“SAYA seorang pengarang, sejak lama saya hidup dari tulisan dan buku”. Itu kalimat dari I Wayan Suardika, cerpenis dan novelis kawakan Bali saat Bekraf.id menyambangi kedai miliknya di Jalan Nangka No. 103 Denpasar pada Kamis (18/7/2024).
Suardika, beberapa tahun lalu mengalami sakit yang membuat ia kehilangan pendengaran. Namun, itu tidak membuat ia patah semangat atau putus asa. Bersama sang istri, sejak setahun lalu ia menyewa sebuah ruko dan mendirikan Pustaka Bali Seni, kedai kopi dan penganan yang juga menjual buku. Menurutnya, konsep kedai ini telah lama ada, sejak 2011.
“Kami ingin menularkan kegemaran membaca buku, terutama buku-buku karya penulis Bali. Disini juga dipajang lukisan dari para perupa, untuk menghubungkan pelukis dengan para kolektor,” kata Suardika.
Keinginan terbesar penulis senior Bali ini menjadikan Pustaka Bali Seni sebagai sebuah “banjar”, tempat berkumpulnya para seniman, budayawan dan pegiat serta peminat seni pada umumnya dari berbagai profesi. Dari obrolan lepas mereka, kata Suardika, akan muncul sumbangsih pemikiran untuk kemajuan Bali.
“Kami juga berfokus pada penjualan buku, pameran karya seni, membangun wacana seni sebagai wadah pergolakan pemikiran yang bisa ditulis dalam buku, newsletter atau buletin,” ucap Suardika yang juga pernah lama menjadi wartawan.
Dari sana, akan terwujud pemikiran secara multikultur dan interdisipliner yang menurutnya, sangat penting bagi Bali yang kaya akan budaya dan nilai-nilai tradisi.
Buku, kata Suardika, menjadi poin penting untuk mendokumentasikan dinamika dan dialektika dari mereka yang peduli terhadap Bali yang dilihatnya kini tidak baik-baik saja.
“Bahkan saja ada keinginan untuk menjajakan buku secara langsung ke taman-taman kota atau saat berlangsungnya car free day, sehingga masyarakat bisa langsung terhubung dengan buku,” harapnya.
Suardika menambahkan, ia ingin menjual buku berangkat dari perjalanan hidupnya sebagai seorang pengarang yang telah banyak menghasilkan karya seperti buku kumpulan cerpen dan novel.
“Saya juga pernah mengelola beberapa majalah seni, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Buku-buku karya saya juga mendapat respon yang baik dari pembaca. Kemampuan itu yang juga saya ingin bagi di Pustaka Bali Seni dengan misalnya membuat kelas menulis,” ujar lelaki kelahiran Denpasar, 15 April 1963 ini.
Selain itu, Pustaka Bali Seni juga ingin membantu penulis dan perupa untuk memasarkan karya-karya mereka. Sehingga, jika kita berkunjung ke kedai ini akan menjumpai buku-buku dan lukisan yang terpajang rapi dan indah. Sembari menikmati kopi atau minuman lain, pengunjung bisa membaca buku yang kini masih banyak peminatnya di tengah arus digitalisasi. *** [BEKRAF/Angga Wijaya]