Ulasan Agung Bawantara
Di antara ogoh-ogoh yang biasa menjeritkan amarah, Santarasa tampil berbeda. Ia datang dengan wajah gugup, seolah tahu sesuatu telah terbongkar tapi belum siap menerima akibatnya. Ada rasa canggung yang tak bisa disembunyikan, meskipun tubuhnya besar dan matanya dibentuk seperti makhluk kuat. Tapi kepala ogoh-ogoh itu terus bergerak, gelisah, seperti ingin pergi tapi tak tahu ke mana.
Kisah yang diangkat dari tubuh itu berasal dari fragmen kecil dalam epos Ramayana. Nama tokohnya Patih Sukasrana, utusan Rahwana. Tugasnya: menyusup ke pasukan kera Sri Rama. Ia menyamar menjadi seekor monyet. Tapi ia gagal. Ketahuan. Ditangkap. Dihadapkan pada Rama.
Yang terjadi kemudian tidak seperti yang biasa kita dengar dalam kisah kepahlawanan. Rama tidak marah. Tidak menghukum. Ia justru memberi wejangan. Dan dari situ, sesuatu yang aneh muncul dalam diri sang patih: rasa lega yang tak ia duga sebelumnya. Sejenis rasa tenang yang datang setelah seluruh kegugupan melewati puncaknya.
Itulah yang disebut santarasa. Sebuah jenis rasa yang tidak meledak, tidak meminta perhatian. Rasa yang hanya terasa setelah semua badai lewat. Rasa yang diam.
Ogoh-ogoh ini dibuat oleh Sekaa Teruna Teruni Putra Dharma Canthi dari Banjar Jaba Tengah, Kepaon-Pemogan, Denpasar Selatan. Tidak seperti ogoh-ogoh pada umumnya yang mengandalkan bentuk besar dan raut wajah bengis, karya ini mencoba menyimpan cerita. Cerita tentang penyusup yang tidak dihukum. Tentang rasa takut yang reda. Tentang seseorang yang tak tahu harus berbuat apa setelah ketahuan.
Konsepnya digarap oleh I Gde Arya Priyadi Laksana. Ia tidak memilih bagian perang. Ia memilih bagian hening. Bagian yang sering dilewatkan. Ia justru menangkap sisi yang tidak gemerlap tapi punya getaran yang lebih dalam: saat tokoh musuh mulai belajar sesuatu dari kebaikan lawannya.
Pande Gede Nugi Mahendra membuat konstruksi geraknya. Ia memakai dua mesin: satu untuk kepala, satu untuk badan. Gerakannya dibuat agar tidak sinkron. Kepalanya bergoyang tidak karuan, tubuhnya tertahan seolah hendak melompat namun selalu batal. Semua dirancang untuk menghadirkan kepanikan, tapi dengan cara yang tak keras. Panik yang justru ditampakkan melalui kebingungan.
Yang paling mengesankan bukan mesin atau geraknya, tapi wajah itu. Ada semacam keraguan yang sulit dijelaskan. Seperti seseorang yang sudah tahu dirinya bersalah, tapi belum sanggup minta maaf. Atau mungkin belum tahu caranya.
I Made Awan Juliana bertanggung jawab atas periasan dan detailnya. Ia memakai clay, solek, prada. Motif-motifnya khas Bali: patra samblung dan patra punggel. Prosesnya lebih dari tiga bulan. Clay itu rapuh, dan butuh kesabaran. Semua dikerjakan pelan-pelan. Dan itu terlihat.
Kalau kita melihatnya dari kejauhan, ogoh-ogoh ini tampak seperti makhluk besar yang kebingungan. Tapi dari dekat, ia penuh detil. Tidak ada garis yang dibuat asal. Tidak ada ornamen yang muncul tanpa maksud. Semuanya diatur untuk menyampaikan suasana.
Seni klasik India mengenal sembilan rasa utama —navarasa. Ada marah, takut, sedih, cinta, kagum, dan lain-lain. Tapi satu rasa sering diabaikan karena tidak menyala: shanta, atau damai. Rasa yang muncul saat yang lain telah habis. Saat seseorang tidak lagi ingin menang, tidak ingin membalas. Ia hanya ingin duduk sebentar dan menarik napas.
Santarasa, ogoh-ogoh ini, mencoba menunjukkan rasa itu. Bukan lewat ucapan, bukan lewat simbol besar. Tapi lewat gerakan kepala yang bingung, badan yang tidak pasti, dan wajah yang tak tahu harus menunjukkan apa.
Arya membuat konsepnya. Nugi menyusun geraknya. Awan merias tubuhnya. Mereka bekerja dengan sangat tekun tiga bulan lamanya dan tanpa saling melampui. Mereka percaya pada tugas masing-masing. Dan mereka pun melahirkan ogoh-ogoh yang tidak berteriak, tapi berbicara perlahan. Seolah mewakili diri kita yang gelisah dan terus bertanya: aku harus ke mana? [BEKRAF/Abe]