Fri. Apr 4th, 2025

Suno AI : Mengolah Musik dalam Hitungan Detik

Di era di mana kecerdasan buatan (AI) terus berkembang, Suno AI muncul sebagai salah satu inovasi terkini yang mengubah cara kita memandang penciptaan musik. Disebut sebagai “ChatGPT untuk musik”, Suno AI dapat menciptakan lagu dalam berbagai genre dan gaya hanya dalam hitungan detik. Pengguna hanya perlu memasukkan beberapa petunjuk seperti genre musik, gaya, dan lirik, kemudian Suno akan menghasilkan lagu lengkap. ChatGPT sendiri adalah salah satu model AI generatif yang dikembangkan oleh OpenAI. Berdasarkan arsitektur GPT-4, ChatGPT mampu memahami dan menghasilkan teks manusia dengan tingkat koherensi dan kesesuaian konteks yang tinggi. Model ini dilatih menggunakan berbagai sumber teks dari internet, memungkinkan ChatGPT untuk menjawab pertanyaan, menulis esai, membuat cerita, dan melakukan percakapan yang mirip dengan interaksi manusia. Teknologi di balik ChatGPT juga menjadi dasar bagi pengembangan aplikasi AI lainnya, seperti Suno AI, yang mengkhususkan diri pada penciptaan musik. Keberhasilan ini tidak hanya menarik perhatian pengguna, tetapi juga menimbulkan perdebatan mengenai dampak AI terhadap industri musik.

Suno AI memiliki kemampuan luar biasa dalam menciptakan lirik dan melodi secara cepat. Contohnya, ketika diminta untuk membuat lagu pop tentang kopi sore, Suno menghasilkan lirik berikut:

Di kafe kecil, di tepi jalan
Kopi sore ini, jadi teman sejati
Setiap tegukan, cerita tercipta
Sore semakin indah, denganmu di sini

Meski sering kali lirik yang dihasilkan terdengar konyol atau dangkal, namun ada kalanya lirik tersebut cukup lucu dan menghibur.

Namun, meskipun teknologi ini canggih, hasil yang dihasilkan oleh Suno seringkali masih membutuhkan penyempurnaan. Para pengguna memiliki opsi untuk memasukkan lirik mereka sendiri dan mengarahkan genre musiknya, yang memungkinkan kolaborasi kreatif antara manusia dan mesin.

Dampak terhadap Industri Musik
Suno AI bukanlah ancaman langsung bagi musisi, melainkan alat yang dapat digunakan untuk mendemokratisasi penciptaan musik. Mikey Shulman, salah satu pendiri Suno, menegaskan bahwa tujuan Suno bukan untuk menggantikan artis, tetapi untuk membuat penciptaan musik lebih mudah diakses oleh banyak orang. Namun, kekhawatiran tetap ada di kalangan musisi profesional mengenai potensi penyalahgunaan teknologi ini.

Sejumlah artis terkenal seperti Elvis Costello, REM, Billie Eilish, Katy Perry, dan Jon Bon Jovi telah menandatangani surat terbuka yang menuntut perlindungan terhadap karya mereka dari AI. Mereka khawatir bahwa AI yang dilatih menggunakan karya mereka bisa digunakan untuk menciptakan musik yang menyerupai karya asli mereka tanpa memberikan kompensasi yang adil.

Tantangan dan Masa Depan
Suno AI, seperti teknologi generatif lainnya, menghadapi tantangan dalam hal hak cipta dan etika. Perusahaan ini mengklaim telah menanamkan tanda air yang tidak terdengar di setiap lagu yang dihasilkannya untuk memastikan musik AI dapat diidentifikasi. Meskipun demikian, perdebatan mengenai apakah AI dilatih menggunakan materi berhak cipta tanpa izin tetap menjadi isu utama.

Antonio Rodriguez, salah satu investor Suno AI, mengakui risiko bahwa label rekaman bisa menuntut perusahaan ini. Meski begitu, Suno berusaha berkomunikasi dengan label besar dan menghormati karya para artis. Penggunaan musik yang dihasilkan AI di platform streaming seperti Spotify juga menjadi pertanyaan, terutama mengenai bagaimana platform tersebut akan mengatur dan mengidentifikasi musik AI.*** [BEKRAF/Abe]

 

By Bekraf

Related Post