Sat. Mar 7th, 2026

Setelah Pembatasan Digital untuk Anak, Ke mana Arah Kreativitas?

 

Oleh : Ari SW – Arsitek, Kandidat Doktor, Pegiat Gerakan Ekonomi Kreatif dan Keberlanjutan

 

Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital mengambil langkah tegas di tengah situasi yang disebut sebagai “darurat digital” bagi anak-anak. Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengumumkan peraturan baru yang menunda sekaligus menonaktifkan akses akun media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun. Kebijakan tersebut dijadwalkan mulai diimplementasikan pada 28 Maret 2026.

Merespons pengumuman kebijakan tersebut, percakapan publik segera bergerak pada satu hal: pembatasan. Banyak orang membayangkan layar yang dimatikan, akun yang tidak bisa diakses, atau anak-anak yang harus menunggu hingga usia tertentu untuk masuk ke ruang digital tertentu. Namun di balik regulasi itu, ada pertanyaan lain yang mulai muncul: jika sebagian ruang digital ditunda, ruang apa yang akan mengisi waktu dan perhatian anak?

Pertanyaan ini menjadi menarik ketika dilihat dari sudut pandang ekonomi kreatif.

Selama satu dekade terakhir, kreativitas anak dan remaja berkembang sangat dekat dengan platform digital. Banyak bakat baru muncul dari video pendek, kanal kreator muda, atau berbagai eksperimen visual yang dilakukan dari kamar tidur mereka sendiri. Ketika akses terhadap platform tertentu mulai diatur, ekosistem kreatif pun perlahan ikut bergeser. Di titik inilah berbagai kemungkinan mulai terlihat.

Salah satu yang paling terasa adalah kembalinya perhatian pada buku anak dan cerita. Ketika waktu layar mulai dipertanyakan, banyak keluarga kembali pada sesuatu yang sederhana: membacakan cerita. Buku bergambar, komik anak, atau cerita pendek sebelum tidur kembali menemukan tempatnya. Indonesia memiliki ribuan cerita rakyat, legenda lokal, dan kisah-kisah kecil yang belum sepenuhnya dijelajahi dalam bentuk buku anak modern.

Di Bali, kemungkinan ini memiliki dimensi yang sedikit berbeda. Pulau ini memiliki tradisi cerita yang hidup dalam berbagai bentuk—mulai dari kisah-kisah dalam epos Ramayana dan Mahabharata yang dipentaskan dalam seni pertunjukan, hingga cerita rakyat yang diwariskan dalam lingkungan keluarga dan komunitas adat. Ketika perhatian anak tidak lagi sepenuhnya berada di layar, cerita-cerita tersebut dapat kembali menemukan ruangnya, baik dalam bentuk buku, pertunjukan dongeng, maupun kegiatan membaca bersama di sekolah atau perpustakaan.

Dari cerita, perhatian sering bergerak ke permainan dan aktivitas kreatif. Anak-anak Bali sebenarnya tumbuh dalam lingkungan budaya yang kaya dengan aktivitas komunal: latihan menari di banjar, belajar gamelan, membuat ogoh-ogoh bersama, hingga berbagai kegiatan seni yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dalam konteks seperti ini, pembatasan ruang digital tertentu dapat membuat aktivitas kreatif yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan budaya Bali kembali terasa relevan bagi generasi muda.

Bagi pelaku ekonomi kreatif di Bali, kondisi ini membuka ruang untuk mengembangkan berbagai kegiatan yang melibatkan anak secara langsung: kelas seni, workshop kerajinan tradisional, program menggambar atau menulis cerita, hingga kegiatan kreatif berbasis komunitas. Banyak studio seni dan komunitas kreatif di Bali sebenarnya sudah lama menjalankan kegiatan semacam ini, hanya saja kini ia menemukan konteks baru.

Namun peluang Bali tidak hanya berhenti pada ruang internal. Sebagai daerah yang dikenal sebagai salah satu pusat kreativitas di Indonesia, Bali juga memiliki potensi untuk menghadirkan produk kreatif anak yang menjangkau pasar di luar pulau. Cerita rakyat Bali, karakter dari dunia pewayangan, visual seni tradisional, atau kisah-kisah kehidupan desa dapat dikembangkan menjadi buku anak, permainan edukatif, maupun produk kreatif lainnya yang dapat dinikmati anak-anak di berbagai daerah.

Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai karya kreatif dari Bali mulai dari animasi, ilustrasi, hingga desain permainan, telah menunjukkan bahwa unsur budaya lokal dapat diterjemahkan ke dalam bentuk yang relevan bagi generasi muda. Dalam konteks pembatasan ruang digital bagi anak, karya-karya semacam ini dapat menemukan audiens yang lebih luas di luar Bali.

Dengan cara itu, ekonomi kreatif Bali tidak hanya berbicara tentang ruang kreativitas bagi anak-anak di pulau ini, tetapi juga tentang bagaimana cerita, simbol, dan pengalaman budaya Bali dapat hadir sebagai sumber inspirasi bagi anak-anak di berbagai tempat.

Perubahan regulasi digital sering kali memicu perdebatan tentang apa yang dibatasi dan apa yang diperbolehkan. Namun bagi sebagian pelaku ekonomi kreatif, perubahan tersebut juga membuka pertanyaan lain yang lebih menarik: jika perhatian anak tidak lagi sepenuhnya berada di layar, kegiatan apa yang dapat menghidupkan kembali rasa ingin tahu mereka?

Di Bali, kemungkinan jawaban atas pertanyaan itu tampaknya tidak terlalu jauh. Ia sudah lama hadir dalam cerita, permainan, dan aktivitas kreatif yang hidup di tengah masyarakat, menunggu untuk ditemukan kembali oleh generasi yang tumbuh di antara dunia digital dan dunia nyata. []

By Bekraf

Related Post