MUSIK jazz telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan artistik Bali, menyatu dengan jiwa dan budaya lokal. Salah satu perayaan yang paling menonjol dari perpaduan ini adalah Ubud Village Jazz Festival (UVJF), yang berlangsung pada 2-3 Agustus 2024 di STHALA Ubud Portfolio Hotel by Marriott. Festival ini tidak hanya menawarkan pertunjukan musik kelas dunia tetapi juga menampilkan keindahan seni Bali melalui kolaborasi dengan kelompok seni wanita, Iluh Bali Art Group.
Pada tahun ini, Iluh Bali Art Group membawa tema “Love Is Us” dengan memamerkan lampion-lampion artistik yang menghiasi sudut-sudut area UVJF. Sebanyak 110 lampion dipamerkan, hasil karya dari 79 seniman yang berasal dari berbagai latar belakang, termasuk seni rupa, musik, dan tari. Pameran ini mengajak seniman dari berbagai keahlian, gender, dan usia, mulai dari seniman pemula hingga profesional.
“Iluh Bali percaya bahwa semua orang berhak mendapatkan kesempatan berkesenian yang sama dan untuk selalu berbuat baik tanpa khawatir dengan sekat-sekat sosial yang ada,” ujar Dyah Ayu Wulandari, penanggung jawab Iluh Bali Art Group. Tema “Love Is Us” membawa harapan baik, yakni “Terberkatilah,” yang mengandung niat untuk saling mendoakan dan mendukung satu sama lain.
Semangat kolaborasi dan berbagi oleh para seniman dan semua pihak yang terlibat menunjukkan bahwa seni dapat menjadi media penghubung antar individu. “Seni tidaklah jauh dari hal-hal kemanusiaan yang dapat berdampak langsung kepada masyarakat,” lanjut Wulan.
Seluruh karya lampion dijual hingga 3 Agustus 2024, baik secara online maupun offline saat event UVJF berlangsung. Sebagian dari hasil penjualan akan disumbangkan kepada Yayasan Peduli Kanker Anak Bali (YPKABALI), yang telah membantu ratusan anak penderita kanker sejak berdiri pada tahun 2013. YPKABALI berkomitmen memberikan pengobatan dan perawatan terbaik, serta hak belajar dan bermain bagi anak-anak penderita kanker di Indonesia.
Dalam pameran ini, Wulan menampilkan karyanya berjudul “Momentum” dan “Lekat”. Seniman lainnya seperti Mira El Amir, Sandat Wangi, Kadek Novi Sumariani, dan banyak lagi juga turut berkontribusi dengan karya-karya mereka.
Ubud Village Jazz Festival sendiri telah menjadi destinasi jazz yang penting di Asia dan berperan sebagai magnet pariwisata, kreatif, dan edukasi musik jazz sejak 2013. Festival ini diorganisir oleh generasi muda lokal Bali, melibatkan berbagai bisnis lokal, dan mendukung konsep “go green” dengan melarang penggunaan plastik sekali pakai serta bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam pengolahan sampah.*** [BEKRAF/Agung Bawantara]