Oleh : Agung Bawantara
Meski hampir semua berwajah seram, tidak ada ogoh-ogoh yang dibuat untuk menakut-nakuti. Ia bukan horor. Ia adalah pengingat. Pengingat bahwa dunia ini tidak hanya milik manusia, dan bahwa sesuatu yang tak terlihat kadang ingin bicara, meski tanpa suara.
Begitulah kira-kira kesan pertama saat melihat Bregan Pering, ogoh-ogoh karya Nyoman Martono dari Banjar Penaka, Tampaksiring, Giayar. Ia tidak besar dalam ukuran, tapi kuat dalam kesan. Sosok yang diciptakannya adalah laki-laki bertubuh kecil, berambut gimbal agak kemerahan, tubuhnya bungkuk, dan kulitnya gelap. Di atas bibirnya tidak ada lekukan, giginya tonggos, matanya melotot, dan telinganya memanjang karena giwang emas yang menggantung berat. Ia hanya memakai cawat. Wajahnya purba, seperti cerita-cerita para tetua tentang makhluk yang tinggal di rimbun bambu.
Yang menarik bukan hanya bentuknya. Sosok itu berdiri—lebih tepatnya mencangkung—di ujung batang bambu. Aslinya, bambu itu bukan bambu palsu dari stereofoam. Itu bonggol bambu betulan. Di dalamnya, Martono menyisipkan kerangka besi yang menyangga tubuh ogoh-ogoh. Jadi, dari luar, yang terlihat hanya tonya yang seperti siap meloncat, tapi dari dalam, ia ditopang teknologi yang tak kasatmata. Ini bukan sekadar keindahan, ini kecerdikan. Rancangannya dibuat agar ogoh-ogoh tidak mudah tumbang saat diarak dalam keramaian.
Raut wajahnya tak dibuat untuk menakuti, tapi untuk mengabarkan: “Saya di sini. Saya masih ada.”
Tonya, begitu orang Bali menyebutnya, bukan hantu. Ia makhluk ciptaan Tuhan, sama seperti manusia, hanya saja tidak tampak oleh mata biasa. Ia punya tempat tinggal, biasanya di daerah yang sepi, teduh, dan tidak banyak dilalui orang. Di Bali, itu bisa berarti hutan kecil, rumpun bambu, atau pinggir sungai.
Ketika tempat-tempat itu digusur, tonya tak punya tempat pulang. Lalu, ia marah. Tapi marahnya tidak seperti manusia. Ia tidak melempar batu atau membakar rumah. Ia hadir sebagai kekacauan kecil yang terus-menerus: pertengkaran di rumah, sawah yang tak subur, pikiran yang sumpek, dan malam yang gelisah. Tidak ada yang bisa membuktikan secara ilmiah, tapi orang tua di Bali akan berkata, “Itu karena tempat itu dirusak, dan penunggunya tidak diajak bicara.”
Bregan Pering adalah gambaran dari semua itu. Nama “Bregan” dalam bahasa Bali berarti penjaga atau pengawal, dan “Pering” adalah bambu. Jadi, ini bukan sembarang ogoh-ogoh. Ini adalah makhluk yang kehilangan tempat tinggal. Dan ia datang, tidak untuk menakut-nakuti, tapi untuk menyampaikan rasa kehilangan.
Orang Bali tidak mengusir tonya. Yang dilakukan adalah mengundangnya. Dalam upacara mecaru, mereka diberi tempat duduk, diberi makanan, diberi doa. Ditemani. Di-somya. Itu artinya disapa dengan hormat agar mereka merasa damai, dan tidak perlu mengganggu.
Di sinilah ogoh-ogoh seperti Bregan Pering menjadi penting. Ia bukan sekadar karya seni, tapi pengingat. Bahwa setiap tempat di dunia ini tidak hanya dihuni oleh manusia. Bahwa kita tak bisa membangun apa pun tanpa menghitung apa yang telah kita gusur sebelumnya.
Bambu bukan hanya batang hijau yang tumbuh cepat. Ia adalah rumah. Dan ketika rumah itu dihancurkan, penghuninya tidak pergi begitu saja. Ia tinggal di antara kita. Ia tidak bersuara, tapi hidupnya merambat dalam gelombang tak terlihat.
Martono tidak hanya membuat ogoh-ogoh. Ia membangun ulang cerita lama dengan cara baru. Ia menyelipkan kerangka besi dalam bambu, seperti menyisipkan logika ke dalam kepercayaan. Dan hasilnya bukan hanya patung, tapi dialog. Antara yang terlihat dan yang tidak, antara modern dan tradisi, antara kita dan mereka yang halus.
Di malam pengerupukan, ketika ogoh-ogoh ini diarak dan akhirnya dibakar, orang-orang bersorak. Tapi di balik itu, ada semacam harapan: semoga yang marah bisa tenang. Semoga yang kehilangan bisa diberi rumah baru, walau cuma sementara. Dan semoga kita, manusia, bisa sedikit lebih hati-hati sebelum merobohkan tempat yang tak kita pahami.
Karena, siapa tahu, di balik rumpun bambu terakhir yang berdiri itu, ada sepasang mata melotot yang menatap kita—bukan dengan benci, tapi dengan perasaan yang ingin didengarkan.[BEKRAF/Abe]