terluka, tombak besi digantikan dengan tongkat kayu pulet yang sudah dikupas kulitnya, dengan panjang sekitar 2-3,5 meter. Peserta upacara diwajibkan mengenakan pakaian adat madya, seperti kancut dan udeng batik, sambil berkumpul di Pura Dalem Munggu untuk memulai persembahyangan dan ucapan terima kasih atas hasil perkebunan.

Upacara kemudian dilanjutkan dengan pawai menuju sumber air di kampung Munggu. Sebanyak 2000 peserta, yang terdiri dari penduduk Munggu dari berbagai kelompok usia, mulai dari 12 hingga 60 tahun, bergabung dalam upacara ini. Mereka dibagi ke dalam kelompok-kelompok, masing-masing terdiri dari 50 orang. Tongkat kayu yang mereka bawa diadu di udara membentuk piramida atau kerucut, sementara peserta yang berani naik ke puncak memberikan komando semangat bagi kelompoknya.

Tradisi Mekotek ini diiringi oleh irama gamelan yang membangkitkan semangat juang para peserta. Suasana penuh semangat dan kebersamaan menjadi ciri khas dari upacara yang dipenuhi dengan makna dan nilai-nilai luhur ini. Diharapkan, dengan dilaksanakannya Mekotek pada tanggal 9 Maret 2024, Desa Munggu dan seluruh masyarakatnya dapat terhindar dari segala bencana dan mendapatkan keberkahan serta keselamatan yang selalu diharapkan.***

By Bekraf

Related Post